PADANG, Kompas.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas II Sumatera Barat menegaskan tidak ada istilah “El Nino Godzilla” dalam klasifikasi fenomena iklim yang berkembang di masyarakat. Penentuan kategori El Nino didasarkan pada pengukuran indeks suhu muka laut di Samudera Pasifik secara ilmiah.
Koordinator Analisis dan Prakiraan Stasiun Klimatologi Sumbar, Rodi Yunus, menjelaskan bahwa kategori El Nino hanya terbagi menjadi lemah, moderat, kuat, atau sangat kuat. “Kami tidak menggunakan istilah El Nino Godzilla,” ujar Rodi kepada Kompas.com, Senin (20/4/2026).
Kondisi Sumbar Masih Netral, Potensi El Nino Rendah
Hingga saat ini, kondisi iklim di Sumatera Barat terpantau masih dalam status netral. Meskipun ada potensi pergerakan menuju El Nino, hal tersebut masih berupa indikasi dan belum dapat dipastikan sepenuhnya.
“Sebenarnya ada atau tidak ada (El Nino saat ini), kondisinya hampir sama. Ini lebih kepada bentuk kewaspadaan agar masyarakat tahu istilah yang memengaruhi curah hujan kita,” tambah Rodi. Ia menekankan pentingnya masyarakat memahami istilah yang tepat untuk kewaspadaan iklim.
Dampak El Nino Diprediksi Tidak Signifikan di Sumbar
Secara teknis, dampak El Nino baru akan terasa signifikan jika indeks berada di atas 0,5 dan muncul dalam rentang puluhan hari hingga satu bulan setelah perubahan terjadi. Posisi Sumatera Barat yang jauh dari Samudera Pasifik membuat El Nino kategori lemah tidak akan memberikan dampak yang berarti.
Saat ini, intensitas hujan di wilayah tersebut masih tergolong normal. “Jika kondisinya lemah, tidak akan berdampak signifikan dalam menurunkan curah hujan di Sumbar. Prediksi kami, potensi El Nino moderat mungkin baru muncul pada bulan Mei,” jelas Rodi.
Waspada Kemarau dan Potensi Karhutla
BMKG mengingatkan bahwa indikator utama El Nino adalah kondisi kering yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Terkait suhu udara yang terasa lebih terik, Rodi menjelaskan hal itu lebih dipengaruhi oleh berkurangnya tutupan awan saat musim kemarau, bukan semata-mata karena El Nino.
“Saat kemarau, tutupan awan berkurang. Karena tidak ada awan, sinar matahari langsung mengenai permukaan sehingga terasa lebih terik. Namun, suhu di Sumbar sebenarnya tidak jauh berbeda antara musim hujan dan kemarau,” tuturnya.
BMKG memperkirakan Sumatera Barat baru akan memasuki awal musim kemarau pada Juni mendatang.
Pakar: Sumbar Relatif Aman dari Dampak El Nino
Terpisah, pakar cuaca dan iklim dari Universitas Negeri Padang (UNP), Nofi Yendri Sudiar, menyebut karakteristik iklim Sumatera Barat berbeda dibandingkan banyak wilayah lain di Indonesia. “Tidak semua daerah terdampak potensi El Nino kuat, salah satunya Sumatera Barat,” ujar Nofi.
Menurutnya, curah hujan di Sumbar yang bisa mencapai sekitar 200 milimeter per bulan serta pola musim ekuatorial membuat wilayah ini relatif lebih tahan terhadap dampak El Nino. Wilayah ekuatorial memiliki dua puncak musim hujan dalam setahun, yakni Maret-April dan Oktober-November. Sebaliknya, dampak El Nino diprediksi lebih terasa di wilayah berpola monsun seperti Lampung, Sumatera Selatan, Pulau Jawa, Kalimantan, Bali, hingga Papua.
“Jadi, daerah yang berpola monsun seperti Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan sebagian Sulawesi hingga Papua akan terdampak seperti mengalami kekeringan,” jelas Nofi.
Ia menambahkan, jika El Nino kuat terjadi pada 2026, potensi kekeringan di Sumatera Barat tetap ada, namun tidak akan sesignifikan daerah lain. Meskipun demikian, pemerintah dan masyarakat tetap diimbau waspada terhadap risiko musim kemarau, seperti gagal panen, gangguan kesehatan, hingga karhutla.





