Money

Career FOMO, Tren yang Mengubah Cara Gen Z Memilih Karier

Advertisement

Perkembangan pesat media sosial telah mengubah lanskap interaksi generasi muda, dan kini merambah ke cara mereka memandang dan meniti jenjang karier. Dulu hanya ruang untuk berbagi kehidupan personal, kini linimasa dipenuhi dengan berbagai pencapaian profesional, mulai dari promosi jabatan, perolehan sertifikasi, hingga keberhasilan proyek. Fenomena ini melahirkan konsep baru yang dikenal sebagai career FOMO (fear of missing out dalam karier), yang semakin mengemuka di kalangan Generasi Z.

Dampak dari fenomena ini cukup signifikan, memengaruhi pola pikir, pengambilan keputusan karier, bahkan kesehatan mental para profesional muda yang baru memasuki dunia kerja.

Apa Itu Career FOMO?

Secara mendasar, career FOMO merujuk pada perasaan cemas yang muncul ketika seseorang merasa tertinggal dalam perjalanan kariernya jika dibandingkan dengan orang lain. Laporan India Today, dikutip pada Senin (20/4/2026), menjelaskan fenomena ini sebagai ketakutan profesional yang timbul akibat paparan konstan terhadap pencapaian orang lain di media sosial.

Media sosial, yang semula menjadi platform berbagi kehidupan pribadi, kini bertransformasi menjadi panggung karier. Linimasa dipenuhi dengan pengumuman pekerjaan baru, prestasi akademik, hingga penghargaan profesional. Keberhasilan tidak hanya diraih, tetapi juga dipamerkan secara terbuka. Akibatnya, banyak individu, terutama Gen Z, merasakan tekanan untuk terus “mengejar” standar yang terpampang di layar gawai mereka.

Menurut laporan tersebut, career FOMO merupakan respons psikologis terhadap kebiasaan melihat pencapaian orang lain secara berulang. Dampaknya bukan sekadar rasa iri, melainkan memicu perbandingan diri, keraguan, dan dorongan untuk mengejar sesuatu tanpa arah yang jelas.

Media Sosial sebagai Pemicu Utama

Paparan informasi yang tiada henti di media sosial menjadi faktor dominan yang memperkuat fenomena ini. Gen Z, sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi digital, memiliki tingkat interaksi yang jauh lebih intens dengan media sosial dibanding generasi sebelumnya. Bagi mereka, media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan juga ruang untuk validasi diri.

Setiap pencapaian yang dipublikasikan orang lain secara implisit menciptakan standar sosial baru. Penelitian menunjukkan adanya korelasi kuat antara penggunaan media sosial dengan meningkatnya FOMO, kecenderungan membandingkan diri, serta tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Tekanan ini semakin diperparah oleh algoritma media sosial yang cenderung menampilkan konten relevan dan menarik, termasuk pencapaian karier, sehingga pengguna terus menerus terpapar pada “versi terbaik” kehidupan orang lain. Pertanyaan “Apakah saya sudah cukup?” kerap menghantui dalam situasi seperti ini.

Dampak terhadap Keputusan Karier

Career FOMO tidak hanya berhenti pada perasaan cemas, tetapi juga memengaruhi cara Gen Z mengambil keputusan terkait pekerjaan dan pengembangan diri. Fenomena ini kerap mendorong keputusan impulsif, seperti job hopping yang sering, bekerja berlebihan, atau mengikuti berbagai pelatihan tanpa arah yang jelas.

Dorongan untuk “tidak tertinggal” membuat individu cenderung mengejar banyak hal sekaligus, tanpa mempertimbangkan kesesuaian dengan tujuan jangka panjang. Dalam konteks perencanaan karier, FOMO terbukti berpengaruh pada pilihan studi dan profesi. Sebuah studi yang dipublikasikan di Contemporary Pediatric Dentistry menunjukkan bahwa FOMO dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan karier, terutama ketika dipengaruhi oleh kompetisi dan tekanan sosial. Akibatnya, arah karier menjadi kurang terstruktur dan lebih reaktif terhadap tren dibandingkan kebutuhan atau minat pribadi.

Advertisement

Kecemasan dan Tekanan Psikologis

Career FOMO memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan mental. Gen Z dilaporkan mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya, salah satunya akibat tekanan sosial dan digital. Paparan terus-menerus terhadap pencapaian orang lain menciptakan siklus perbandingan yang sulit dihentikan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kepercayaan diri dan meningkatkan stres. Penelitian lain menegaskan bahwa FOMO berdampak pada kesejahteraan Gen Z, terutama karena keterikatan mereka yang tinggi terhadap lingkungan digital dan media sosial. Tekanan ini tidak berdiri sendiri; Gen Z juga menghadapi tantangan lain seperti ketidakpastian ekonomi, perubahan pasar kerja, hingga disrupsi teknologi. Kombinasi faktor ini semakin memperkuat rasa tidak aman dalam perjalanan karier mereka.

Perubahan Makna Sukses bagi Gen Z

Fenomena career FOMO juga mencerminkan pergeseran cara pandang terhadap kesuksesan. Jika dulu kesuksesan kerap diukur dari stabilitas pekerjaan atau kenaikan jabatan, kini indikator tersebut semakin beragam. Paparan media sosial memperluas definisi sukses, mulai dari memiliki banyak sertifikasi, bekerja di perusahaan ternama, hingga memiliki side hustle yang berkembang.

Namun, karena standar ini terus berubah dan bervariasi, banyak individu merasa sulit menentukan tolok ukur yang jelas. Di sisi lain, akses informasi yang luas memberikan Gen Z lebih banyak pilihan karier dibanding generasi sebelumnya. Namun, banyaknya pilihan ini justru dapat menimbulkan kebingungan. Pertanyaan seperti “bidang apa yang harus dipilih?” atau “apakah saya sudah terlambat?” menjadi dilema umum yang dihadapi generasi ini.

Lingkaran Tanpa Akhir: Membandingkan dan Mengejar

Career FOMO menciptakan siklus yang berulang. Ketika seseorang melihat pencapaian orang lain, ia terdorong untuk mengejar hal serupa. Setelah mencapainya, ia kembali melihat pencapaian lain yang lebih tinggi, sehingga muncul rasa tertinggal lagi. Siklus ini diperkuat oleh sifat media sosial yang terus memperbarui informasi secara real-time. Setiap hari, selalu ada pencapaian baru yang muncul di linimasa.

Dalam kondisi ini, pencapaian pribadi sering kali terasa kurang signifikan karena selalu dibandingkan dengan pencapaian orang lain. Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan karier tidak lagi hanya berasal dari lingkungan kerja atau keluarga, tetapi juga dari ruang digital yang tidak memiliki batas.

Tantangan bagi Dunia Kerja dan Pendidikan

Career FOMO tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga menjadi tantangan bagi dunia kerja dan pendidikan. Perusahaan, misalnya, menghadapi generasi pekerja yang lebih dinamis namun juga lebih rentan terhadap ketidakpuasan. Institusi pendidikan perlu menghadapi mahasiswa yang semakin terdorong untuk mengejar berbagai pencapaian sekaligus.

Di sisi lain, perubahan ini juga mendorong munculnya kebutuhan akan pendekatan baru dalam pengembangan karier, yang tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pada kesiapan mental dan kemampuan mengelola ekspektasi. Career FOMO menjadi salah satu fenomena yang menggambarkan bagaimana transformasi digital memengaruhi dinamika karier generasi muda. Paparan media sosial yang intens, banyaknya pilihan karier, serta tekanan sosial yang terus meningkat membentuk cara Gen Z melihat dan menjalani perjalanan profesional mereka. Fenomena ini tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga tantangan baru yang perlu dipahami dalam konteks perubahan dunia kerja yang semakin kompleks.

Advertisement