JAKARTA, KOMPAS.com – Wilmar International memperkuat komitmennya dalam mendukung kesiapan kerja generasi muda melalui program magang industri. Program ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri, sejalan dengan dorongan pemerintah menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang siap pakai di tengah tuntutan industri yang dinamis.
Head of Human Capital Wilmar, Erlina Panitri, menekankan peran strategis program magang dalam mewujudkan konsep link and match antara pendidikan dan praktik kerja di lapangan. “Mahasiswa dapat lebih siap memasuki dunia kerja setelah lulus,” ujar Erlina dalam keterangan resminya pada Senin (20/4/2026).
Skema Magang Hingga Enam Bulan
Wilmar menawarkan dua skema dalam program magangnya. Pertama, program reguler dengan durasi maksimal tiga bulan. Kedua, program berbasis kompetensi yang dapat berlangsung hingga enam bulan. Pada skema berbasis kompetensi, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga dapat memanfaatkan program ini untuk menyelesaikan tugas akhir mereka.
“Melalui program ini, selain belajar langsung di lapangan, mereka dapat sekaligus menyelesaikan tugas akademiknya, sehingga lebih efisien dan aplikatif,” jelas Erlina. Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami proses kerja secara langsung dan mengasah keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi
Dalam pelaksanaannya, Wilmar telah menjalin kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan. Beberapa kampus yang terlibat antara lain Akademi Kimia Analis (AKA) Bogor, Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, Fakultas Agribisnis Institut Pertanian Bogor, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi, Universitas Widya Mandala Surabaya, serta Politeknik Industri Petrokimia Banten.
Kolaborasi ini bertujuan memperkuat keterkaitan antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan nyata di sektor industri, khususnya di bidang agribisnis dan pengolahan. Selain itu, sejak tahun lalu, perusahaan juga bekerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja dalam pelaksanaan program magang nasional melalui platform SiapKerja.
Peluang Kerja Lebih Besar
Erlina mengungkapkan bahwa mahasiswa yang mengikuti program magang cenderung lebih mudah mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Pengalaman kerja yang diperoleh selama magang dinilai menjadi nilai tambah signifikan bagi peserta saat memasuki pasar tenaga kerja.
“Umumnya, peserta magang dapat memperoleh pekerjaan dalam waktu relatif singkat setelah wisuda, bahkan ada yang langsung direkrut oleh perusahaan,” kata Erlina. Hal ini menunjukkan bahwa program magang tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga menjadi pintu masuk yang efektif menuju dunia kerja.
Komitmen Pengembangan SDM
Ke depan, Wilmar menyatakan akan terus mengembangkan program magang sebagai bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung pengembangan SDM unggul dan peningkatan daya saing tenaga kerja Indonesia. Program ini diharapkan dapat terus memperluas dampaknya bagi mahasiswa dan dunia industri melalui peningkatan kualitas pengalaman kerja yang relevan dan aplikatif.





