Regional

Dampak Harga Dexlite, Pengguna Mobil Diesel di Padang Mulai Irit BBM

Advertisement

PADANG, KOMPAS.com – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, khususnya Dexlite, mulai mengubah kebiasaan konsumsi BBM para pemilik kendaraan diesel di Kota Padang. Sejumlah pengguna kini memilih untuk mengisi BBM lebih sedikit atau beralih ke solar bersubsidi yang harganya lebih terjangkau.

Adi (51), salah seorang pengguna mobil Mitsubishi Pajero Sport, mengaku mulai melakukan penghematan sejak harga Dexlite mengalami kenaikan signifikan. Kebiasaan mengisi tangki hingga penuh kini ia ubah menjadi hanya setengah.

“Sekarang belum terlalu terasa ke saya dampak ekonominya. Tapi memang saya agak ngirit, biasanya bisa isi penuh, sekarang cuma setengah. Jadi kita ngirit-ngirit saja,” ujar Adi saat ditemui di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Marapalam, Padang, Senin (20/4/2026).

Sebelumnya, Adi biasa mengisi penuh tangki mobilnya yang berkapasitas sekitar 68 liter. Dengan harga Dexlite lama yang berada di kisaran Rp 14.800 per liter, ia harus merogoh kocek sekitar Rp 1 juta untuk satu kali pengisian. Kini, setelah harga Dexlite melonjak menjadi Rp 24.650 per liter, pengisian setengah tangki saja sudah menghabiskan biaya sekitar Rp 800.000.

“Ya, kita ikuti saja kebijakan pemerintah,” katanya.

Adi menambahkan, ia tengah bersiap untuk melakukan perjalanan ke Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, bersama istrinya. “Ini mau berangkat ke Bungo, ada urusan. Jadi sekalian isi BBM di sini,” tuturnya.

Penurunan Konsumsi Dexlite Terjadi Signifikan

Operator SPBU di kawasan Kubu Marapalam, Sastia, mengkonfirmasi adanya dampak kenaikan harga Dexlite terhadap penurunan konsumsi BBM jenis tersebut. Menurutnya, kendaraan diesel seperti Toyota Kijang Innova, yang sebelumnya rutin menggunakan Dexlite, kini sangat jarang terlihat melakukan pengisian.

Advertisement

“Biasanya Innova isi penuh sekitar 60 liter, dulu cuma habis Rp 700.000 sampai Rp 800.000. Sekarang sudah sangat jarang yang isi Dexlite,” ungkap Sastia.

Ia mencatat, dalam dua hari terakhir, hanya satu kendaraan yang tercatat mengisi Dexlite di SPBU tempatnya bekerja. Situasi ini berbanding terbalik dengan lonjakan antrean kendaraan yang mengisi Biosolar.

Antrean Biosolar Mengular Akibat Peralihan Pengguna

Kenaikan harga BBM non-subsidi juga mendorong sejumlah pengguna kendaraan diesel untuk beralih ke solar bersubsidi. Hal ini terlihat dari mengularnya antrean kendaraan di SPBU yang menyediakan Biosolar, bahkan hingga keluar area pengisian.

“Banyak yang beralih ke solar, makanya antrean jadi panjang. Tapi masih lancar,” ujar Sastia.

Ia menjelaskan, stok Biosolar di SPBU tersebut biasanya mencapai rata-rata 16 kiloliter (KL) atau 16.000 liter per hari dan seluruhnya habis dalam satu hari. Namun, pada hari itu, pasokan yang diterima hanya sebanyak 8 KL.

Kenaikan harga BBM non-subsidi, termasuk Dexlite, mulai berlaku sejak Sabtu (18/4/2026). Di Kota Padang, harga Dexlite mengalami kenaikan paling tinggi, dari semula sekitar Rp 14.800 per liter menjadi Rp 24.650 per liter.

Advertisement