Regional

Dexlite Sepi Peminat Usai Harga Naik, Antrean Solar di Padang Meluber ke Jalan

Advertisement

PADANG – Lonjakan antrean kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 14.251.522, Jalan Dr. Sutomo, Kelurahan Kubu Marapalam, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, pada Senin (20/4/2026) menjadi pemandangan yang tak biasa. Antrean kendaraan bermesin diesel meluber hingga ke luar area SPBU, sebuah fenomena yang menurut operator setempat, Sastia, baru terjadi dalam dua hari terakhir menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Dexlite.

Sastia menjelaskan bahwa peralihan konsumen dari BBM nonsubsidi ke Biosolar yang lebih terjangkau menjadi penyebab utama membeludaknya antrean. “Banyak yang beralih ke solar, makanya hari ini antrean penuh. Biasanya tidak sampai keluar SPBU, sekarang sudah sampai luar, tetapi masih lancar,” ujar Sastia kepada Kompas.com, Senin (20/4/2026).

Dampak Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi

Fenomena ini terutama terlihat pada kendaraan diesel pribadi. Sastia merinci, mayoritas pengguna kendaraan seperti Kijang Innova yang sebelumnya setia menggunakan Dexlite kini memilih Biosolar untuk menekan biaya operasional. “Rata-rata mobil diesel seperti Kijang Innova yang biasanya pakai Dexlite sekarang pindah ke solar karena cari yang lebih murah,” tuturnya.

Kenaikan harga yang signifikan membuat penjualan Dexlite di SPBU tersebut anjlok drastis. Jika sebelumnya Dexlite menjadi pilihan favorit, kini permintaannya menurun drastis. “Sekarang bisa dibilang hampir tidak ada yang beli Dexlite. Paling satu mobil sehari. Padahal sebelum harga naik, banyak yang isi Dexlite,” ungkap Sastia.

Harga Dexlite di SPBU tersebut kini mencapai Rp 24.650 per liter, melonjak tajam dari harga sebelumnya yang berkisar Rp 14.800 per liter. Lonjakan harga ini berdampak langsung pada keputusan konsumen.

Di sisi lain, pasokan Biosolar yang diterima SPBU tersebut juga menjadi perhatian. Biasanya, SPBU ini menerima pasokan sekitar 16 kiloliter (KL) atau 16.000 liter per hari, yang umumnya habis dalam kurun waktu tersebut. Namun, pada hari distribusi yang dipantau, pasokan hanya mencapai 8 KL. “Biasanya kami minta 16 KL per hari, tetapi hari ini hanya masuk 8 KL dari Pertamina. Siang ini saja stok sudah tinggal setengah,” jelas Sastia.

Advertisement

Tak hanya pengguna BBM jenis solar, konsumen kendaraan bensin pun turut terpengaruh. Kenaikan harga Pertamax Turbo yang juga mengalami kenaikan membuat sebagian konsumen beralih ke Pertamax yang harganya lebih rendah.

Perubahan Pola Konsumsi di Tingkat Nasional

Kenaikan harga BBM nonsubsidi memang telah diberlakukan sejak Sabtu (18/4/2026). Kenaikan tertinggi dialami oleh Dexlite dan Pertamina Dex, yang masing-masing melonjak hingga Rp 9.400 per liter. Di wilayah DKI Jakarta, Pertamina Dex kini dijual seharga Rp 23.900 per liter, naik dari Rp 14.500. Sementara itu, Dexlite dibanderol Rp 23.600 per liter, dari sebelumnya Rp 14.200.

Pertamax Turbo juga mengalami penyesuaian harga menjadi Rp 19.400 per liter, naik dari Rp 13.100 per liter. Namun, harga BBM jenis lain seperti Pertamax (RON 92) tetap stabil di Rp 12.300 per liter, Pertamax Green 95 di Rp 12.900 per liter. BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar juga masih dipertahankan pada harga Rp 10.000 dan Rp 6.800 per liter.

Kondisi ini secara umum menunjukkan adanya pergeseran preferensi konsumen terhadap bahan bakar yang lebih ekonomis pasca kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Advertisement