JAKARTA, Kompas.com – Di tengah hiruk-pikuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SNBT 2026 yang telah dimulai sejak 21 April, hadir potret pengorbanan orang tua yang rela meninggalkan rutinitas demi mendampingi buah hati mereka. Di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), salah satu lokasi pelaksanaan tes, para orang tua tampak setia menunggu di area kampus.
Pantauan Kompas.com pada Selasa (22/4/2026) siang, puluhan orang tua terlihat memadati tenda yang disediakan panitia, bahkan beberapa duduk di selasar gedung ujian. Mereka mengisi waktu sembari menunggu durasi tes yang memakan waktu hingga tiga jam, sebagian dengan beristirahat atau sekadar bermain ponsel.
Salah seorang ayah, Rahmat Fuadi (48), warga Bekasi, mengaku harus mengambil cuti kerja selama sehari penuh. Baginya, mendampingi sang anak mengikuti UTBK adalah prioritas utama. “Kalau saya ya demi anak, ambil cuti kerja dulu satu hari ini. Enggak bisa kalau enggak cuti. Biarinlah, kita demi anak, izin saja dulu untuk satu hari,” ujar Rahmat saat ditemui di UNJ, Rabu.
Rahmat menjelaskan, anaknya memiliki ambisi besar untuk melanjutkan pendidikan di jurusan kesehatan Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Persiapan sang anak, menurutnya, sangatlah intensif, bahkan berbarengan dengan ujian di pondok pesantren tempatnya menimba ilmu.
“Kalau persiapan sih sebenarnya saya kasihan juga sama dia. Ya, benar-benar panas ini otaknya dia. Memang berbarengan dengan ujian pondok, ujian pondok pesantren itu berbarengan,” ungkap Rahmat.
Ia menambahkan, anaknya yang masih menetap di pondok pesantren di Bogor, harus meminta izin khusus untuk mengikuti UTBK. “Iya di pondok. Semalam baru dijemput karena lagi ujian-ujian praktik di sana. Selesai ujian di UNJ langsung pulang ke Bekasi rumah saya, habis itu diantar ke Bogor,” terangnya.
Dedikasi Penjual Ayam Bakar
Pengorbanan serupa juga datang dari Sutoyo (59), seorang penjual ayam bakar di Jakarta Timur. Ia rela menutup sementara lapaknya demi mendampingi anak pertamanya yang mengikuti tes di UNJ.
“Ya sementara ini libur, ya nungguin anak. Biar ada semangat lah, ngasih spirit gitu. Awalnya mau pulang, tapi anaknya minta ditemani jadi ya bertahan di sini,” tutur Sutoyo.
Sutoyo menceritakan, setelah sebelumnya belum berhasil lolos melalui jalur prestasi, anaknya semakin termotivasi untuk belajar dan tak jarang mengikuti tryout setiap hari, bahkan terkadang dua kali dalam sehari.
“Ya kalau persiapan sih ya biasa, kayak itu, sama dari modul-modul yang itu, yang dari les-les itu, terus try out itu tiap hari. Kadang belakangan ini malah sehari bisa dua kali tryout,” jelas Sutoyo.
Anak Sutoyo berencana mendaftar di jurusan Biologi Murni dan Pendidikan Biologi di UNJ. Kekhawatiran Sutoyo bertambah mengingat anaknya adalah satu-satunya buah hati. “Harapannya lolos, karena khawatir juga kalau kuliah ke luar kota kuliahnya, anak satu-satunya,” imbuhnya.






