Amerika Serikat menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran, Touska, yang diduga mencoba menembus blokade angkatan laut di sekitar Selat Hormuz. Insiden ini terjadi hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada 22 April 2026.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan penyitaan tersebut melalui media sosial pada Minggu (19/4/2026). Menurut Trump, kapal kargo berbendera Iran itu telah diabaikan peringatan dari kapal perusak rudal berpemandu Angkatan Laut AS di Teluk Oman untuk berhenti.
“Hari ini, sebuah kapal kargo berbendera Iran bernama TOUSKA, dengan panjang hampir 900 kaki dan berat hampir sama dengan kapal induk, mencoba melewati blokade angkatan laut kita, dan itu tidak berjalan baik bagi mereka,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya, seperti dikutip dari BBC.
Trump menambahkan bahwa Angkatan Laut AS telah memberikan peringatan yang cukup kepada kapal tersebut, namun peringatan itu diabaikan. “Angkatan Laut AS langsung menghentikan kapal tersebut dengan membuat lubang di ruang mesin,” lanjutnya.
Kapal Touska diketahui berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS karena riwayat aktivitas ilegalnya di masa lalu. “Kami memiliki kendali penuh atas kapal tersebut, dan sedang memeriksa apa yang ada di dalamnya!,” tegas pernyataan tersebut.
Komando Pusat AS kemudian merilis rekaman yang diduga menunjukkan sebuah kapal angkatan laut mencegat kapal kargo tersebut, di mana sebuah senjata terlihat ditembakkan ke arah kapal kargo. Menurut laporan Aljazeera, Marinir AS telah mengamankan kapal dan melakukan pemeriksaan.
Komando Pusat AS menyatakan kapal Touska sedang menuju pelabuhan Bandar Abbas di Iran dan telah mengabaikan sejumlah peringatan dari pihak AS selama enam jam, termasuk perintah untuk mengosongkan ruang mesin.
Iran Ancam Balasan, Negosiasi Terancam Buntu
Serangan terhadap kapal kargo Iran ini terjadi di tengah situasi yang semakin memanas menjelang berakhirnya tenggat gencatan senjata. Insiden ini berpotensi menggagalkan upaya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mengumumkan rencana pengiriman timnya ke Islamabad untuk membuka peluang pembicaraan dengan Iran. Namun, sumber dari Iran menyatakan bahwa Teheran tidak akan berpartisipasi dalam negosiasi selama Amerika Serikat belum mencabut blokade.
Proses perundingan masih berjalan alot dan belum ada kepastian mengenai jadwal putaran kedua pembicaraan. Pada Senin (20/4/2026) pagi, komando militer gabungan tertinggi Iran mengeluarkan pernyataan keras.
“Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera menanggapi dan membalas pembajakan bersenjata yang dilakukan oleh militer AS ini,” kata seorang juru bicara Khatam al-Anbiya. Iran menilai tindakan AS menembaki kapal dagang Iran yang sedang menuju dari China ke Iran sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang dicapai awal bulan ini.
Situasi Selat Hormuz Masih Memanas
Perkembangan ini terjadi di tengah kebuntuan di Selat Hormuz, sebuah jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Situasi semakin memanas akibat ancaman dari Iran dan blokade AS terhadap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran.
Pejabat Iran sebelumnya pada Minggu (19/4/2026) menegaskan bahwa kapal-kapal tidak akan bisa melintasi selat tersebut selama blokade AS yang telah diberlakukan sejak 13 April masih berlangsung.
“Tidak mungkin bagi negara lain untuk melewati Selat Hormuz sementara kita tidak bisa,” kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Iran sempat mengumumkan pembukaan kembali selat itu setelah gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan kelompok Hizbullah Lebanon mulai berlaku pada Jumat (17/4/2026). Namun, Iran menegaskan akan tetap memberlakukan pembatasan di kawasan tersebut setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa blokade AS akan tetap berlaku sepenuhnya hingga Teheran mencapai kesepakatan dengan Washington.






