BANYUWANGI, JATIM – Desa Banjar di kaki Gunung Ijen, Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jawa Timur, tidak hanya memanjakan pengunjung dengan kesejukan udara pegunungannya, tetapi juga menyajikan kekayaan kuliner tradisional melalui festival unik bertajuk “Janda Reni”. Lebih dari sekadar ajang santap, perayaan ini meresapi filosofi hidup masyarakat Osing yang terbungkus dalam kelezatan Sego Lemeng dan sensasi Kopi Uthek.
Nama “Janda Reni” yang terdengar nyentrik bagi sebagian orang, menurut tokoh adat setempat, Lukman Hakim, memiliki akar kuat pada tradisi pertanian pohon aren di Desa Banjar. “Reni yang dimaksud di sini adalah nama dari bunga aren. Lalu Janda atau Rondo tersebut merupakan proses megat atau pemisahan. Jadi Janda Reni ini merupakan proses pemisahan bunga aren,” jelas Lukman.
Sego Lemeng, Simbol Kesabaran dalam Budaya Lokal
Bintang utama festival ini, Sego Lemeng, bukanlah nasi bakar biasa. Proses pembuatannya yang memakan waktu empat jam di atas kayu bakar menuntut kesabaran ekstra, sebuah kontras dengan budaya serba cepat masa kini. Nasi yang telah dibumbui dan dicampur dengan cacahan ayam atau ikan tuna, kemudian dibungkus daun pisang dan dimasukkan ke dalam bambu muda. Bambu tersebut dibakar hingga aroma rempah meresap sempurna.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang turut hadir dalam festival pada Jumat (19/4/2026), mengapresiasi upaya warga dalam menjaga warisan kuliner ini. “Masyarakat Banyuwangi memiliki akar yang kuat pada tradisi, tidak hanya seni dan budaya tapi juga kulinernya,” ujar Ipuk. Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah berkomitmen melestarikan tradisi ini dengan menjadikannya sebagai bagian dari atraksi wisata yang menarik.
Kopi Uthek dan Gula Aren: Perpaduan Filosofis Kehidupan
Menikmati Sego Lemeng yang gurih terasa belum lengkap tanpa ditemani Kopi Uthek. Keunikan kopi ini terletak pada cara penyajiannya: pengunjung diminta menggigit potongan gula aren keras terlebih dahulu sebelum menyeruput kopi hitam panas. Suara “uthek” yang timbul dari benturan gigi dengan gula aren menjadi asal-usul penamaan minuman ini.
Menurut Kepala Desa Banjar, Sunandi, perpaduan Sego Lemeng dan Kopi Uthek memiliki makna filosofis mendalam. “Kopi Uthek yang bersanding dengan gula aren mengandung makna pahit manisnya kehidupan, sementara Sego Lemeng makanan yang menjaga perut tetap kenyang,” terangnya.
Festival Janda Reni di Desa Banjar berhasil memukau ribuan pengunjung yang memadati jalanan desa. Aroma bambu terbakar yang menyeruak di udara pegunungan yang dingin menjadi latar belakang kemeriahan. Salah seorang wisatawan asal Sidoarjo, Edy, mengungkapkan kekagumannya terhadap perpaduan rasa yang ia temukan. “Perpaduan rasa gurih Sego Lemeng yang legit dan sensasi pahit-manis ini menciptakan sensasi yang tak terlupakan di lidah. Keduanya cocok dipadukan,” ungkapnya.






