Harga minyak dunia melonjak tajam lebih dari 5 persen pada penutupan perdagangan Senin (20/4/2026), menembus level 95,46 dollar AS per barrel untuk Brent, dipicu oleh kekhawatiran memudarnya harapan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Kenaikan signifikan ini terjadi setelah AS menyita sebuah kapal kargo Iran yang diduga mencoba menembus blokade, yang kembali memperkeruh situasi lalu lintas di Selat Hormuz. Minyak Brent tercatat naik 5,08 dollar AS atau 5,62 persen menjadi 95,46 dollar AS per barrel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 5,04 dollar AS atau 6,01 persen ke angka 88,89 dollar AS per barrel.
Pergerakan harga ini berbanding terbalik dengan situasi pada Jumat (17/4/2026) pekan lalu, ketika harga minyak sempat anjlok hingga 9 persen, penurunan harian terbesar sejak 18 April 2026. Kala itu, pasar sempat merespons positif pernyataan Iran yang membuka jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran sepakat untuk tidak lagi menutup selat tersebut, yang merupakan jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia, sempat memberikan sentimen positif.
Ketidakpastian Kembali Meningkat
Namun, optimisme tersebut buyar seiring memanasnya kembali konflik dan penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran. Ketegangan meningkat setelah Iran mengancam akan membalas penyitaan kapal oleh AS, menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi menjadi konflik terbuka.
Nikos Tzabouras, analis pasar dari Tradu, menilai situasi di Selat Hormuz masih sangat tidak stabil. Ia berpendapat bahwa tenggat waktu gencatan senjata yang semakin dekat dan ketidakpastian pencapaian kesepakatan berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi. “Faktor-faktor ini bisa mendorong harga minyak naik lebih jauh, dan bahkan jika tercapai penyelesaian, akan sulit bagi harga untuk kembali ke level sebelum perang karena pasokan tidak mungkin pulih dalam semalam,” ujar Tzabouras.
Di sisi lain, seorang pejabat senior Iran menyatakan negaranya tengah mempertimbangkan untuk menghadiri pembicaraan damai, meski belum ada keputusan final. Di saat yang sama, Trump sendiri belum memastikan apakah akan memperpanjang gencatan senjata tersebut.
Volatilitas Pasar Berlanjut
Phil Flynn, analis dari Price Futures Group, memperkirakan volatilitas pasar akan terus berlanjut, meskipun harga belum menembus level 100 dollar AS per barrel. “Volatilitas akan terus berlanjut, tetapi meskipun ketegangan meningkat, harga WTI masih di bawah 100 dollar AS per barel dan harga bensin cenderung menurun,” katanya.
Data pelayaran memperkuat gambaran terbatasnya aktivitas di Selat Hormuz. Pada Senin (20/4/2026), hanya tercatat tiga kapal yang melintas dalam kurun waktu 12 jam. Angka ini jauh berbeda dibandingkan pada Sabtu (18/4/2026), saat selat tersebut dibuka, di mana lebih dari 20 kapal tercatat melintas membawa berbagai komoditas seperti minyak, LPG, logam, dan pupuk. Pergerakan tersebut merupakan yang tertinggi sejak awal Maret 2026.






