Money

Harga Minyak Naik, Mendag: CPO Ada, tapi Plastiknya Mahal

Advertisement

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengidentifikasi tingginya harga plastik sebagai penyebab utama kenaikan harga minyak goreng kemasan premium di pasaran. Budi memastikan bahwa ketersediaan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) sebagai bahan baku utama minyak goreng tidak menjadi persoalan.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, rata-rata harga minyak goreng premium secara nasional per hari ini telah mencapai angka Rp 21.796 per liter. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan dengan harga pada 25 Maret lalu yang tercatat Rp 21.237 per liter.

“Kalau kesediaan minyaknya enggak ada masalah, tetapi kan tadi faktor dari plastiknya,” ujar Budi saat ditemui di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Penyebab Kenaikan Harga Plastik

Budi Santoso menegaskan bahwa persoalan tingginya harga plastik harus segera diatasi. Kementerian Perdagangan terus menjalin komunikasi intensif dengan para pelaku industri plastik. Menurut Budi, industri plastik masih terus berproduksi, namun menghadapi kendala dalam mendapatkan bahan baku impor.

“Karena tadi saya bilang yang kebanyakan faktornya karena dari plastik. Nah ini yang plastik juga harus diselesaikan,” kata Budi.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini berharap produksi plastik dapat berjalan lancar tanpa hambatan. Ia optimistis bahwa ketika pasokan bahan baku dan proses produksi kembali normal, harga plastik di pasar akan mengalami penurunan.

Advertisement

“Jangan sampai juga nanti distribusinya tetap mahal karena kalau produksi sudah normal, distributor juga harus menyesuaikan,” tutur Budi.

Dampak pada Harga Minyak Goreng Curah dan MinyaKita

Selain minyak goreng kemasan premium, kenaikan harga juga terjadi pada minyak goreng curah. Per 21 April, harga minyak goreng curah terpantau di angka Rp 19.474 per liter, naik dari Rp 18.975 per liter pada 25 Maret.

Sementara itu, minyak goreng program pemerintah, MinyaKita, juga mengalami sedikit kenaikan. Rata-rata harga MinyaKita per 21 April tercatat Rp 15.942 per liter, meningkat dari Rp 15.888 per liter pada 25 Maret.

Keterkaitan Plastik dengan Industri Petrokimia Global

Mahalnya harga plastik disebabkan oleh kesulitan produsen dalam memperoleh bahan baku. Plastik diproduksi dari nafta, sebuah produk petrokimia yang berasal dari minyak bumi. Sekitar 70 persen pasokan nafta di pasar global berasal dari negara-negara Teluk.

Namun, konflik yang terjadi di kawasan tersebut telah mengakibatkan penutupan jalur distribusi melalui Selat Hormuz, yang berdampak pada terputusnya rantai pasok bahan baku tersebut. Saat ini, industri plastik tengah berupaya mendatangkan nafta dari negara-negara lain seperti India, Afrika, dan Amerika Serikat.

Advertisement