Money

Jangan Salah, Besaran Dana Darurat yang Harus Dimiliki Jomblo, Sandwich Generation, dan Berkeluarga Berbeda

Advertisement

Besaran dana darurat yang ideal ternyata berbeda-beda, tergantung pada status pernikahan, tanggungan keluarga, hingga posisi finansial seseorang. Financial Literacy Specialist, Ayu Sara Herlia-Hinch, menekankan bahwa dana darurat bukan sekadar tabungan biasa, melainkan benteng perlindungan dari berbagai kondisi tak terduga, mulai dari kehilangan pekerjaan, biaya pengobatan, hingga perbaikan mendesak.

“Dana darurat itu adalah sejumlah uang yang kita siapkan untuk menghadapi kondisi darurat yang tidak terduga. Yang besarannya ini tergantung dengan kita seperti apa kondisinya,” ujar Ayu dalam acara Webinar Perayaan Hari Kartini 2026, Selasa (21/4/2026).

Ragam Besaran Dana Darurat Sesuai Kondisi

Ayu merinci besaran dana darurat yang ideal untuk setiap individu:

  • Jomblo Tanpa Tanggungan: Minimal tiga kali pengeluaran bulanan atau tiga kali gaji.
  • Jomblo Sandwich Generation: Sekitar 3-6 kali gaji.
  • Menikah Tanpa Anak: Minimal enam kali gaji bulanan.
  • Menikah Tanpa Anak (dengan kondisi finansial lebih baik): Sekitar 6-9 kali gaji.
  • Menikah dengan Anak (Bukan Sandwich Generation): Sekitar 6-9 kali gaji.
  • Menikah dengan Anak dan Sandwich Generation: Sebesar 9-12 kali gaji.

Strategi Alokasi Dana Darurat

Untuk mengumpulkan dana darurat, Ayu menyarankan alokasi sekitar 5 persen dari pendapatan bulanan. Angka ini dianggap sudah optimal jika memungkinkan.

“Kalau nabung untuk dana darurat atau dana-dana yang lain, kalau misalkan kita bisa menyisihkan 5 persen dari pendapatan kita, itu udah oke,” tuturnya.

Advertisement

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya memisahkan alokasi dana darurat dengan perlindungan lain seperti asuransi. Porsi untuk asuransi atau perlindungan kesehatan idealnya maksimal 10 persen dari pendapatan.

Minimal, setiap individu disarankan memiliki BPJS Kesehatan sebagai jaminan saat membutuhkan layanan medis. Ayu mencontohkan, tanpa asuransi, biaya pengobatan sebesar Rp 20 juta akibat kecelakaan bisa menguras tabungan jika belum memadai.

“Sekalinya kita enggak punya asuransi, kita sehat-sehat aja nih pada suatu hari, tiba-tiba kita jatuh dari motor, patah tulang, harus dioperasi Rp 20 juta. Kalau kita punya asuransi itu dibayarin sama asuransi, tapi kalau misalkan kita enggak punya asuransi, iya sih bisa pakai tabungan. Kalau tabungannya belum ada gimana?” pungkasnya.

Advertisement