JAKARTA, KOMPAS.com – Percepatan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi korban banjir bandang dan longsor di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, terus digenjot. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan 70 unit huntap di Desa Dolok Nauli rampung dan siap dihuni pada Mei 2026.
Kepala BNPB Suharyanto menyatakan, upaya percepatan ini merupakan langkah krusial untuk mendukung relokasi para pengungsi yang terdampak bencana dahsyat pada November tahun lalu. “Sudah ada calon penghuninya. Ini yang tahap awal ada 70 unit, insyaallah di bulan Mei 2026 sudah jadi 100 persen dan bisa segera ditempati,” ujar Suharyanto dalam keterangan video pada Senin (20/4/2026).
Ia menambahkan, pembangunan tidak berhenti pada tahap awal. Sebanyak 33 unit rumah lainnya kini tengah dalam proses konstruksi sebagai bagian dari tahap kedua.
“Saat ini, 33 unit rumah berikutnya juga sudah mulai dibangun sebagai kelanjutan tahap kedua,” jelas Suharyanto.
Kolaborasi dengan Yayasan Buddha Tzu Chi
Seluruh pembangunan huntap ini merupakan hasil kolaborasi erat antara BNPB dengan Yayasan Buddha Tzu Chi. Setiap unit rumah dirancang untuk memberikan kenyamanan maksimal bagi penghuninya, dilengkapi dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, serta dapur yang terintegrasi dengan area cuci piring di bagian belakang. Lantai keramik dan taman kecil di bagian depan rumah turut menambah estetika dan fungsionalitas.
BNPB secara tegas memastikan bahwa seluruh lokasi pembangunan huntap berada di kawasan yang aman, bebas dari potensi ancaman banjir dan tanah longsor. Selain itu, bangunan dirancang dengan standar ketahanan gempa, menggunakan material berkualitas seperti bata merah, fondasi batu kali, dan tulangan besi untuk memperkuat struktur bangunan.
Huntap ini diperuntukkan bagi warga terdampak bencana di Tapanuli Utara yang saat ini terpaksa tinggal sementara, baik menumpang di rumah kerabat maupun warga lainnya. Sebagai bentuk dukungan, mereka telah menerima Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp 600.000 per kepala keluarga (KK) selama menunggu hunian permanen selesai dibangun.
Suharyanto menargetkan agar seluruh warga terdampak dapat direlokasi ke hunian tetap paling lambat pada bulan Juni 2026. “Kita harapkan pada bulan Juni mendatang seluruh warga sudah bisa pindah ke hunian tetap ini, sehingga pemberian DTH tidak perlu diperpanjang lagi,” tandasnya.






