Kegagalan lelang yang berulang kali pada proyek Jalan Tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap (Getaci) memicu sorotan tajam terhadap strategi pembangunan infrastruktur pemerintah. Proyek yang digadang-gadang sebagai tol terpanjang di Indonesia ini dinilai kehilangan daya tarik bagi investor, sehingga memerlukan perubahan skema agar tidak terbengkalai.
Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (Pukis) mencatat, Tol Getaci telah dua kali gagal dalam proses lelang. Pada kesempatan pertama, konsorsium pemenang tidak mampu memenuhi kewajiban pembiayaan. Sementara itu, pada lelang kedua, tidak ada satu pun investor yang menyatakan minat.
Direktur Eksekutif Pukis, MM Gibran Sesunan, menegaskan bahwa mandeknya proyek ini memiliki dampak serius. Tanpa investor, Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) tidak dapat terbentuk, yang berakibat pada kelumpuhan perencanaan teknis, pendanaan konstruksi, hingga penyediaan dana talangan lahan.
“Proyek ini tidak laku karena pemerintah gagal menawarkan formula yang menarik bagi investor. Percuma terus-menerus dilelang ulang jika tidak ada perubahan strategi pembangunan dan pengusahaan,” ujar Gibran, dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (20/4/2026).
Hitungan Kelayakan yang Tidak Sinkron
Penyebab utama minimnya minat badan usaha terletak pada ketimpangan antara kebutuhan investasi yang masif dan proyeksi pendapatan yang tidak seimbang. Tol Getaci membutuhkan modal yang sangat besar, namun proyeksi volume lalu lintas diprediksi tidak merata.
Gibran memperkirakan kepadatan kendaraan hanya akan tinggi pada ruas Gedebage hingga Tasikmalaya. Sementara itu, segmen Tasikmalaya menuju Cilacap diprediksi memiliki volume lalu lintas yang sangat rendah.
Situasi ini diperparah oleh iklim investasi infrastruktur yang sedang lesu. Para pemodal kini cenderung lebih selektif karena anggaran negara dalam APBN tidak lagi memprioritaskan jalan tol di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Guna menyelamatkan konektivitas antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, Gibran memberikan tiga rekomendasi taktis bagi pemerintah.
Rekomendasi Gibran untuk Tol Getaci
-
Revisi Lingkup Proyek: Membelah Tol Getaci menjadi dua paket lelang yang berbeda, yaitu ruas Gedebage-Tasikmalaya dan ruas Tasikmalaya-Cilacap. “Strategi ini akan memperkecil beban modal investor. Ruas hingga Tasikmalaya jauh lebih mudah dijual karena potensi lalu lintasnya sudah terbentuk,” jelas Gibran.
-
Intervensi INA atau Danantara: Presiden dapat memerintahkan badan pengelola investasi negara untuk memimpin konsorsium. Gibran berpendapat, jika pemerintah mengklaim proyek ini menguntungkan secara komersial, maka lembaga investasi pelat merah seharusnya turun tangan saat pihak swasta absen.
-
Dukungan Konstruksi Pemerintah: Pemerintah ikut membiayai sebagian konstruksi atau dukungan konstruksi (dukon) untuk menurunkan beban badan usaha. Namun, skema ini dinilai sulit terwujud mengingat kebijakan terbaru Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang membatasi dukungan anggaran untuk proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Gibran berpendapat bahwa fokus pembangunan hingga Tasikmalaya akan jauh lebih rasional dibandingkan memaksakan seluruh ruas namun berakhir stagnan. “Intinya harus ada terobosan. Jangan hanya terjebak dalam siklus lelang dan gagal tanpa kemajuan berarti. Tidak apa-apa jika pembangunan difokuskan sampai Tasikmalaya terlebih dahulu agar aktivitas ekonomi di wilayah tersebut segera menggeliat,” pungkas Gibran.





