Money

INDEF: Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Picu Inflasi dan Migrasi EV

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksikan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi akan memicu efek berantai pada berbagai lini ekonomi. Dampak utamanya diperkirakan akan dirasakan oleh masyarakat kelas menengah dan sektor industri, yang terpaksa melakukan penyesuaian perilaku dan operasional.

Ekonom sekaligus Direktur Program INDEF, Esther Sri Astuti, menjelaskan bahwa bagi masyarakat kelas menengah, lonjakan harga BBM non-subsidi berpotensi mengubah pola konsumsi mereka secara signifikan.

Salah satu implikasi yang paling kentara adalah adanya dorongan untuk beralih ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

“Kenaikan harga bensin non-subsidi secara terus menerus dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik (EV) di kalangan masyarakat menengah ke atas sebagai alternatif yang lebih hemat,” kata Esther kepada Kompas.com, Senin (20/4/2026).

Namun, di sisi lain, kebijakan kenaikan harga ini juga dapat memicu migrasi konsumen ke BBM bersubsidi, meskipun terdapat pembatasan penggunaannya.

“Meskipun ada pembatasan, kenaikan harga yang drastis dapat memicu tekanan pada akses BBM bersubsidi yakni Pertalite bagi masyarakat yang kesulitan menyesuaikan anggaran,” imbuhnya.

Esther menekankan bahwa agar adopsi kendaraan listrik dapat berjalan secara masif, ketersediaan infrastruktur pendukung menjadi kunci utama.

“Tentu saja untuk adopsi kendaraan listrik harus disiapkan infrastrukturnya, misalnya charging area lebih banyak sehingga lebih mudah diakses pengguna kendaraan listrik,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa dalam skenario yang lebih luas, peralihan masyarakat terhadap perangkat listrik, termasuk kendaraan listrik, perlu didukung dengan harga listrik yang lebih terjangkau. Hal ini penting agar penggunaan perabot rumah tangga elektrik dan kendaraan listrik dapat semakin meluas di masyarakat.

Dampak Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi pada Ekonomi Makro

Kenaikan harga BBM non-subsidi, yang terjadi pada 18 April 2026 sebagai respons terhadap gejolak geopolitik global, juga memberikan pengaruh signifikan terhadap ekonomi makro.

Esther memaparkan bahwa kenaikan harga BBM ini berkontribusi pada peningkatan angka inflasi.

Ia menjelaskan, lonjakan harga BBM secara langsung mendorong kenaikan biaya logistik dan distribusi barang. Imbasnya, harga kebutuhan pokok dan berbagai komoditas lainnya pun ikut merangkak naik.

Seiring dengan kenaikan harga barang, daya beli masyarakat cenderung mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena porsi pengeluaran untuk bahan bakar dan kebutuhan dasar menjadi semakin besar dalam anggaran rumah tangga.

Advertisement

Sektor Industri Terbebani Biaya Operasional

Sektor industri dan logistik juga tidak luput dari imbas kenaikan harga BBM. Beban operasional industri mengalami peningkatan yang cukup berarti.

“Industri yang bergantung pada BBM non-subsidi seperti sektor manufaktur dan pertambangan akan mengalami peningkatan biaya produksi yang signifikan,” ungkap Esther.

Selain itu, kebijakan tersebut juga berpotensi mendorong kenaikan tarif jasa, terutama yang berkaitan dengan transportasi.

“Kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex berdampak langsung pada biaya operasional angkutan barang dan kendaraan logistik berat,” ujar Esther.

Perbandingan Harga BBM Non-Subsidi Terbaru

Sebagai informasi, harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan mulai Sabtu, 18 April 2026. Kenaikan ini terutama menyasar produk-produk unggulan seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Merujuk pada data terbaru yang dirilis oleh PT Pertamina Patra Niaga, lonjakan harga paling tajam terjadi pada jenis Dexlite dan Pertamina Dex.

Kedua jenis BBM tersebut mengalami kenaikan hingga Rp 9.400 per liter jika dibandingkan dengan tarif pada awal April 2026.

Di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, harga BBM Pertamina Dex kini mencapai Rp 23.900 per liter, melonjak dari harga sebelumnya Rp 14.500 per liter.

Sementara itu, harga Dexlite naik menjadi Rp 23.600 per liter, dari posisi sebelumnya Rp 14.200 per liter.

Tidak hanya Dexlite dan Pertamina Dex, harga Pertamax Turbo juga turut mengalami penyesuaian.

Saat ini, harga jual Pertamax Turbo mencapai Rp 19.400 per liter, mengalami kenaikan sebesar Rp 5.600 dari harga sebelumnya Rp 13.100 per liter.

Advertisement