Megapolitan

Jejak Golden Era Pasar Santa, dari Ruang Kreatif Berubah Jadi Lorong-Lorong Sunyi

Advertisement

Pasar Santa, yang pernah menjadi pusat denyut kreativitas anak muda di Jakarta Selatan, kini menyisakan jejak kejayaan yang memudar. Lorong-lorongnya yang dulu ramai oleh hiruk pikuk transaksi dan interaksi, kini terasa lengang, diselimuti kesunyian yang kontras dengan citra masa lalu.

Dari balik Pintu 1 di Jalan Cipaku I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, suasana yang menyambut pada Selasa (21/4/2026) siang jauh dari riuh yang melekat pada nama pasar ini. Lampu-lampu yang menyala tak mampu mengusir kesan kosong yang merayap di bangunan tiga lantai itu. Deretan kios dengan pintu gulung tertutup rapat menjadi pemandangan dominan, mengindikasikan denyut ekonomi yang tak lagi sekuat satu dekade lalu.

Hanya sesekali tampak pengunjung melintas, tanpa tujuan yang jelas, sekadar melihat sekilas sebelum berlalu. Suara pelan getaran besi rolling door yang tertiup angin menjadi latar belakang keheningan yang terasa.

Suasana ini sungguh berbeda dengan Pasar Santa yang pernah menjadi salah satu ruang paling hidup bagi anak muda Jakarta Selatan. Pasar yang berdiri sejak 1971 ini, setelah direvitalisasi menjadi pasar modern pada 2007, mengalami transformasi dramatis sekitar 2014. Lantai atasnya menjelma menjadi surga bagi anak muda: tempat nongkrong, berburu vinyl, thrift shop, hingga kedai kopi independen yang kala itu masih jarang.

Pasar Santa bukan sekadar tempat berdagang, ia menjadi simbol gaya hidup urban yang eksperimental, bebas, dan alternatif. Namun, seperti banyak ruang urban lainnya, kejayaannya tak bertahan selamanya.

Kondisi Pasar Santa Saat Ini

Kini, Pasar Santa menampilkan wajah yang berbeda. Di lantai dasar, aktivitas perdagangan masih berjalan dalam ritme yang lebih lambat. Kios perlengkapan rumah tangga, toko emas, jasa jahit, hingga alat tulis masih bertahan, namun tanpa keramaian yang berarti. Para pedagang terlihat duduk menunggu pembeli yang datang sesekali, tanpa antrean atau percakapan riuh seperti masa lalu.

Di lantai dua dan tiga, kesunyian bahkan lebih terasa. Kios-kios kreatif yang dulu menjadi magnet kini tak lagi penuh. Beberapa masih buka, namun banyak yang tutup atau berganti penyewa dalam waktu singkat.

Di lantai tiga, Dennis (34), yang merintis usaha makanan rumahan sejak 2018, duduk di balik etalase sederhananya. Ia sesekali melayani pembeli, tanpa antrean panjang seperti dulu. “Kalau dulu sebelum 2020 itu masih enak. Sehari bisa Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta kalau weekend,” kenangnya saat ditemui Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Kini, pendapatannya jauh menyusut. Ia menyebutkan, pendapatan hariannya kerap tidak menentu, bahkan bisa turun hingga sepersepuluh dari masa puncaknya. “Sekarang paling bagus Rp 300.000 sampai Rp 600.000. Kadang kalau lagi sepi banget bisa cuma Rp 150.000,” ujarnya.

Bagi Dennis, yang paling terasa bukan hanya penurunan omzet, tetapi hilangnya daya tarik kolektif yang dulu membuat pengunjung naik tanpa perlu dipanggil.

Masa Kejayaan Hingga Sepi Pengunjung

Di lantai dua, Fathan (27) mengelola kedai kopi yang telah ia buka sejak 2016. Ia menyaksikan langsung masa keemasan Pasar Santa sebagai ruang kreatif anak muda. Dulu, kursi-kursi kecil di kiosnya hampir selalu penuh. “Dulu itu bisa dibilang golden era. Sehari omzet bisa Rp 2 juta sampai Rp 3 juta,” katanya.

Kini, ritmenya berubah drastis. Kedainya masih buka, namun tak lagi menghadapi arus pengunjung yang padat. “Sekarang rata-rata di Rp 500.000 sampai Rp 1 juta. Kadang bisa di bawah itu kalau weekday sepi,” ujarnya.

Fathan menilai perubahan ini bukan hanya soal jumlah pengunjung, tetapi cara orang menggunakan ruang. Jika dulu Pasar Santa menjadi tujuan utama, kini ia lebih sering menjadi tempat singgah.

Theo (28), yang menjual pakaian bekas atau thrift sejak 2017, merasakan pola yang sama. Kala itu, kiosnya kerap dipadati pembeli. “Dulu itu saya bisa dapat Rp 800.000 sampai Rp 1,5 juta sehari,” katanya.

Namun, angka itu terus menurun. Ia kini lebih sering menghadapi pengunjung yang hanya melihat-lihat. “Sekarang kadang Rp 200.000 sampai Rp 400.000 sehari sudah bagus,” ujarnya.

Advertisement

Theo menilai kemunculan platform belanja daring menjadi salah satu faktor utama yang mengurangi arus pengunjung.

Sepinya Pasar Santa juga dibenarkan oleh Agus (56), seorang satpam yang bertugas di sana. “Sekarang ya memang lebih sepi dibanding dulu,” katanya sambil tersenyum tipis.

Menurut Agus, kondisi pasar saat ini tidak bisa dibilang benar-benar sepi, namun jauh dari masa ramai. Pola kunjungan lebih terkonsentrasi di akhir pekan, itupun tidak seramai masa puncak. “Sabtu Minggu masih ada orang, terutama siang sampai sore. Tapi malam sekarang sudah tidak seramai dulu,” katanya.

Pengunjung: dari Nostalgia hingga Pergeseran Pilihan

Hafiz (25) mengaku kedatangannya ke Pasar Santa kali ini didorong rasa nostalgia. Ia pernah rutin datang saat kuliah, namun kini jarang. “Dulu saya sering ke sini waktu kuliah. Sekarang sudah jarang, ini baru datang lagi setelah lama,” ujarnya.

Menurut Hafiz, isi Pasar Santa tidak banyak berubah, namun pengalaman ruangnya berbeda. Ia membandingkan dengan Blok M yang kini kembali ramai, dengan ruang terbuka dan suasana keramaian yang lebih mengalir. “Di Blok M ada ruang terbuka, orang bisa nongkrong lama, lihat orang lewat. Di sini lebih tertutup,” ujarnya.

Vivian (23), seorang mahasiswi, datang karena penasaran, namun pengalamannya tidak sesuai ekspektasi. “Saya pikir lebih ramai dan lebih banyak tempat unik. Tapi ternyata sekarang lebih tenang,” kata Vivian.

Ia menyebutkan, beberapa lantai terasa kurang hidup karena banyak kios tutup. Vivian kini lebih sering memilih tempat lain untuk nongkrong, terutama coffee shop di Blok M. “Di sana lebih banyak pilihan dan lebih enak buat duduk lama,” tuturnya.

Bara (30), seorang freelancer, merupakan bagian dari generasi yang menjadikan Pasar Santa sebagai “rumah kedua” pada masa kejayaannya. “Dulu itu lengkap banget. Rasanya semua orang kreatif kumpul di sini,” ujar Bara.

Namun kini, ia merasakan perubahan besar dalam atmosfer tempat tersebut. Bara menilai Blok M kini mengambil alih peran yang dulu dipegang Pasar Santa.

Pasar Santa dan Pergeseran Ruang Kreatif Anak Muda

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai meredupnya Pasar Santa adalah bagian dari proses perubahan sosial yang wajar terjadi di ruang kota. Menurutnya, Pasar Santa berhasil menjadi ruang kreatif karena mampu membangun ekosistem antara pengunjung, komunitas, dan pedagang.

“Pasar Santa sebelumnya dikenal sebagai ruang berkumpul anak muda dan ruang kreatif. Di sana ada ekspresi kultural dan ekspresi kreatif yang menjadi kekuatan utama,” ujar Rakhmat saat dihubungi.

Namun, kekuatan itu perlahan melemah seiring perubahan dinamika sosial dan ekonomi perkotaan. Ia menyebut salah satu faktor utama adalah bergesernya kebutuhan sosial pengunjung, terutama generasi muda. “Anak muda yang dulu mencari ruang alternatif untuk berekspresi, sekarang cenderung memilih tempat yang lebih terintegrasi, lebih mudah diakses, dan lebih lengkap fasilitasnya,” kata Rakhmat.

Perubahan generasi juga berpengaruh besar terhadap keberlanjutan ruang kreatif. Pergeseran dari generasi milenial ke Gen Z membawa perubahan dalam cara memaknai ruang publik dan tempat berkumpul. “Ini bagian dari suksesi generasi dalam konteks globalisasi. Preferensi ruang juga ikut berubah sangat cepat,” ujar Rakhmat.

Rakhmat menyoroti keterbatasan ruang fisik Pasar Santa turut berkontribusi pada menurunnya daya tarik sosial. Ia membandingkannya dengan kawasan seperti Blok M yang memiliki ruang lebih luas dan terintegrasi. “Blok M menawarkan pengalaman yang lebih beragam dan terhubung, sehingga lebih menarik secara sosial dibandingkan ruang yang lebih tertutup,” ujar Rakhmat.

Advertisement