Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt, menyatakan komitmennya untuk mengawal proses hukum kasus pembunuhan Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Isaac Hansen Averino di Jerman. Kemlu memastikan proses hukum tersebut akan berjalan secara adil, transparan, dan tanpa diskriminasi terhadap tersangka.
Juru Bicara Kemenlu, Vahd Nabyl Mulachela, dalam keterangannya kepada Kompas.com pada Senin (20/4/2026), menegaskan bahwa KJRI Frankfurt telah melakukan penanganan dan pendampingan intensif sejak awal kasus ini mencuat. “Kementerian Luar Negeri melalui KJRI Frankfurt akan terus memastikan agar proses hukum berjalan secara adil, transparan, dan non-diskriminatif,” ujar Nabyl.
Menurut Nabyl, KJRI Frankfurt menjalin koordinasi erat dengan aparat Kepolisian dan Kejaksaan setempat guna mendukung jalannya investigasi. Selain itu, pihak KJRI juga telah menyampaikan informasi duka cita kepada keluarga korban sesegera mungkin. “KJRI Frankfurt juga menyampaikan informasi dan berita duka kepada pihak keluarga pada kesempatan pertama,” imbuhnya.
Jenazah Isaac Hansen Averino sendiri telah berhasil dipulangkan ke Indonesia dan tiba pada 28 Maret 2026. Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri turut memfasilitasi proses kedatangan jenazah hingga serah terima kepada pihak keluarga. “Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri turut memfasilitasi proses ketibaan serta serah terima jenazah kepada pihak keluarga,” jelas Nabyl.
Kronologi Kejadian
Isaac Hansen Averino, seorang WNI berusia 24 tahun, dilaporkan tewas akibat dugaan penusukan di tempat tinggalnya di Kirchen (Sieg), negara bagian Rheinland-Pfalz, Jerman. Peristiwa tragis ini terjadi pada Rabu (18/03) malam waktu setempat.
Berdasarkan kesaksian keluarga dan kerabat, komunikasi terakhir Isaac dengan orang terdekat terjadi pada malam nahas tersebut. Ia sempat memberitahukan pacarnya bahwa akan memasak di dapur bersama di tempat tinggalnya.
Namun, setelah itu, Isaac tidak lagi merespons pesan yang dikirimkan, sebuah kejanggalan yang segera disadari oleh kerabatnya. Kekhawatiran semakin memuncak ketika Isaac masih belum memberikan kabar hingga keesokan paginya, sebuah kebiasaan yang tidak pernah dilakukannya.
Upaya untuk menghubungi Isaac terus dilakukan namun tidak membuahkan hasil. Pihak keluarga akhirnya menerima kabar duka mengenai meninggalnya Isaac.




