Regional

Kisah Rosdiana, Bertenun Ulos 34 Tahun demi Hidupi dan Perjuangkan Keluarga

Advertisement

Rosdiana Silaban (52), seorang perempuan Batak di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, telah mendedikasikan 34 tahun hidupnya untuk menenun ulos tradisional demi menafkahi dan memperjuangkan keluarganya. Suara khas alat tenunnya kini kembali terdengar setelah sempat terdiam di teras rumahnya di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Kahean, Siantar Utara.

Tanpa bantuan kacamata, Rosdiana dengan teliti memilah ribuan benang tipis yang tersusun rapi di alat tenun tradisionalnya. Ia duduk sambil menggerakkan kedua tangannya memegang kayu pemutar alat tenun, sementara kakinya sesekali mengayuh. Kegiatan menenun ini oleh masyarakat lokal disebut “Marhasuksak” karena menghasilkan bunyi khas “tuk… tak… tuk… tak…”.

“Kalau naik gulaku (glukosa tinggi) oyong, daripada aku terjatuh, lebih baik kuhentikan. Makanya, aku sempat tidak bertenun seminggu,” ujar Rosdiana saat ditemui di kediamannya, Selasa (21/4/2026).

Rosdiana merupakan anak kelima dari enam bersaudara yang berasal dari Parsoburan, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Ia hanya menamatkan pendidikan hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya akibat keterbatasan ekonomi keluarganya. Pada usia 18 tahun, ia memutuskan untuk merantau ke Kota Pematangsiantar bersama beberapa rekan seusianya dari kampung halaman.

Mereka bekerja sebagai penenun ulos di sebuah lokasi di Jalan Sekata, Pematangsiantar. Sekitar delapan tahun kemudian, Rosdiana menikah. Setelah tempat kerjanya gulung tikar, ia membeli alat tenun bekas dan mulai menenun secara mandiri di rumah sambil mengurus suami dan ketiga anaknya yang masih balita hingga beranjak dewasa.

Meskipun suaminya berprofesi sebagai sopir, Rosdiana menjadi tulang punggung ekonomi keluarga satu-satunya melalui hasil kerja kerasnya sebagai penenun. Ia mampu menciptakan puluhan jenis ulos Batak dengan berbagai motif. Ulos yang telah selesai ia jual ke toko-toko dengan harga berkisar antara Rp 125.000 hingga Rp 400.000, tergantung pada jenis dan permintaan ulos yang dibuatnya.

“Dulu aku bisa bikin satu ulos dalam satu hari. Di rumah pun semua terpenuhi, anak-anak bisa sekolah. Sekarang tidak sanggup lagi, kadang hanya satu atau dua ulos dalam satu minggu,” ungkapnya.

Advertisement

Perjuangan sebagai Orangtua Tunggal

Tiga tahun lalu, suami Rosdiana meninggal dunia akibat sakit. Namun, ia tidak larut dalam kesedihan dan memilih untuk terus berjuang sebagai orangtua tunggal demi masa depan ketiga anaknya.

Menurut Rosdiana, menjadi orangtua tunggal bagi perempuan Batak bukanlah hal yang mudah, terutama dalam menjalankan adat istiadat seperti menikahkan anak. Kini, putri sulungnya telah menikah dan memiliki keturunan, serta tinggal di perantauan. Sementara itu, kedua anaknya yang lain telah bekerja setelah menamatkan sekolah.

“Sekarang aku sudah punya cucu,” imbuhnya.

Alarm dari Penyakit

Tak lama setelah kepergian suaminya, Rosdiana sempat jatuh sakit. Fisiknya yang lemah mengharuskannya menjalani perawatan di rumah sakit selama beberapa hari. Dokter mendiagnosisnya mengidap penyakit gula atau diabetes.

Meskipun demikian, hambatan tersebut tidak lantas membuatnya berhenti menenun. Ketika penyakitnya menjadi alarm bagi tubuhnya, ia mengistirahatkan diri sejenak sebelum kembali duduk dan melanjutkan aktivitas menenun ulos.

“Kalau kesusahan itu sudah di tangan. Hari ini genaplah usiaku 52 tahun, pas Hari Kartini. Pelajaran dari Kartini yang aku tahu tetap memperjuangkan keluarga,” tutur Rosdiana seraya tersenyum.

Advertisement