Tren

Kurangi Ketergantungan Terhadap Dollar, Negara-negara BRICS Borong Emas Jadi Cadangan Devisa

Advertisement

Kelompok negara BRICS secara agresif meningkatkan cadangan emas mereka dalam beberapa tahun terakhir, menggeser porsi aset devisa mereka menjauhi dolar Amerika Serikat. Data terbaru dari World Gold Council menunjukkan bahwa negara-negara BRICS kini menguasai lebih dari 6.000 ton emas, setara dengan 17,4 persen dari total cadangan emas bank sentral dunia. Angka ini merupakan peningkatan signifikan dari 11,2 persen pada tahun 2019.

Peningkatan kepemilikan emas oleh bank sentral secara global juga tercatat masif. Dalam beberapa tahun terakhir, pembelian emas oleh bank sentral konsisten melampaui 1.000 ton per tahun, sebuah lonjakan drastis dibandingkan rata-rata 400 hingga 500 ton per tahun pada dekade sebelumnya. Negara-negara BRICS menjadi motor penggerak utama permintaan emas dunia, menyumbang lebih dari separuh total pembelian emas bank sentral global antara tahun 2020 hingga 2024.

Empat Alasan Utama di Balik Perburuan Emas BRICS

Laporan dari Goldsilver menguraikan setidaknya empat alasan utama yang mendorong negara-negara BRICS untuk meningkatkan pembelian emas sebagai cadangan devisa mereka. Strategi ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS, tetapi juga untuk melindungi aset dari risiko sanksi, membangun sistem keuangan alternatif, dan sebagai lindung nilai terhadap tekanan utang global.

Risiko aset berbasis dolar yang bisa hilang dalam waktu singkat terbukti ketika cadangan devisa Rusia senilai sekitar 300 miliar dollar AS dibekukan oleh negara-negara Barat pada tahun 2022. Dalam konteks ini, emas dipandang sebagai aset yang lebih aman karena tidak dapat disita. Meskipun harga emas telah melonjak lebih dari 40 persen dalam setahun mendekati 4.850 dollar AS per ons pada April 2026, negara-negara BRICS tetap mempercepat pembeliannya. Fenomena ini mencerminkan pergeseran cara pandang negara berkembang besar terhadap uang, risiko, dan dominasi dolar dalam sistem keuangan global.

1. De-dolarisasi Menjadi Prioritas

Porsi dolar AS dalam cadangan devisa global terus menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data IMF COFER, porsi dolar AS telah menyusut dari sekitar 71 persen pada tahun 1999 menjadi sekitar 57 persen saat ini, level terendah sejak 1994. Negara-negara BRICS memilih emas sebagai aset cadangan karena sifatnya yang tidak memiliki penerbit, tidak bergantung pada pihak lawan, dan bebas dari yurisdiksi politik, berbeda dengan mata uang seperti euro atau yuan.

2. Perlindungan dari Risiko Sanksi

Aset yang didenominasi dolar dan disimpan di luar negeri memiliki risiko pembekuan. Sebaliknya, emas yang disimpan di dalam negeri tidak dapat dikenai sanksi serupa. Perbedaan mendasar ini menjadi faktor krusial dalam strategi pengelolaan cadangan devisa negara-negara BRICS, terutama sejak tahun 2022.

Advertisement

4. Lindung Nilai Terhadap Pelemahan Dolar

Dengan utang federal AS yang telah melampaui 39 triliun dollar AS per Maret 2026 dan proyeksi defisit tahunan sekitar 1,9 triliun dollar AS, negara-negara berkembang mulai mengantisipasi risiko pelemahan dolar. Emas dipilih sebagai aset yang tidak dapat “dicetak” oleh pemerintah, sehingga menawarkan perlindungan nilai yang lebih stabil.

5. Membangun Sistem Keuangan Pasca-Dolar

Upaya untuk membangun sistem keuangan alternatif juga mulai terlihat. Pada 31 Oktober 2025, peneliti dari International Research Institute for Advanced Systems (IRIAS) memperkenalkan proyek percontohan “Unit”. Instrumen perdagangan digital ini berbasis emas dengan komposisi 40 persen emas dan 60 persen mata uang BRICS. Inisiatif riset ini mengindikasikan potensi penggunaan emas sebagai fondasi sistem keuangan paralel di masa depan.

Komposisi Keanggotaan BRICS

BRICS merupakan kelompok negara berkembang besar yang secara strategis meningkatkan cadangan emas mereka. Awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, kelompok ini telah berkembang pesat. Sejak Januari 2024, keanggotaan BRICS bertambah dengan bergabungnya Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab. Indonesia dijadwalkan bergabung pada Januari 2025, menjadikan total anggota penuh BRICS sepuluh negara.

Arab Saudi telah menerima undangan keanggotaan namun belum mengonfirmasi partisipasinya secara resmi. Sementara itu, Argentina memutuskan untuk tidak bergabung pada akhir tahun 2023. Saat ini, BRICS mencakup sekitar 40 persen PDB global berdasarkan paritas daya beli dan hampir setengah populasi dunia. Dengan bobot ekonomi yang signifikan, keputusan bersama terkait pengelolaan cadangan devisa, termasuk pembelian emas, diprediksi mampu memberikan dampak struktural terhadap pasar global.

Advertisement