Regional

Bank Sampah di Yogyakarta Sulap Botol Jadi Wayang: Modal Rp 5.000, Bisa Dijual Rp 350.000

Advertisement

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Inisiatif unik muncul dari Bank Sampah Pa-Q-One di Gedongkiwo, Mantrijeron, Yogyakarta. Limbah botol plastik bekas kini disulap menjadi karya seni bernilai tinggi berupa wayang melalui program “Wayang Upcycle”. Kreasi ini tidak hanya memberikan nilai tambah ekonomi, tetapi juga menjadi solusi atas keprihatinan terhadap kebersihan lingkungan.

Berdiri sejak 2017, Bank Sampah Pa-Q-One awalnya didorong oleh keprihatinan melihat kondisi Sungai Winongo yang tercemar sampah plastik. Fenomena anak-anak yang mencari ikan namun justru menemukan sandal jepit dan botol bekas menjadi pemicu awal perubahan.

Transformasi Limbah Menjadi Bernilai Seni

Ide kreatif mulai mengemuka pada tahun 2019 dengan pembuatan action figure dari sandal bekas. Selang dua tahun kemudian, atau sekitar 2021, Bank Sampah Pa-Q-One kembali berinovasi dengan memanfaatkan botol plastik bekas air mineral untuk menciptakan wayang yang kini dikenal sebagai Wayang Upcycle.

Ketua Bank Sampah Pa-Q-One, Widhyarprincessiastuty, menjelaskan bahwa pemilihan botol plastik bekas didasarkan pada kemudahan akses dan proses pengolahannya. “Kalau botol plastik bekas dijual kan cuma Rp 5.000 isinya 50 botol. Kalau dibuat wayang upcycle satu wayang bisa dijual sampai Rp 350.000 itu hanya membutuhkan 3 sampai 4 botol,” ujarnya saat ditemui di Yogyakarta, Selasa (21/4/2026).

Untuk memastikan ketersediaan bahan baku, Bank Sampah Pa-Q-One menjalin kerja sama dengan bank sampah lainnya. Mereka bahkan menawarkan harga pembelian yang lebih tinggi untuk botol plastik bekas yang disetorkan dalam kondisi bersih. “Kami berani membeli dengan harga lebih tinggi kalau dihitung-hitung botol plastik bekas di pasaran kan Rp 100 per botol, kami beli Rp 500 per botol,” tambah Widhyarprincessiastuty.

Proses Kreatif dan Tantangan Pembuatan

Seksi Pengembangan Bank Sampah, Budi Anggoro, mengungkapkan bahwa pembuatan wayang upcycle sebenarnya relatif mudah, namun membutuhkan ketelitian tinggi. Hal ini disebabkan adanya pakem atau aturan tradisional yang harus diikuti, terutama untuk tokoh-tokoh wayang klasik seperti Pandawa, Rama, dan Sinta.

Alat yang digunakan pun sederhana, meliputi alas kayu, staples, dan heat gun. Tahapan awalnya adalah memotong botol plastik bekas berukuran 1.500 mililiter menjadi dua bagian, kemudian merentangkannya di atas alas kayu dan merekatkannya dengan staples pada bagian pinggir.

Advertisement

Selanjutnya, lembaran plastik dipanaskan menggunakan heat gun hingga lekukan botol menjadi rata. Proses berikutnya adalah menggambar pola menggunakan solder, tidak hanya untuk membentuk tubuh wayang, tetapi juga detail pakaian yang sesuai dengan pakemnya.

Tokoh Wayang Tradisional dan Modern

Budi Anggoro mengakui bahwa pembuatan tokoh Bima dari Pandawa cenderung lebih menantang dibandingkan tokoh Pandawa lainnya. “Kalau yang paling sulit itu membuat tokoh Bima pada Pandawa, enggak tahu kenapa mungkin karena ukurannya lebih besar dibanding Pandawa lainnya,” tuturnya.

Meskipun demikian, tokoh Bima justru menjadi salah satu yang paling cepat laku di pasaran, bersaing dengan tokoh Semar. “Tokoh Bima juga yang cepat lakunya sama tokoh Semar itu juga cepat laku,” imbuhnya.

Selain tokoh-tokoh tradisional, Bank Sampah Pa-Q-One juga tidak ragu berkreasi menciptakan wayang dari karakter modern, seperti Hulk hingga tokoh anime. “Justru membuat Hulk itu lebih mudah dibanding buat karakter Bima,” ungkap Budi.

Harga dan Potensi Pasar

Harga wayang upcycle bervariasi, mulai dari Rp 10.000 untuk ukuran kecil yang biasanya difungsikan sebagai gantungan kunci, hingga mencapai Rp 350.000 untuk tokoh yang lebih kompleks seperti Bima.

Meskipun belum dijual secara massal, pihak Bank Sampah Pa-Q-One telah menerima pesanan melalui media sosial yang mereka kelola. Menariknya, Budi Anggoro menambahkan bahwa pembeli seringkali bersedia membayar di atas harga yang telah dibanderol. “Biasanya para pembeli itu membeli di atas harga yang kami banderol,” pungkasnya.

Advertisement