Global

Pakistan Bingung AS-Iran Belum Datang, padahal Tempat Sudah Siap

Advertisement

ISLAMABAD, KOMPAS.com – Pakistan telah mempersiapkan segala kebutuhan untuk gelaran putaran kedua pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk peningkatan keamanan dan penutupan sementara hotel-hotel mewah. Namun, kesiapan tersebut kini dihadapkan pada ketidakpastian mengenai kehadiran delegasi Iran.

Jalan menuju bandara internasional Islamabad dijaga ketat oleh personel bersenjata, meski suasana keseluruhan masih relatif tenang. Tidak seperti saat negosiasi putaran pertama awal bulan ini yang memaksa penutupan toko-toko, kali ini sebagian besar bisnis masih beroperasi normal. Para tentara terlihat duduk di kursi plastik, menunggu instruksi.

Seorang pemilik toko kelontong di sebuah stasiun bahan bakar mengungkapkan kekhawatirannya atas potensi penurunan omzet jika penutupan kembali diberlakukan. “Saya tidak keberatan jika kami tutup lagi. Kami berharap mereka datang. Pakistan melakukan banyak hal baik untuk dunia,” ujarnya, dikutip dari The Wall Street Journal.

Sebagai antisipasi, pihak berwenang Pakistan telah meminta Hotel Serena, lokasi digelarnya putaran pertama, untuk melakukan penutupan sementara. Pemberitahuan ini telah disampaikan kepada para tamu hotel. Dua hotel mewah lainnya, Marriott dan Movenpick, juga dilaporkan ditutup untuk umum dengan alasan yang sama. Pasukan keamanan yang sebelumnya telah ditarik dari jalan-jalan kota kini kembali dikerahkan.

Di kota kembar Islamabad, Rawalpindi, universitas-universitas telah diperintahkan untuk beralih ke metode pembelajaran daring.

Advertisement

Nasib Negosiasi Masih Abu-abu

Meskipun persiapan telah rampung, status negosiasi antara AS dan Iran masih belum jelas. Stasiun televisi pemerintah Iran melaporkan pada Selasa (21/4/2026) bahwa belum ada delegasi Teheran yang berangkat menuju Pakistan.

“Sejauh ini, belum ada delegasi dari Iran yang berangkat ke Islamabad, Pakistan, baik itu delegasi utama maupun delegasi tambahan, primer maupun sekunder,” ujar perwakilan stasiun TV pemerintah, membantah laporan yang beredar. Mengutip pejabat Iran yang enggan disebutkan namanya, stasiun TV tersebut menyatakan bahwa kehadiran Iran akan bergantung pada perubahan sikap dan posisi Amerika Serikat.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Teheran tidak akan menerima negosiasi yang dilakukan di bawah ancaman. Ghalibaf, yang merupakan tokoh berpengaruh dan memimpin pembicaraan dengan AS dua minggu lalu, menekankan prinsip ini, seperti dilaporkan AFP.

Sementara itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, dijadwalkan akan terbang ke Pakistan apabila Iran memberikan konfirmasi untuk negosiasi putaran kedua. Ia akan didampingi oleh utusan khusus Presiden AS, Steve Witkoff, serta menantu presiden, Jared Kushner, serupa dengan delegasi pada perundingan sebelumnya.

Advertisement