Global

Negara Ini Punya Ladang Gas Terbesar Kedua Dunia, tapi Sangat Bergantung ke China

Advertisement

Turkmenistan, negara yang menyimpan cadangan gas alam terbesar keempat di dunia, menghadapi ironi mendalam: meskipun memiliki potensi energi melimpah, ia sangat bergantung pada China sebagai investor dan pasar utama. Di tengah hamparan gurun Galkynysh, para insinyur China tampak sibuk dalam proyek raksasa yang menjadi simbol kemitraan strategis kedua negara.

Ambisinya untuk mendiversifikasi ekspor gas ke Eropa dan India seolah terbentur realitas. China, melalui China National Petroleum Corporation (CNPC), menjadi investor utama yang mengucurkan dana besar untuk mengamankan cadangan gas raksasa tersebut. Ketergantungan ini menjadi paradoks tersendiri bagi negara yang dikenal tertutup.

Kemitraan Strategis yang Mengikat

Pada peresmian fase baru pabrik Galkynysh pertengahan April lalu, mantan Presiden Turkmenistan Gurbanguly Berdymukhamedov secara tegas menyatakan, “Negara kami menganggap China sebagai mitra strategis.” Pernyataan ini menegaskan betapa eratnya hubungan kedua negara, yang diperkuat oleh investasi China dalam proyek perluasan ladang gas Galkynysh.

Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan produksi dan kapasitas penyimpanan di Galkynysh, demi memenuhi kebutuhan ekspor yang terus meningkat ke China. Menurut konsultan energi Inggris, Gaffney, Cline and Associates, Galkynysh merupakan ladang gas terbesar kedua di dunia, hanya kalah dari ladang South Pars yang dimiliki bersama oleh Iran dan Qatar.

Perkiraan independen menyebutkan bahwa sekitar 90 persen ekspor gas Turkmenistan saat ini telah terserap oleh pasar China. Situasi ini mengundang pandangan dari para ahli. “Paradoks Turkmenistan adalah bahwa seiring dengan meningkatnya cadangan gas terbukti, negara ini telah memperoleh status sebagai raksasa gas, tetapi tidak memiliki kebebasan yang sebanding dalam memonetisasi cadangan tersebut,” ujar Abzal Narymbetov, seorang ahli di sektor energi Asia Tengah.

Narymbetov menambahkan, “Negara ini memiliki basis sumber daya yang sangat besar, tetapi infrastruktur ekspornya masih sangat bergantung pada jalur China.”

Kerentanan Strategis di Balik Ketergantungan

Pergeseran haluan ekspor gas Turkmenistan ke China tidak terjadi dalam semalam. Hingga tahun 2009, Turkmenistan mengekspor gasnya secara eksklusif ke Rusia. Namun, perselisihan diplomatik dengan Moskow kala itu mempercepat pergeseran strategi ke Beijing.

Jalur pipa gas Asia Tengah-China yang dibuka pada tahun itu telah menyalurkan sekitar 460 miliar meter kubik (bcm) gas alam. Berdymukhamedov sendiri memiliki ambisi untuk meningkatkan pengiriman tahunan menjadi 65 miliar meter kubik.

Di sisi lain, China, sebagai importir gas alam terbesar di dunia, terus berupaya mendiversifikasi sumber energinya. Meskipun menjadi pembeli utama dari Rusia dan Timur Tengah, Turkmenistan tetap menjadi salah satu pemasok penting.

Advertisement

“Bagi Turkmenistan, China tidak tergantikan, sedangkan bagi China, Turkmenistan hanyalah salah satu dari beberapa pemasok,” tutur Narymbetov. “Itulah mengapa ketergantungan pada pasar tunggal bukan hanya masalah perdagangan tetapi juga masalah kerentanan strategis.”

Nasib Rute Ekspor Alternatif Masih Suram

Pihak berwenang Turkmenistan sejatinya memiliki harapan untuk mengembangkan rute ekspor lain. Perluasan ladang minyak di Galkynysh diharapkan dapat membantu mereka menjajaki kemungkinan ekspor ke negara lain.

“Selain jalur China, Galkynysh juga dipertimbangkan sebagai basis sumber daya untuk jalur pipa gas TAPI (Turkmenistan, Afghanistan, Pakistan, India) di masa depan,” ungkap seorang karyawan perusahaan milik negara Turkmengaz kepada AFP, yang berbicara dengan syarat anonim. Tujuannya adalah untuk memasok 33 miliar meter kubik melalui jalur tersebut, serta meningkatkan ekspor ke Eropa melalui Laut Kaspia.

Namun, untuk saat ini, Beijing tetap menjadi satu-satunya rute yang layak. “Setiap fase baru Galkynysh sejauh ini cenderung memperkuat vektor China daripada benar-benar mendiversifikasinya,” ujar Narymbetov.

Rute TAPI sendiri menghadapi tantangan keamanan di Afghanistan, di mana pembangunannya masih terkendala. Sementara itu, proyek pipa Trans-Kaspia yang diusulkan untuk mengangkut gas Turkmenistan melintasi Laut Kaspia ke Eropa, mengalami kemacetan. Belum ada kesepakatan yang jelas mengenai pendanaan proyek tersebut atau kesepakatan gas jangka panjang yang akan membuatnya layak secara finansial.

Delegasi Uni Eropa menyatakan, “Kami menyerahkan keputusan tentang potensi Pipa Trans-Kaspia kepada Turkmenistan, Azerbaijan, dan/atau pihak lain yang tertarik untuk berinvestasi secara finansial di dalamnya.”

Di dalam negeri, kemitraan dengan Beijing kini menjadi jalur ekonomi vital bagi Turkmenistan. Pihak berwenang pun terus menampilkan Galkynysh sebagai sumber kemakmuran bagi seluruh negeri.

Advertisement