HANOI, KOMPAS.com – Budaya minum yang dahulu terbilang santai di Vietnam kini bertransformasi drastis. Pemerintah setempat memberlakukan kebijakan “Zero Tolerance” terhadap alkohol bagi para pengendara, sebuah langkah tegas yang diharapkan memutus akar masalah kecelakaan lalu lintas.
Sebelumnya, mengonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah sedikit sebelum mengemudi bukanlah hal yang asing bagi masyarakat Vietnam. Keyakinan bahwa diri masih mampu mengendalikan kendaraan meski telah menenggak minuman keras kerap menjadi pemicu insiden di jalan raya.
“Dulu, orang-orang di Vietnam bisa minum sedikit alkohol lalu tetap berkendara keluar. Mereka merasa masih cukup terjaga, padahal secara medis mereka tidak bisa mengontrol diri sepenuhnya,” ujar seorang pemandu wisata di Vietnam yang enggan disebutkan identitasnya.
Perubahan signifikan mulai terasa dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Vietnam menyadari bahwa persepsi “masih sanggup mengemudi” adalah akar masalah yang harus diberantas melalui regulasi yang tegas, terutama menjelang momen perayaan besar seperti Natal dan Tahun Baru, ketika konsumsi alkohol cenderung meningkat.
Dalam pengamatan langsung di pusat kota Hanoi, terlihat kerumunan petugas kepolisian yang rutin melakukan inspeksi terhadap pengendara roda dua. Pemandu wisata setempat menjelaskan bahwa fokus utama razia tersebut adalah pemeriksaan kadar alkohol.
Menariknya, perhatian petugas sepenuhnya diarahkan pada aspek keselamatan jiwa. Hal ini berbeda dengan praktik razia yang kerap ditemui di Indonesia, di mana pemeriksaan terhadap modifikasi kendaraan atau kelengkapan aksesori sering kali menjadi sasaran utama.






