Homey

Olah 650 Kg Sampah Makanan Jadi Kompos, Doku Incar Zero Waste Dapur Kantor

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Doku Indonesia, perusahaan teknologi finansial pembayaran, meluncurkan program “Green Pantry” sebagai upaya konkret mengelola limbah makanan di kantor secara sirkular. Inisiatif ini menargetkan pengalihan 650 kilogram atau sekitar 65 persen dari total sampah organik bulanan agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Langkah ini diambil berdasarkan volume sampah harian yang dihasilkan oleh sekitar 150 hingga 170 karyawan. Dengan estimasi produksi sampah mencapai hampir satu ton per bulan, yang didominasi oleh limbah makanan, pengelolaan langsung dari sumbernya di area dapur kantor dianggap sebagai solusi paling logis untuk menekan jejak karbon perusahaan.

Co-Founder dan Chief Marketing Officer Doku, Himelda Renuat, menekankan bahwa bisnis yang beroperasi secara digital pun tetap meninggalkan jejak lingkungan. “Bahkan bisnis digital tetap meninggalkan jejak. Melalui Green Pantry, kami ingin menunjukkan bahwa langkah sederhana di tempat kerja dapat memberikan dampak lingkungan yang nyata dan terukur. Perubahan tidak selalu harus besar. Dari pantry kantor, kami ingin menunjukkan bahwa langkah sederhana bisa memberikan dampak nyata,” ujar Himelda, Rabu (23/4/2026).

Mekanisme Pengelolaan Limbah

Sistem pengelolaan limbah dapur kering ini mengandalkan partisipasi aktif karyawan dalam memilah sampah organik. Limbah makanan tersebut kemudian diolah melalui serangkaian proses terkontrol, mulai dari dehidrasi, fermentasi, hingga pematangan, untuk menghasilkan kompos yang diberi nama “BeyondGrow”.

Pendekatan ini tidak hanya bertujuan mengurangi volume residu yang dibuang, tetapi juga mengubah beban biaya pengelolaan sampah menjadi produk bernilai guna untuk keperluan penghijauan dan perbaikan kualitas tanah.

Keterlibatan langsung karyawan dianggap krusial agar kebiasaan ramah lingkungan ini dapat tertanam sebagai bagian dari budaya kerja, bukan sekadar instruksi administratif.

Advertisement

Co-Founder dan Chief Operating Officer Doku, Nabilah Alsagoff, menjelaskan bahwa keberlanjutan korporasi harus terintegrasi sepenuhnya dalam aktivitas operasional sehari-hari. “Kami percaya keberlanjutan harus menjadi bagian dari cara kerja. Dengan sistem yang tepat dan keterlibatan karyawan, dampaknya dapat dikelola secara konsisten dan terukur,” tutur Nabilah.

Komitmen ESG dan Skalabilitas

Program Green Pantry diposisikan sebagai salah satu pilar dalam komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan. Selain aspek pengelolaan limbah, program ini dirancang agar mudah direplikasi dan dikembangkan, sehingga berpotensi menjadi referensi bagi perusahaan rintisan maupun korporasi lain yang ingin mengadopsi praktik operasional yang bertanggung jawab.

Sebagai bentuk perluasan manfaat, produk kompos BeyondGrow juga mulai diperkenalkan ke lingkup yang lebih luas untuk mendukung kesuburan tanah dan peningkatan daya serap air pada tanaman.

“Fokus pada pengelolaan limbah sirkular ini membuktikan bahwa efisiensi operasional dan kesadaran lingkungan dapat berjalan beriringan tanpa harus mengganggu produktivitas bisnis inti,” tegas Nabilah.

Advertisement