Para pemimpin perusahaan dihadapkan pada tekanan besar seiring dengan pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI). Tidak hanya dituntut untuk membimbing tim melewati perubahan ini, mereka juga merasakan kekhawatiran terhadap posisi pekerjaan mereka sendiri yang terancam oleh transformasi teknologi tersebut.
Sebuah survei yang dilakukan oleh platform AI Writer terhadap 2.400 pekerja dan eksekutif mengungkap temuan mengejutkan: 61 persen dari pemimpin teknologi mengaku cemas akan kehilangan pekerjaan jika gagal membawa organisasi mereka bertransisi dengan baik ke era AI. Kekhawatiran ini semakin menguat mengingat prediksi bahwa penggunaan AI di berbagai organisasi akan meluas secara signifikan dalam lima tahun mendatang.
Lebih dari tiga perempat eksekutif memperkirakan AI akan semakin terintegrasi dalam operasional perusahaan mereka dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Namun, di balik peningkatan adopsi ini, muncul rasa ketidakamanan. Setengah dari para eksekutif tersebut merasa bahwa keterampilan yang mereka miliki saat ini mulai tertinggal zaman di era AI.
Mina Alaghband, perwakilan dari platform Writer, menekankan pentingnya keberanian para pemimpin teknologi untuk mengambil kendali dalam situasi ini. Menurutnya, pemimpin yang efektif tidak lagi sekadar bertanya tentang strategi AI, melainkan berfokus pada bagaimana membangun infrastruktur dan alat yang tepat untuk menciptakan tenaga kerja berbasis AI yang kuat dan terkelola dengan baik.
Adopsi AI dan Dampaknya pada Tenaga Kerja
Adopsi AI telah menciptakan gelombang ketidakamanan pekerjaan yang merambah berbagai tingkatan dalam perusahaan. Baik para eksekutif teknologi maupun pekerja di level bawah sama-sama merasakan ancaman tergantikan oleh kemajuan teknologi ini.
Laporan dari Deloitte memprediksi bahwa pengeluaran dan penggunaan AI akan meningkat tiga kali lipat dalam dua tahun mendatang. Lonjakan investasi ini mengindikasikan perusahaan akan semakin mengandalkan AI dalam operasional mereka, sembari terus berupaya mengelola dampak yang ditimbulkannya.
Menariknya, 75 persen eksekutif memperkirakan agen AI akan menjadi bagian dari jajaran pimpinan tinggi perusahaan mereka dalam lima tahun ke depan. Namun, ironisnya, banyak eksekutif melaporkan adanya kesenjangan keahlian AI di antara para pemimpin. Sebanyak 58 persen merasa rekan sesama pemimpin mereka tidak memiliki pengetahuan dasar yang memadai untuk membuat keputusan strategis terkait AI.
Kesenjangan ini, menurut laporan tersebut, memicu stres di kalangan petinggi teknologi. Lebih dari separuh eksekutif menyatakan bahwa adopsi AI telah menimbulkan “perebutan kekuasaan dan gangguan” di dalam organisasi mereka. Lebih lanjut, 69 persen melaporkan adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang disebabkan oleh faktor AI.
Hampir setengah dari para eksekutif mengakui bahwa masalah adopsi AI ini berpotensi membuat mereka kehilangan pekerjaan dalam kurun waktu satu tahun ke depan. Kendati demikian, Alaghband memberikan pandangan yang lebih optimis, menekankan bahwa keterampilan manusia yang unik seperti penilaian, keahlian spesifik di bidang tertentu, dan pemahaman mendalam tentang perusahaan tetap tidak tergantikan oleh AI.
Ia menambahkan bahwa para pemimpin teknologi perlu memandang strategi AI sebagai keputusan krusial terkait talenta. Mereka harus memikirkan keahlian apa yang dapat diubah menjadi sistem AI atau kerangka penilaian apa yang perlu diintegrasikan ke dalam alur kerja AI.
Kesenjangan Keterampilan Penggunaan AI
Laporan tersebut juga menyoroti adanya kesenjangan keterampilan yang signifikan di antara karyawan dalam banyak organisasi. Terdapat kelompok “pengguna super” yang sangat produktif dalam memanfaatkan AI, sementara di sisi lain, ada pula yang jarang menggunakannya, bahkan menolaknya. Kesenjangan ini terlihat baik di kalangan staf maupun di level pimpinan.
Alaghband menjelaskan bahwa AI secara fundamental mengubah definisi pekerjaan. Nilai utama seorang pekerja kini bergeser dari sekadar melakukan tugas teknis, menjadi seorang pengatur atau “dirigen” bagi sistem cerdas tersebut.
“Tanggung jawab ada pada para pemimpin untuk meningkatkan ambisi manusia,” ujar Alaghband.
Ia melanjutkan, “Para eksekutif harus membantu orang-orang membayangkan peran pekerjaan yang bahkan belum ada saat ini, mendukung kerja sama antar tim daripada hanya fokus pada satu keahlian sempit, dan menyadari bahwa pengaruh seseorang kini ditentukan oleh hasil kerja dan kemampuan menggunakan AI, bukan lagi dari seberapa sibuk mereka atau seberapa lama mereka sudah bekerja.”






