Regional

Penjualan Pertamax Turbo Anjlok di Padang, SPBU Sebut Turun Lebih dari 50 Persen

Advertisement

PADANG, KOMPAS.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax Turbo, dilaporkan menyebabkan penurunan penjualan yang drastis di Kota Padang. Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mencatat bahwa penjualan jenis BBM ini anjlok lebih dari 50 persen sejak harga baru berlaku.

Salah satu SPBU yang berlokasi di kawasan Pisang, Kecamatan Pauh, mengalami dampak paling signifikan. Pengawas SPBU 14.251.518 melaporkan bahwa hingga Selasa (21/4/2026) sore, hanya satu kendaraan yang mengisi Pertamax Turbo. Kendaraan tersebut pun hanya mengisi sekitar Rp 80.000, setara dengan kurang lebih 4 liter.

“Dari pagi sampai pukul 15.30 WIB, baru satu kendaraan yang isi Pertamax Turbo, itu pun hanya sekitar Rp 80.000 atau kurang lebih 4 liter,” ujar pengawas SPBU tersebut.

Menurutnya, penurunan penjualan tidak hanya dialami Pertamax Turbo, tetapi juga Dexlite. “Secara keseluruhan, penjualan Pertamax Turbo dan Dexlite turun lebih dari 50 persen sejak kenaikan harga diberlakukan,” jelasnya.

Sebelumnya, Pertamax Turbo menjadi pilihan favorit, terutama bagi pengguna sepeda motor berperforma tinggi. “Biasanya yang beli itu anak-anak muda dengan motor bagus. Sekarang sudah sangat berkurang,” tuturnya.

Harga Pertamax Turbo di Padang kini menyentuh angka Rp 20.250 per liter, sebuah lonjakan tajam dari harga sebelumnya yang berkisar Rp 12.900 per liter. Kondisi serupa juga dialami oleh Dexlite. Jika biasanya SPBU tersebut mampu menjual 1 hingga 2 ton Dexlite per hari, kini penjualannya hanya mencapai sekitar 370 liter dalam sehari.

“Sudah sekitar empat jam belum ada yang isi Dexlite maupun Pertamax Turbo. Pembeliannya memang sangat berkurang,” imbuhnya.

Pasokan Melimpah, Potensi Kerugian SPBU

Di tengah merosotnya permintaan, pasokan BBM nonsubsidi di SPBU justru tetap dalam jumlah besar. Pengawas SPBU mengungkapkan bahwa sekali pengiriman, stok BBM nonsubsidi bisa mencapai 16.000 liter.

Advertisement

Kondisi ini berpotensi merugikan pihak SPBU. “Kalau penjualan sedikit, SPBU bisa rugi karena ada penyusutan,” katanya.

Berbeda dengan BBM nonsubsidi, penjualan jenis BBM lain dilaporkan relatif stabil. Pertamax (RON 92) masih mencatatkan volume penjualan normal. Demikian pula dengan Biosolar, yang permintaannya tetap tinggi.

Untuk Biosolar, SPBU tersebut menerima tiga kali pengiriman setiap hari, dengan masing-masing pengiriman sekitar 8.000 liter, sehingga total pasokan harian mencapai 24.000 liter. “Untuk solar antreannya masih biasa, tidak seperti di beberapa SPBU lain yang mulai mengular,” ujar pengawas tersebut.

Pergeseran Pola Konsumsi Masyarakat

Perubahan pola konsumsi masyarakat pasca-kenaikan harga BBM nonsubsidi memang terasa jelas. Pengguna kendaraan diesel dilaporkan banyak beralih ke Biosolar. Sementara itu, sebagian pengguna BBM jenis premium memilih untuk mengurangi volume pengisian.

Fenomena ini terlihat dari antrean Biosolar yang dilaporkan mengular hingga keluar area SPBU di Padang Timur. Peningkatan permintaan ini mayoritas berasal dari pengguna kendaraan diesel yang sebelumnya menggunakan Dexlite.

Kondisi ini mencerminkan dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi, yang tidak hanya menekan daya beli masyarakat tetapi juga secara signifikan menggeser preferensi konsumen menuju pilihan BBM yang lebih terjangkau.

Advertisement