Puluhan petani di Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, menghadapi kerugian besar akibat pencemaran lahan pertanian mereka. Dugaan kuat mengarah pada limbah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari yang mencemari saluran irigasi, terutama di Dusun Lamparan, hingga merusak lahan selama beberapa tahun terakhir. Air lindi, hasil peresapan sampah dari tumpukan di TPA, merembes ke tanah dan bermuara ke saluran irigasi sawah, menyebabkan air berwarna gelap dan berbau busuk. Kondisi ini membuat tanaman mati berulang kali dan tidak dapat dipanen, memaksa para petani menanggung kerugian terus-menerus.
Salah satu petani yang terdampak adalah Bukhari (65). Ia berulang kali mengalami gagal panen akibat pertumbuhan tanaman padinya yang abnormal. Kerusakan lahan sawahnya, yang berjarak hanya lima meter dari gunungan sampah TPA Pakusari, semakin parah sejak awal tahun 2025. Menurut Bukhari, padinya seolah hidup segan mati tak mau.
“Busuk leher, kering daun, sehingga produktivitasnya itu turun drastis yang mestinya itu dapat kalau rata-ratanya 6 ton per hektar kemarin cuma sedikit, bahkan sekarang mau ditanami lagi mati,” ungkapnya kepada Kompas.com, Senin (20/4/2026).
Saat Kompas.com meninjau langsung ke lokasi, padi milik Bukhari terlihat kerdil dan beberapa mengering. Air yang menggenang di beberapa area tampak berwarna hitam pekat dengan bau busuk, mencerminkan kondisi tanah yang serupa.
Bukhari menceritakan bahwa ia kembali mencoba menanam pada musim tanam kedua tahun ini. Namun, setelah satu bulan, padinya tidak menunjukkan pertumbuhan sama sekali, bahkan beberapa langsung mengering. Padahal, pupuk telah dioptimalkan di lahan seluas 4.000 meter persegi miliknya, dan upaya penyulaman telah dilakukan hingga tiga kali.
“Bahkan kalau sudah disulam lagi tetap mati. Jadi enggan saya untuk tanam lagi karena takut ruginya itu. Terus-terusan tambah rugi, tanaman enggak hidup-hidup,” keluhnya.
Situasi ini membuat Bukhari memilih untuk tidak melanjutkan penanaman padi di sawah Dusun Lamparan karena tidak sanggup menutupi biaya produksi. Ia berkesimpulan bahwa sawahnya tidak lagi produktif.
Upaya beralih ke tanaman cabai rawit pada tahun lalu pun tidak menyelamatkan kondisi lahan. Pertumbuhannya lambat, kerdil, terserang hama, dan hasil panen jauh dari normal sehingga tidak balik modal. Bukhari mengaku nyaris menyerah dan berharap ada perbaikan irigasi dari pihak terkait agar kualitas tanahnya kembali normal.
“Agar sawah atau tanah yang tercemar dari TPA ini cepat dikembalikan lagi ke normalnya, kualitas tanahnya. Sehingga bisa ditanami seperti biasanya,” ujarnya.
Petani Lain Terpaksa Buat Saluran Irigasi Sendiri
Persoalan serupa juga dialami Rifa’i (39). Sawahnya yang berjarak hanya setengah meter dari TPA Pakusari mengalami masalah yang lebih serius. Padi yang baru ditanam di sawah seluas 1,5 hektar miliknya langsung kering, meskipun sudah disulam hingga tiga kali.
“Kalau tercemar sudah dari 2010, tapi efeknya masih enggak separah sejak tahun kemarin,” katanya.
Rifa’i mengungkapkan bahwa produktivitas tanamannya terus menurun setiap tahun, dan hasil panen padinya tidak lagi optimal. Kerugian yang dialaminya dalam sekali musim tanam bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Ia mengaku telah berinisiatif membuat saluran irigasi sendiri dengan menghabiskan biaya Rp 15 juta. Namun, air yang mengalir tetap tercemar dan berwarna seperti kecap. “Tapi ya alirannya tetap air tercemar, warnanya seperti kecap. Lama-kelamaan air itu menyerap juga,” ujar pria asal Dusun Sumber Dandang itu.
Rifa’i dan petani lainnya sangat yakin bahwa irigasi sawah mereka tercemar dari TPA Pakusari. “Secara kasat mata saja, airnya itu keluar dari tanah gunungan sampah TPA, kayak sumber itu,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa para petani biasanya memakai sepatu bot saat ke sawah untuk menghindari kaki bersentuhan langsung dengan air yang dianggap menyebabkan gatal dan rasa panas.
Pantauan Kompas.com di lokasi menunjukkan adanya rembesan air hitam pekat yang keluar dari tanah di lahan TPA Pakusari dan mengalir ke irigasi sawah. Sepanjang saluran irigasi tersebut terlihat berwarna hitam dan berbau busuk. Saat musim kemarau, air cenderung mengalir lambat dan terkadang mengendap lama.
“Kalau baru kemarau panjang kan enggak ada air. Airnya itu kalau lama-kelamaan kayak lendir, berminyak,” kata Rifa’i.
Para petani berharap adanya upaya penghentian pencemaran dari pemerintah daerah. Sementara sawahnya tidak menghasilkan, Rifa’i terpaksa bergantung pada pekerjaan sampingan sebagai sales jajanan.





