SURABAYA, Indonesia — Sekitar 49 warga dari berbagai daerah, termasuk 13 orang dari Surabaya, dilaporkan menjadi korban penipuan oleh sebuah agen perjalanan haji dan umrah. Total kerugian yang dialami para korban diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Salah satu korban, Bagus Unggul Hermawan, menceritakan pengalamannya yang telah melunasi biaya umrah sebesar Rp 62.500.000, setelah sebelumnya menyetor uang muka Rp 5.000.000 pada akhir tahun 2024. “Informasi yang diberikan berbelit-belit dan saya selalu dilempar-lempar, dipingpong untuk menghubungi ini, terus ini,” ujar Bagus kepada Kompas.com, Rabu (23/4/2026).
Dijanjikan Berangkat Januari 2026, Keberangkatan Tak Kunjung Pasti
Bagus mengaku telah mengikuti manasik pada 14 Desember 2025 dan dijanjikan akan berangkat umrah pada 10 Januari 2026. Namun, hingga kini, jadwal keberangkatan tersebut tidak kunjung terealisasi. Ia sempat menerima informasi mengenai penundaan keberangkatan menjadi 31 Januari 2026, namun akhirnya memutuskan untuk meminta pengembalian dana.
“Waktu itu saya ditawari diundur keberangkatan atau dilempar ke travel lain, tapi saya sudah enggak mau, saya langsung datang ke kantornya saya minta uangnya dikembalikan saja,” tuturnya.
Kerugian Capai Miliaran, Lansia Jadi Sasaran Utama
Menurut Bagus, jumlah korban mencapai sekitar 49 orang yang berasal dari berbagai daerah seperti Surabaya, Mojokerto, dan Pasuruan. Khusus dari Surabaya, terdapat 13 korban. “Terakhir kami total kerugian dari tujuh korban yang dari Surabaya saja ada sekitar Rp 400 juta. Kalau total keseluruhan bisa sampai bermiliar-miliar,” ungkapnya.
Setelah melayangkan somasi, pihak travel dikabarkan berkomitmen untuk mengembalikan dana secara bertahap. “Total yang dikembalikan baru ada Rp 10 juta,” kata Bagus.
Korban lain, Hakiki, menambahkan bahwa sebagian besar korban adalah lansia berusia 50 hingga 60 tahun. “Jadi kami di sini rata-rata anak atau ponakan yang membantu para orang tua karena sudah sepuh-sepuh korbannya,” ujarnya.
Hakiki sendiri mengalami kerugian sebesar Rp 75.500.000 untuk paket umrah tiga orang. “Toh juga uang saya belum diapa-apakan, belum diuruskan visa, belum dibelikan tiket. Sampai orangtua saya diajak manasik dua kali,” keluhnya.
Berbeda dengan Bagus, Hakiki mengaku belum menerima pengembalian dana sepeser pun dari pihak travel.
Upaya Pelaporan dan Harapan Kepastian Hukum
Saat ini, para korban tengah berupaya melaporkan kasus dugaan penipuan ini ke Rumah Aspirasi Wakil Wali Kota Surabaya dan Polda Jawa Timur. Mereka berharap agar kasus ini segera mendapat kepastian hukum dan dana yang telah disetorkan dapat dikembalikan.






