Samarinda, Kalimantan Timur – Sebanyak 46 orang dilaporkan memerlukan penanganan medis selama aksi unjuk rasa yang digelar di dua lokasi berbeda di Samarinda pada Selasa, 21 April 2026. Mayoritas dari mereka adalah mahasiswa yang mengalami gangguan kesehatan, mulai dari kondisi ringan hingga sedang.
Ketua Info Taruna Samarinda, Joko Iswanto, menyatakan bahwa tim relawan medis telah bersiaga sejak pagi untuk mengawal jalannya aksi yang berpusat di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur, sebelum berlanjut ke Kantor Gubernur Kaltim hingga malam hari.
“Berkaitan dengan aksi demo kemarin, kami dari relawan telah melakukan pengamanan medis di dua lokasi berbeda,” ujar Joko saat ditemui di Samarinda, Rabu (22/4/2026).
Penanganan Medis di Dua Titik Aksi
Tim medis awalnya memfokuskan perhatian di sekitar Kantor DPRD Kaltim, dengan dukungan sekitar 14 unit ambulans. Hingga siang hari, belasan peserta aksi dilaporkan membutuhkan bantuan oksigen dan perawatan luka.
“Di kantor DPRD Provinsi Kaltim hingga pukul 13.00 Wita telah melakukan sebanyak 11 penanganan pasien, dan rata-rata itu dari pendemo,” kata Joko.
Jumlah penanganan meningkat secara signifikan ketika massa aksi berpindah ke area Kantor Gubernur Kaltim pada siang hingga sore hari. Di lokasi kedua ini, tim medis menangani puluhan kasus tambahan seiring dengan dinamika aksi yang semakin intens.
“Sekitar pukul 13.00 kami bergeser ke kantor gubernur, hingga pukul 20.30 Wita kami melakukan kurang lebih 35 penanganan,” jelas Joko.
Rincian Gangguan Kesehatan dan Rujukan
Secara akumulatif, total penanganan medis yang dilakukan tim relawan mencapai 46 kasus. Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim medis, keluhan yang paling umum dirasakan oleh para peserta aksi meliputi:
- Sesak napas, yang umumnya disebabkan oleh kelelahan dan kondisi berdesakan dalam kerumunan massa.
- Luka-luka ringan, akibat gesekan atau benturan yang terjadi selama berlangsungnya aksi.
- Satu kasus serangan jantung, yang memerlukan rujukan ke fasilitas rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
Joko memastikan bahwa sebagian besar dari mereka yang membutuhkan penanganan adalah mahasiswa, meskipun terdapat pula beberapa peserta dari kalangan masyarakat umum. Secara umum, kondisi kesehatan para pasien dilaporkan berada dalam kategori ringan hingga sedang.
Bantahan Hoaks Korban Meninggal
Menanggapi beredarnya informasi di media sosial yang menyebutkan adanya korban meninggal dunia akibat aksi tersebut, Joko dengan tegas membantah kebenaran kabar tersebut.
“Untuk informasi ada yang meninggal dunia, itu tidak benar atau hoaks,” tegasnya.
Pihaknya mengonfirmasi bahwa seluruh korban telah mendapatkan penanganan yang memadai dari tim relawan di lapangan. Sementara itu, untuk satu pasien yang dirujuk ke rumah sakit, tim relawan masih terus memantau perkembangan status kesehatannya dan perkiraan kepulangannya.






