Konflik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz, yang berujung pada penutupan jalur vital tersebut oleh Teheran sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari 2026, telah menyoroti peran krusial jalur laut dalam perdagangan global. Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima pasokan energi global, menjadi pusat perhatian karena potensi dampaknya yang masif terhadap ekonomi internasional. Di tengah ketegangan tersebut, banyak perusahaan memilih untuk menghindari rute ini, mengingat blokade kapal oleh AS yang menuju atau dari pelabuhan Iran.
Namun, di luar Selat Hormuz, dunia maritim memiliki sejumlah jalur laut strategis lainnya yang memainkan peran serupa dalam kelancaran arus perdagangan global. Dikutip dari South China Morning Post (SCMP) pada Senin (20/4/2026), berikut adalah beberapa di antaranya:
Jalur Laut Strategis Dunia
1. Selat Malaka dan Selat Singapura
Menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, kedua selat ini membentuk koridor maritim tersibuk di dunia untuk pengiriman minyak mentah dan produk petroleum cair berdasarkan volume barel per hari. Selat Malaka, dengan panjang sekitar 800 kilometer dan lebar kurang dari dua mil laut di titik tersempitnya, melayani hampir 40 persen perdagangan global. Sekitar sepertiga dari seluruh minyak dan kargo cair dunia diangkut melalui rute ini. Pengelolaan kedua selat ini dilakukan bersama oleh Malaysia, Singapura, dan Indonesia.
2. Selat Turki
Sistem jalur laut sepanjang 300 kilometer ini memisahkan Eropa dan Asia, terdiri dari Selat Bosporus, Laut Marmara, dan Dardanelles. Selat Turki menjadi satu-satunya jalur maritim alami yang menghubungkan Laut Hitam dengan Laut Mediterania. Turki mengontrol transit kapal perang asing di selat ini berdasarkan Konvensi Montreux tahun 1936. Jalur ini krusial untuk volume ekspor biji-bijian, terutama dari Ukraina, dan menjadi penghubung penting dalam rantai pasokan pupuk global.
3. Terusan Suez
Terusan Suez, yang menghubungkan Laut Mediterania dengan Laut Merah, merupakan arteri vital bagi perdagangan dunia. Lebih dari sepersepuluh perdagangan global dan sekitar 30 persen lalu lintas kontainer dunia melintasi rute ini. Dibangun oleh Mesir dan beroperasi sejak 1869, terusan ini menawarkan rute maritim terpendek antara Eropa dan Asia, menggantikan jalur pelayaran mengelilingi Afrika. Terusan Suez membentang melintasi Tanah Genting Suez dan menjadi salah satu jalur pelayaran paling padat di dunia.
4. Selat Bab el-Mandeb
Selat Bab el-Mandeb berfungsi sebagai gerbang maritim selatan menuju Terusan Suez, terletak di antara Yaman dan Djibouti. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia, menjadikannya jalur krusial untuk pengiriman komoditas global, terutama minyak mentah dan bahan bakar dari kawasan Teluk ke Mediterania, serta komoditas menuju Asia, termasuk minyak Rusia. Diperkirakan sekitar 12 persen perdagangan global melewati selat ini setiap hari.
5. Selat Gibraltar
Sebagai satu-satunya pintu masuk alami ke Laut Mediterania dari Samudra Atlantik, Selat Gibraltar berbatasan dengan Spanyol dan Maroko di ujung selatan Semenanjung Iberia. Jalur air ini menjadi rute lalu lintas tinggi untuk barang konsumsi yang ditujukan ke Eropa selatan dan Afrika Utara, dengan lebar sekitar 14 kilometer di titik tersempitnya. Meskipun Spanyol mengklaim kedaulatan atas Gibraltar, Inggris mempertahankan kendali hukum atas wilayah tersebut berdasarkan Perjanjian Utrecht tahun 1713.
6. Selat Taiwan
Perairan yang memisahkan pulau Taiwan dari daratan Asia ini mengangkut sekitar setengah dari armada kontainer aktif dunia dan lebih dari seperlima perdagangan maritim global. Dengan panjang sekitar 400 kilometer dan lebar minimal 130 kilometer, selat ini juga merupakan jalur pengiriman utama untuk rantai pasokan semikonduktor global. Meningkatnya ketegangan lintas selat dalam beberapa tahun terakhir telah menarik perhatian internasional terhadap keamanan koridor maritim ini.
7. Selat Luzon
Selat Luzon, jalur selebar sekitar 250 kilometer, terletak di antara pulau Taiwan dan Luzon, bagian utara Filipina. Berada tepat di selatan Selat Taiwan, selat ini meskipun tidak seramai Selat Taiwan, tetap menjadi jalur pelayaran penting untuk perdagangan antara Asia Tenggara dan Amerika. Selat ini juga menjadi lokasi jaringan kabel serat optik bawah laut yang vital untuk konektivitas internet global. Selat Luzon menghubungkan Samudra Pasifik dengan Laut Cina Selatan, menangani lebih dari 40 persen aliran propana dan lebih dari seperlima perdagangan otomotif.
8. Rute Laut Arktik dan Selat Bering
Sebuah studi yang diterbitkan pada September 2025 oleh para sarjana dari Sekolah Pascasarjana Shenzhen Universitas Peking memprediksi bahwa pada tahun 2100, Arktik dapat mendukung navigasi sepanjang tahun untuk semua jenis kapal utama. Hal ini berpotensi mengalihkan sebagian besar lalu lintas pengiriman global, melampaui volume Terusan Suez dan Terusan Panama. Studi tersebut menyatakan bahwa pembukaan rute Laut Arktik “akan membentuk kembali perdagangan maritim global, memposisikan Selat Bering sebagai titik hambatan kritis”. Selat Bering, yang menghubungkan Samudra Arktik dan Pasifik, memiliki lebar sekitar 80 kilometer di titik tersempitnya dan memisahkan Rusia dari Alaska, Amerika Serikat.






