Amerika Serikat (AS) membantah telah memindahkan sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Korea Selatan ke Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan oleh seorang pejabat militer AS pada Selasa (21/4/2026), meredakan kekhawatiran Seoul yang sebelumnya sempat dirundung laporan mengenai kemungkinan pemindahan pilar pertahanan nasional tersebut.
Sebelumnya, sebuah laporan dari Washington Post pada bulan lalu, mengutip pejabat yang tidak disebutkan namanya, mengindikasikan bahwa AS akan memindahkan sebagian dari sistem THAAD dari Korea Selatan untuk digunakan dalam konflik di Iran. Laporan tersebut sontak menimbulkan kegelisahan di kalangan pemerintah dan masyarakat Korea Selatan, mengingat peran krusial THAAD dalam menghadapi ancaman rudal nuklir dari Korea Utara.
Namun, Komandan Pasukan AS di Korea Selatan, Xavier Brunson, memberikan klarifikasi tegas dalam sidang komite Senat AS di Washington. “THAAD masih berada di semenanjung Korea saat ini,” ujar Brunson, seperti dikutip dari AFP, Rabu (22/4/2026). Ia menambahkan bahwa AS memang mengirimkan amunisi ke Timur Tengah, yang kini tengah menunggu untuk dipindahkan, namun hal tersebut tidak berkaitan dengan sistem THAAD.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan sistem tersebut tetap berada di Korea Selatan, Brunson menjawab dengan keyakinan, “Ya.”
Dampak Keputusan AS bagi Seoul
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menyuarakan ketidakpuasan negaranya terkait isu pemindahan sistem THAAD. Meski demikian, ia mengakui keterbatasan yang dimiliki pemerintah Seoul dalam menyikapi keputusan AS.
Kementerian Pertahanan Seoul sebelumnya telah menyatakan bahwa sistem THAAD mampu menjadi benteng pertahanan efektif terhadap ancaman dari Korea Utara, bahkan jika sebagian aset militer AS dipindahkan. Sistem pertahanan canggih ini telah ditempatkan di Korea Selatan sejak tahun 2017, bersamaan dengan sekitar 28.500 tentara AS yang bertugas di negara tersebut.
Penempatan sistem THAAD di Korea Selatan sendiri sempat memicu reaksi keras dari Tiongkok, yang memandang sistem tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya.
Mengenal Sistem Pertahanan THAAD
THAAD merupakan sistem pertahanan rudal balistik yang dirancang untuk mencegat rudal jarak pendek, menengah, dan jauh. Sistem ini mengandalkan teknologi “hit-to-kill”, yang berarti pencegat menghancurkan target dengan cara bertabrakan langsung, bukan meledakkan diri di dekat hulu ledak.
Dilansir dari CNN (14/20/2024), THAAD memadukan sistem radar canggih dengan pencegat, menjadikannya salah satu senjata anti-rudal paling ampuh milik militer AS. Sistem ini mampu mencegat rudal balistik pada ketinggian 150 hingga 200 kilometer dengan tingkat keberhasilan yang mendekati sempurna dalam berbagai pengujian.
Akurasi THAAD sangat bergantung pada sistem radar AN/TPY-2 (Army Navy/Transportable Radar Surveillance), yang menyediakan informasi penargetan krusial bagi rudal pencegat.






