Global

Krisis Selat Hormuz Bukti Kerentanan Bahan Bakar Fosil, Transisi Energi Tak Bisa Ditunda

Advertisement

Gejolak energi global yang dipicu krisis di Selat Hormuz kian menegaskan urgensi transisi ke energi terbarukan. Pertemuan menteri iklim di Berlin, Jerman, yang membahas prioritas menjelang Konferensi Perubahan Iklim (COP31) di Turkiye pada November mendatang, menjadi forum krusial untuk menggarisbawahi pentingnya investasi energi bersih sebagai alternatif bahan bakar fosil.

Pertemuan dua hari ini berlangsung di tengah kesulitan banyak negara yang bergulat dengan kelangkaan energi dan lonjakan harga akibat terganggunya pasokan melalui Selat Hormuz. Situasi ini memaksa beberapa pemerintah untuk melakukan penjatahan bahan bakar dan bahkan kembali melirik batu bara demi mengamankan kebutuhan energi.

Menteri Iklim Turkiye sekaligus Presiden COP31, Murat Kurum, menilai krisis yang terjadi saat ini menjadi pengingat keras bagi dunia. “Krisis ini telah menunjukkan kepada kita, sekali lagi, bahwa bahan bakar fosil tidak menjamin keamanan pasokan energi,” ujar Kurum melalui seorang penerjemah.

Menurut Kurum, investasi pada sumber energi alternatif, terutama untuk mendukung keragaman energi, merupakan langkah strategis dalam menciptakan stabilitas, ketahanan, dan pembangunan yang bersih. “Inilah yang harus kita semua kejar,” tegasnya, sembari menambahkan bahwa respons setiap negara akan bervariasi tergantung pada kondisi ekonomi masing-masing.

Transisi Energi sebagai Solusi Keamanan

Senada dengan Kurum, Menteri Iklim Australia Chris Bowen menekankan bahwa energi terbarukan dapat memperkuat keamanan energi sekaligus membendung dampak guncangan bahan bakar fosil di masa depan. “Energi terbarukan adalah proposisi yang terbukti dan merupakan bentuk energi termurah yang pernah dikenal,” kata Bowen.

Advertisement

Bowen menyampaikan pernyataannya melalui video setelah batal bertolak ke Berlin akibat krisis bahan bakar yang tengah melanda Australia. “Saat pasokan energi dan ekonomi kita menghadapi hambatan, sekarang bukan waktunya untuk ragu, melainkan waktu untuk bertindak dengan kejelasan dan keyakinan untuk melanjutkan transisi kita menuju energi yang bersih, murah, dan andal,” tegas Bowen.

Data menunjukkan bahwa investasi pada energi bersih saat ini mencapai sekitar dua kali lipat dibandingkan bahan bakar fosil. Namun, ironisnya, emisi penyebab perubahan iklim dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas justru diprediksi melonjak ke rekor tertinggi pada tahun 2025.

Situasi ini menjadi tantangan tersendiri mengingat hampir 200 negara telah sepakat pada COP28 tahun 2023 untuk beralih dari bahan bakar fosil. Meski demikian, upaya mewujudkan janji tersebut menghadapi hambatan besar sejak saat itu.

Langkah nyata dalam COP31 mendatang pun masih menjadi sorotan. Kondisi ini diperumit oleh fakta bahwa Australia merupakan produsen utama bahan bakar fosil, sementara Turkiye sangat bergantung pada batu bara untuk memenuhi kebutuhan energinya.

Advertisement