Kegiatan Belajaraya Jakarta akan kembali digelar pada 2 Mei 2026 di Taman Ismail Marzuki, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Kali ini, Belajaraya untuk pertama kalinya menyelenggarakan acara di sembilan kota di Indonesia, menandai puncak dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung di Bali, Bandung, Makassar, Semarang, Surabaya, dan Kupang.
Belajaraya Jakarta tahun ini akan menawarkan beragam ruang partisipasi publik yang dirancang untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih inklusif, kolaboratif, dan menyenangkan. Pengunjung dapat menikmati berbagai format acara seperti Ngobrol Publik, Kelas Belajar, Booth Komunitas, Pameran Karya, hingga Pertunjukan Musik.
Tokoh Lintas Sektor Hadir
Sejumlah tokoh publik dari berbagai sektor akan turut memeriahkan acara ini. Mereka dijadwalkan hadir untuk berbagi perspektif dan pesan penting mengenai isu-isu pendidikan. Di antara para tokoh yang akan hadir adalah Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid; Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar; serta Prof. M. Quraish Shihab dan Najwa Shihab. Turut hadir pula figur publik seperti Nikita Willy, Ryan Adriandhy, dan musisi Tanah Air seperti Andien, Dere, serta Endah n Rhesa.
Belajaraya, yang diinisiasi oleh Jaringan Semua Murid Semua Guru (SMSG) sejak tahun 2016, biasanya diadakan di enam kota. Untuk perhelatan di Jakarta kali ini, fokus utama adalah menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan.
“Melalui forum ini, Belajaraya menegaskan bahwa upaya memajukan pendidikan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan bersama dari berbagai pihak,” ujar Ketua Umum SMSG, Marsya Nurmaranti, dalam konferensi pers yang digelar pada Selasa (21/4/2026) di Senayan, Jakarta Pusat.
Perluasan Definisi Pendidikan
Pendidik sekaligus inisiator Jaringan SMSG, Najelaa Shihab, mengungkapkan bahwa tantangan paling mendasar yang dirasakan di lingkup komunitas mereka adalah mengenai definisi pendidikan itu sendiri. Ia menyebutkan bahwa pertanyaan yang sering muncul adalah apakah “Semua Murid Semua Guru” hanya berlaku di lingkungan sekolah.
“Kalau kita bilang Semua Murid Semua Guru itu pertanyaan yang paling sering muncul ini asumsinya murid dan guru di sekolah. Jadi definisi tentang jaringan penggerak pendidikan, buat masyarakat kita itu pendidikan sama dengan persekolahan,” ungkap Najelaa.
SMSG berupaya melawan paradigma tersebut, dengan menekankan bahwa pendidikan tidak selalu harus terwujud dalam bangunan sekolah.
“Karena kalau pendidikan itu sama dengan persekolahan maka pada akhirnya tujuan pendidikan adalah lulus ujian, dapat ijazah,” tutur Najelaa lebih lanjut.
Padahal, konsep pendidikan yang diusung SMSG adalah perubahan perilaku, bukan semata-mata ijazah. Perubahan perilaku ini mencakup perbaikan sistem, peningkatan status negara menjadi negara maju, serta kontribusi yang lebih besar bagi ekosistem secara keseluruhan.
Tantangan Pendidikan Indonesia
Hingga saat ini, Jaringan Semua Murid Semua Guru telah beranggotakan 1.176 komunitas dan organisasi pendidikan. Najelaa menyoroti banyaknya isu sekaligus tantangan dalam bidang pendidikan di Indonesia.
Sebagai gambaran, ia menjelaskan bahwa SMSG memiliki 15 klaster kerja. “Ada yang berkaitan dengan teknologi. Di teknologi ada 71 dari 1.100 sekian komunitas dan organisasi pendidikan,” ucapnya.
“Kemudian literasi, literasi itu juga banyak sekali. Definisi luas ada literasi digital, ada literasi finansial, ada literasi dalam arti foundational skills. Itu paling banyak ada 343 komunitas dan organisasi pendidikan yang bekerja di bidang itu. Kemudian ada kepemimpinan, kepemudaan, karakter, pengembangan guru,” papar Najelaa.
Ia meyakini bahwa keberhasilan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia merupakan hasil dari kerja sama dan dampak kolektif yang dihasilkan oleh seluruh komunitas dan organisasi pendidikan.






