Tekno

Bisnis Apple di Era Tim Cook: Getol Jualan iCloud, Tak Cuma Bikin iPhone, iPad, Mac

Advertisement

CEO Apple Tim Cook secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya di perusahaan teknologi raksasa yang berpusat di Cupertino, Amerika Serikat. Cook telah memimpin Apple sejak 24 Agustus 2011, menjelang wafatnya Steve Jobs. Selama hampir 15 tahun memimpin, Cook, yang sebelumnya menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) di era Jobs, berhasil membawa transformasi signifikan bagi Apple. Di bawah kepemimpinannya, bisnis Apple tidak hanya berfokus pada penjualan perangkat keras premium.

Sejak era Steve Jobs, Apple dikenal luas sebagai produsen dan penjual perangkat keras kelas atas dengan harga premium. Berbagai perangkat seperti MacBook, Mac, iPhone, dan iPad menjadi produk andalan yang terus diminati. Sistem operasi eksklusif juga memperkuat citra tersebut. Di bawah kepemimpinan Tim Cook, Apple tetap melanjutkan tradisi memproduksi perangkat keras unggulan, termasuk AirPods, Vision Pro, chipset seri M, dan Apple Watch.

Namun, Cook juga mengarahkan Apple untuk tidak hanya terpaku pada penjualan perangkat keras. Ia memanfaatkan ekosistem Apple yang kuat untuk mengembangkan dan menjual berbagai layanan berlangganan, seperti iCloud, App Store, Apple TV, dan Apple Music. Strategi ini terbukti ampuh mendongkrak pendapatan perusahaan.

Divisi Layanan Jadi Mesin Pendapatan Baru

Divisi layanan berhasil menjadi penyumbang signifikan bagi pundi-pundi pendapatan Apple. Laporan keuangan Apple menunjukkan bahwa penjualan layanan ini menyumbang 26 persen dari total pendapatan perusahaan pada tahun fiskal 2025. Tren positif ini terus berlanjut, dengan divisi layanan mencetak rekor pendapatan tertinggi sepanjang masa.

Pendapatan divisi layanan Apple pada kuartal keempat tahun fiskal 2025, yang berakhir pada 27 September 2025, mencapai sekitar 28,8 miliar dollar AS atau setara Rp 493 triliun (dengan kurs saat ini). Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 98 persen dibandingkan lima tahun sebelumnya, yang hanya mencapai 14,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 248 triliun), menurut data dari Statista.

Layanan Mendorong Pertumbuhan Penjualan dan Valuasi Perusahaan

Kontribusi divisi layanan tidak hanya terlihat pada pendapatan, tetapi juga pada performa penjualan Apple secara keseluruhan. Selama satu dekade terakhir, dari 2015 hingga 2025, penjualan bersih tahunan Apple tumbuh dari 234 miliar dollar AS (sekitar Rp 4.000 triliun) menjadi 416 miliar dollar AS (sekitar Rp 7.000 triliun). Sementara itu, penjualan layanan Apple melonjak dari hampir 20 miliar dollar AS (sekitar Rp 342 triliun) menjadi 109 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.800 triliun).

Hal ini mengindikasikan bahwa layanan telah mendorong hampir 50 persen pertumbuhan penjualan Apple dalam sepuluh tahun terakhir. Tim Cook menyadari potensi besar dari basis pengguna yang telah terintegrasi dalam ekosistem Apple. Layanan berfungsi untuk mengikat pengguna, mendorong mereka untuk terus menggunakan dan berlangganan produk serta layanan Apple.

Dengan basis pengguna aktif yang mencapai 2,3 miliar perangkat dan penawaran layanan baru yang terus dihadirkan selama dekade terakhir, Apple berhasil mengumpulkan lebih dari satu miliar pelanggan berbayar. Pendapatan dari layanan saja kini melampaui 100 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.700 triliun) per tahun.

Advertisement

Strategi penjualan layanan yang diterapkan di bawah kepemimpinan Cook ini secara fundamental telah mengubah Apple menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia. Kapitalisasi pasar Apple meroket lebih dari 1.000 persen selama masa jabatannya, dari sekitar 350 miliar dollar AS menjadi menembus 4 triliun dollar AS (sekitar Rp 68.000 triliun). Prestasi ini menjadikan Apple sebagai perusahaan pertama dalam sejarah yang mencapai tonggak valuasi 1, 2, dan 3 triliun dollar AS.

John Ternus Ditunjuk sebagai Pengganti

Selepas mundur dari jabatan CEO, Tim Cook akan beralih peran menjadi Executive Chairman di dewan direksi Apple. Posisi kepemimpinan Apple selanjutnya akan diemban oleh John Ternus, yang saat ini menjabat sebagai Senior Vice President of Hardware Engineering.

Nama John Ternus bukan hal baru di kalangan internal Apple maupun pengamat teknologi. Bergabung dengan tim desain produk Apple sejak tahun 2001, Ternus memiliki latar belakang pendidikan Teknik Mesin dari University of Pennsylvania. Kariernya menanjak pesat, menjabat sebagai Vice President of Hardware Engineering pada tahun 2013 dan masuk dalam jajaran eksekutif pada tahun 2021.

Ternus dikenal sebagai sosok kunci di balik pengembangan perangkat keras berbagai lini produk utama Apple, mulai dari iPhone, iPad, Mac, hingga AirPods. Dalam pernyataannya, Tim Cook memuji Ternus sebagai pribadi yang memiliki “pemikiran seorang insinyur, jiwa seorang inovator, dan hati untuk memimpin dengan integritas.”

Perubahan ini juga melibatkan Arthur Levinson, yang akan bergeser dari jabatannya sebagai Non-Executive Chairman Apple selama 15 tahun terakhir, menjadi Lead Independent Director. Sementara itu, John Ternus akan resmi bergabung dengan dewan direksi Apple pada 1 September mendatang.

Pengumuman mendadak ini sempat menimbulkan reaksi di pasar saham. Laporan mencatat, saham Apple (AAPL) mengalami penurunan sekitar 1 persen pada sesi perdagangan di luar jam kerja (after-hours trading) setelah pengumuman transisi kepemimpinan, sebelum akhirnya menunjukkan stabilitas.

Advertisement