Megapolitan

Deg-degan soal Kondisi Timur Tengah, Jemaah Haji Ini Fokus Persiapan Mental

Advertisement

JAKARTA, Kompas.com – Di tengah kekhawatiran atas memanasnya situasi di Timur Tengah, Cucu Suryana (56), jemaah haji asal Ciracas, Jakarta Timur, memilih untuk fokus pada persiapan mental dan fisik menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci. Ia menyadari bahwa ibadah haji, apalagi yang pertama kali dijalani, akan penuh dengan tantangan, baik dari segi kesehatan maupun kondisi perjalanan.

“Intinya persiapannya mental. Banyak cobaan-cobaan, terus situasi kesehatan juga. Tapi tetap kami tabah, kami yakin Allah akan memberangkatkan saya,” ujar Cucu saat ditemui di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin (21/4/2026).

Cucu mengungkapkan, ia telah mengantre selama kurang lebih 10 tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji tahun ini. Pendaftarannya dilakukan setelah sang istri lebih dulu mendaftar pada tahun 2013. Selama masa penantian, Cucu giat menabung dari hasil jerih payahnya sebagai teknisi mobil besar di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

“Terus terang saya deg-degan, karena saya belum tahu bagaimana. Masih cuma dengar cerita orang seperti apa. Tapi alhamdulillah dari mulai perjalanan, pelayanan sudah baik,” jelasnya.

Kekhawatiran sempat menghampirinya terkait kondisi Timur Tengah yang masih dilanda konflik. Namun, Cucu tetap berpegang teguh pada optimisme bahwa perjalanan ibadahnya akan berjalan lancar.

Penantian Panjang Jemaah Lansia

Sementara itu, Sariyem (68), seorang pensiunan guru asal Cibubur, Jakarta Timur, juga telah menanti selama 13 tahun untuk dapat menunaikan ibadah haji. Ia akan berangkat bersama sang suami, Lasimo (70).

Sariyem menceritakan bahwa biaya haji dikumpulkan dari hasil menabung selama ia bekerja sebagai guru, sementara suaminya berprofesi di sektor swasta. Ia mengaku sangat terharu ketika namanya terdaftar sebagai salah satu jemaah yang akan berangkat tahun ini.

“Iya, saya nabung. Prosesnya pertama Rp 25 juta setelah dapat panggilan baru saya ngelunasin. Jadi terus enggak nyicil-nyicil lagi. Soalnya kami nyimpen,” tutur Sariyem.

Advertisement

Bagi Sariyem, ibadah haji ini merupakan pengalaman pertama. Ia memiliki harapan besar untuk dapat memanjatkan doa terbaik bagi seluruh keluarganya saat berada di Tanah Suci.

“Sampai depan kabah, ingin doa biar semua keluarga sehat, panjang umur, lancar rezekinya, berkah barokah,” ungkapnya.

Proses Kedatangan Jemaah Kloter Pertama

Sebelumnya, sebanyak 393 jemaah haji dari kloter pertama embarkasi Jakarta telah mulai memasuki Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, sejak Selasa (21/4/2026) pagi. Kedatangan mereka disambut dengan proses registrasi dan pemeriksaan kesehatan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, para jemaah yang tiba langsung menuju gedung serbaguna untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Selain itu, jemaah juga melakukan registrasi aktivasi Nusuk, sebuah identitas digital dan fisik resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Arab Saudi. Setelah tahapan tersebut, jemaah menerima paspor dan uang saku sebesar 750 riyal.

Petugas tampak sigap mengumpulkan koper jemaah untuk kemudian diangkut menuju bus masing-masing. Sejumlah petugas memberikan prioritas pelayanan dan bantuan kepada jemaah lanjut usia (lansia) selama proses pemeriksaan kesehatan.

Kepala UPT Asrama Haji Pondok Gede, Muhammad Ali Zakiyudin, menjelaskan bahwa setelah menyelesaikan proses registrasi, jemaah akan diarahkan ke kamar untuk beristirahat.

“Sementara masuk asrama dulu. Nanti setelah jam istirahat ada waktu salat jemaah bersama, salat wajib. Nanti di dalam salat wajib itu ada, pengukuhan atau, penguatan kembali terkait manasik. Termasuk juga sosialisasi kesehatan, termasuk sosialisasi, menghadapi musim di sana,” ucap Ali.

Advertisement