JAKARTA, KOMPAS.com – Peringatan Hari Bumi setiap tanggal 22 April tahun 2026 mengusung tema “Our Power, Our Planet” atau “Kekuatan Kita, Planet Kita”. Tema ini menekankan bahwa kemajuan lingkungan merupakan tanggung jawab kolektif masyarakat dunia, bukan hanya bergantung pada kebijakan satu pemerintahan.
World Economic Forum (WEF) menyatakan, Hari Bumi juga berkaitan erat dengan kesehatan berbagai ekosistem vital, mulai dari hutan, lautan, sistem air tawar, tanah, hingga keanekaragaman hayati. Kualitas ekosistem ini menjadi penopang utama produksi pangan, kesehatan manusia, serta ketahanan ekonomi masyarakat.
“Kampanye resmi Hari Bumi 2026 berfokus pada mobilisasi warga dan aksi demokratis. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan literasi lingkungan sekaligus menyelenggarakan berbagai acara pendidikan komunitas, dan pertemuan umum untuk membela perlindungan lingkungan di tingkat lokal dan nasional,” ujar WEF dalam laman resminya, dikutip Rabu (22/4/2026).
Sejumlah inisiatif utama telah disiapkan untuk Hari Bumi 2026. Salah satunya adalah “Revolusi 25 persen”, sebuah kampanye yang mendorong aksi sosial untuk mengubah norma dan menggerakkan pasar. Selain itu, akan ada upaya reboisasi global melalui Proyek Canopy guna meningkatkan kualitas udara dan keanekaragaman hayati lokal. Kampanye ini juga akan fokus pada penghentian polusi plastik dan pemberdayaan masyarakat melalui aplikasi seluler untuk mengumpulkan data ilmiah mengenai kualitas udara dan populasi serangga.
Sejarah Awal Hari Bumi
Akar peringatan Hari Bumi bermula dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan di Amerika Serikat yang kian memburuk akibat industrialisasi dan penggunaan bahan bakar fosil tanpa regulasi ketat. Pada era tersebut, masyarakat Amerika belum sepenuhnya menyadari dampak buruk pencemaran lingkungan terhadap kesehatan manusia.
Senator Gaylord Nelson dari Wisconsin menjadi salah satu tokoh kunci yang merasakan kegelisahan ini. Setelah menyaksikan langsung dampak tumpahan minyak di Santa Barbara, California, pada Januari 1969, Nelson terinspirasi untuk menyatukan semangat protes mahasiswa anti-perang dengan kesadaran publik yang mulai tumbuh mengenai isu polusi udara dan air.
Nelson kemudian mengumumkan gagasan penyelenggaraan acara edukasi lingkungan di kampus-kampus perguruan tinggi. Ia berhasil mengajak Pete McCloskey, anggota Kongres dari Partai Republik, untuk menjadi ketua bersama. Denis Hayes, seorang aktivis muda, direkrut untuk mengorganisir kegiatan belajar-mengajar di kampus dan memperluas cakupan acara. Tanggal 22 April pun dipilih sebagai hari peringatan.
Menyadari potensi besar kampanye ini untuk menginspirasi seluruh warga Amerika, Hayes membentuk tim nasional yang terdiri dari 85 orang untuk mempromosikan acara di berbagai penjuru negeri. Inisiatif ini dengan cepat merangkul berbagai organisasi, kelompok keagamaan, dan elemen masyarakat lainnya. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Hari Bumi, yang berhasil menggerakkan 20 juta warga Amerika untuk turun ke jalan, taman, dan auditorium, berdemonstrasi menentang dampak 150 tahun pembangunan industri.
Dampak positif dari Hari Bumi pertama sangat signifikan. Pada akhir tahun 1970, pembentukan Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat menjadi salah satu hasil nyata. Selain itu, sejumlah undang-undang lingkungan pertama disahkan, termasuk Undang-Undang Pendidikan Lingkungan Nasional, Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta Undang-Undang Udara Bersih. Dua tahun berselang, Kongres juga mengesahkan Undang-Undang Air Bersih.
Hari Bumi dan Perjanjian Paris
Seiring berjalannya waktu, PBB memilih Hari Bumi sebagai momen bersejarah untuk menggelar kesepakatan iklim global, yaitu Perjanjian Paris. Pada tanggal 22 April tersebut, 175 negara, termasuk Indonesia, menandatangani perjanjian ini dalam satu hari, menjadikannya penandatanganan perjanjian internasional terbesar dalam sejarah pada hari pertama.
Perjanjian Paris memiliki tujuan ambisius untuk menahan kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Celsius dan berupaya membatasinya hingga 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri, demi menjaga kelestarian planet bumi.






