TANGERANG, KOMPAS.com – Di sebuah rumah sederhana di Kampung Cikuya, Solear, Kabupaten Tangerang, deretan kain batik berwarna cerah tergantung rapi. Beragam motif, mulai dari kera di Makam Keramat Solear, siluet gubuk di Tebing Koja, hingga monumen di Tigaraksa, tergambar apik di atas kain berwarna hitam, cokelat, biru, hingga ungu. Setiap motif menyimpan cerita yang lahir dari tangan-tangan perempuan setempat.
Siang itu, aktivitas membatik memang sedang beristirahat. Namun, jejak kerja para perajin tetap terasa kental di Galeri Rumah Batik Cikuya. Kain-kain yang dipajang menjadi bukti nyata bahwa harapan mampu dirajut dari keterpurukan dan terus dijaga di tempat ini.
“Ini semua hasil karya ibu-ibu di sini,” ujar Siti Nurrofiqoh (51), penggagas Rumah Batik Cikuya, saat ditemui Kompas.com di lokasi, Selasa (23/4/2024).
Bagi Siti, pandemi COVID-19 menjadi titik balik krusial. Ketika pabrik-pabrik berhenti beroperasi dan banyak perempuan kehilangan pekerjaan, Siti melihat situasi tersebut bukan sekadar krisis, melainkan sebuah panggilan untuk bertindak. “Banyak yang di-PHK, bingung harus bagaimana. Dari situ saya berpikir, perempuan harus punya kemandirian ekonomi,” katanya.
Dari Buruh Pabrik Menjadi Penggerak Komunitas
Siti bukanlah sosok yang asing dengan kerasnya dunia kerja. Sejak tahun 1993, ia telah berpindah dari satu pabrik ke pabrik lain. Selama rentang waktu tersebut, ia kerap menyaksikan berbagai bentuk pelanggaran hak-hak buruh. Pengalamannya ini mendorongnya untuk aktif dalam gerakan serikat pekerja, hingga akhirnya ia memutuskan berhenti bekerja di pabrik pada tahun 2013. Meski demikian, semangatnya untuk memperjuangkan nasib sesama tidak pernah surut.
Saat pandemi melanda, Siti melihat kondisi yang pernah ia alami kini dirasakan oleh banyak perempuan di sekitarnya: kehilangan pekerjaan, minimnya keterampilan, namun kewajiban untuk tetap memenuhi kebutuhan hidup tak pernah hilang. Alih-alih berdiam diri, ia memilih untuk bergerak.
Dimulai dari Enam Pembatik
Langkah awal yang diambil Siti terbilang sederhana. Ia mengajak enam perempuan di lingkungannya untuk belajar membatik. Ajakan ini disampaikan secara informal, diselipkan di sela-sela kegiatan pengajian, arisan, hingga pertemuan warga.
Upaya ini tidak lepas dari tantangan. Siti harus berjuang meyakinkan para ibu di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil. Keraguan sempat menghampiri benaknya sendiri, namun ia memilih untuk tetap berjuang. “Saya selalu menjawab keraguan dengan melakukan. Kalau tidak dilakukan, kita tidak akan pernah tahu hasilnya,” tegasnya.
Perlahan, ajakan Siti mulai mendapat respons positif. Dari enam orang yang awalnya bergabung, kini jumlah perajin batik di Cikuya telah bertambah menjadi 16 orang. Menariknya, beberapa di antaranya adalah generasi muda (Gen Z) yang menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari seni batik.
“Awalnya mereka tidak punya skill membatik. Sekarang sudah bisa, bahkan ikut mengerjakan pesanan dan tampil saat bazar,” ujar Siti, bangga.
Membatik: Dari Keterampilan Menjadi Sumber Penghasilan
Di Rumah Batik Cikuya, membatik bukan sekadar kegiatan seni semata. Ia menjelma menjadi sarana belajar sekaligus sumber penghasilan yang berarti bagi para ibu di lingkungan tersebut. Para anggota dilatih langsung oleh Siti, mulai dari teknik dasar menggambar pola, mengontrol aliran malam, hingga menjaga konsistensi motif.
Proses ini membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan waktu yang tidak singkat. Namun, hasil kerja keras mereka mulai terlihat nyata. Pantauan Kompas.com di lokasi, galeri Rumah Batik Cikuya memajang beragam produk, mulai dari kain batik mentah, pakaian jadi, hingga berbagai aksesori. Produk-produk ini siap dipasarkan, baik secara langsung maupun melalui platform digital.
“Kalau ada pesanan, mereka yang mengerjakan. Jadi tetap jalan,” kata Siti.
Lebih lanjut, Siti menekankan bahwa memiliki keterampilan saja tidaklah cukup. Para perempuan di komunitasnya juga didorong untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk memanfaatkan media sosial untuk kegiatan pemasaran. “Sekarang tidak cukup hanya punya skill, tapi juga harus bisa berjejaring dan mengikuti perkembangan zaman,” tuturnya.
Batik Cikuya: Cerita Lokal dan Identitas Bangsa
Batik Cikuya memiliki ciri khas yang membedakannya dari daerah lain, yaitu motif yang diangkat berasal dari kearifan lokal setempat. Terdapat motif kera yang terinspirasi dari legenda Makam Keramat Solear, motif Tebing Koja yang menggambarkan lanskap alam, hingga Tugu Tiga Tumenggung yang sarat nilai sejarah dan kepahlawanan.
“Batik itu medium untuk bercerita. Kita ingin cerita-cerita lokal ini tetap hidup,” ujar Siti.
Melalui motif-motif unik tersebut, batik Cikuya menjadi lebih dari sekadar produk dagangan. Ia menjelma menjadi identitas sekaligus sarana untuk memperkenalkan keindahan Cikuya ke kancah yang lebih luas.
Bangkit di Tengah Keterbatasan Ekonomi
Perjalanan panjang Rumah Batik Cikuya ini tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi wilayah Cikuya yang masih menghadapi persoalan kemiskinan. Bagi Siti, realitas tersebut justru menjadi motivasi untuk terus bergerak.
“Rumah Batik Cikuya ini kami harapkan bisa menjadi penggerak ekonomi lokal, khususnya bagi perempuan,” kata Siti.
Kini, perubahan mulai terasa. Perempuan yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan, perlahan mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai jual. Lebih dari itu, mereka berhasil mendapatkan kembali rasa percaya diri melalui seni membatik. Di tangan mereka, canting dan kain bukan sekadar alat dan bahan. Ia adalah simbol perjuangan tentang bagaimana perempuan dapat menjahit masa depan mereka sendiri, bangkit dari keterpurukan.






