Tren

Kisah Hilman Ramadhon, Anak Punk yang Kini Raup Omzet Puluhan Juta dari Jual Sayur di Solo

Advertisement

Hilman Ramadhon (29), seorang mantan anak punk, kini berhasil meraup omzet puluhan juta rupiah per bulan dari usaha jual sayur di Solo. Perubahan drastis ini bermula dari keputusannya untuk berdagang di pasar tradisional setelah menghabiskan masa remajanya dengan gaya hidup punk.

Setiap pagi, sebelum matahari terbit sempurna, Hilman sudah memacu vespa hijaunya menuju Pasar Legi, Solo. Di pasar inilah ia mengumpulkan bahan pangan segar untuk usahanya, “Depot Sayur Sejahtera”. Perjalanan menuju pasar ini sudah dilakoninya selama sekitar 1,5 tahun, sebuah periode yang secara fundamental mengubah arah hidupnya.

“Setiap hari ke pasar, enggak ada libur,” ujar Hilman saat ditemui Kompas.com di kediamannya di Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, pada Selasa (21/4/2026). Ia selalu memastikan setiap pelanggan menerima sayuran yang segar dan berkualitas.

Pagi itu, Hilman terlihat sibuk memilih jagung, caisim, minyak, daging, hingga berbagai bumbu dapur. Semua bahan tersebut akan diantarkan kepada para pelanggannya sekitar pukul 08.00 WIB. Namun, ada yang tak biasa dari sosok kurir yang membantu Hilman mengantarkan pesanan.

Adalah Hafid (22), yang lebih akrab disapa Kipli, seorang kurir yang berpenampilan mencolok. Ia mengenakan jaket kulit gelap, sepatu boots, celana ketat, dan gaya rambut mohawk merah ala anak punk. Kipli dan Hilman telah berbagi tugas sejak lama; Hilman fokus pada urusan keuangan dan manajemen usaha, sementara Kipli bertugas di lapangan, termasuk mengantarkan pesanan.

Pernah Menjadi Bagian dari Komunitas Punk

Meskipun sama-sama memiliki latar belakang punk, penampilan Hilman jauh lebih sederhana dibandingkan Kipli. Pagi itu, ia hanya mengenakan celana pendek hitam, kaus putih, sepatu hitam, dan topi gelap senada dengan kacamatanya. Penampilannya yang kini berbanding terbalik dengan masa lalunya itu menyimpan kisah perjalanan hidup yang panjang.

“Aku kenal punk itu dari 2009. Dulu itu pada 2009, era punk mulai merajalela. Mulai dari situ penasaran. Itu aku masih sekolah SD kelas 6 di Jakarta,” kenangnya.

Hilman mengaku saat itu hanya ikut-ikutan tren. Sebagai anak kecil yang belum memiliki arah jelas, ia mulai mengubah penampilannya dengan aksesori khas anak punk hingga ikut mengamen di jalanan. Ia sempat terdiam sejenak saat mengenang cita-citanya semasa kecil. Tumbuh sebagai anak sulung dari enam bersaudara dalam keluarga sederhana membuatnya tak sempat memikirkan keinginannya.

“Jadi mungkin karena keterbatasan ekonomi aku enggak ada cita-cita mau jadi apa,” ucapnya.

Namun, seiring bertambahnya usia, Hilman mulai memahami arti sesungguhnya dari punk. Baginya, komunitas yang kerap mendapat stigma negatif di masyarakat itu justru mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang berharga, seperti kebersamaan, kesetaraan, dan tanggung jawab.

“Punk itu enggak cuma di jalan. Tapi bisa perwujudan dari bentuk tanggung jawab atas diri sendiri,” kata Hilman.

Ia menambahkan, anak punk memiliki motto “Do It Yourself” (DIY), sebuah filosofi hidup yang ia kaitkan dengan sikap tanggung jawab terhadap diri sendiri. “Punk bukan berarti harus berpenampilan seperti pada umumnya. Itu hanya bentuk identitas aja. Tapi enggak pakai juga enggak papa,” tuturnya.

Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi pijakan Hilman saat merintis usaha sayur yang kini ia tekuni.

Advertisement

Membangun Bisnis “Swasembada Punk-an”

Tumbuh di lingkungan punk justru membuat Hilman lebih jujur pada dirinya sendiri. Saat hijrah dari Jakarta dan membangun “Depot Sayur Sejahtera” di Solo, ia menemukan secercah harapan melalui konten video tentang kehidupan sehari-harinya sebagai anak punk.

Awalnya, bisnis toko sayur yang ia bangun pada 2025 sempat sepi. Banyak stok sayuran yang tidak terjual, akhirnya layu dan terbuang sia-sia. Kondisi ini membuatnya mengalami kerugian.

Bersama Kipli, Hilman kemudian mulai membuat konten video yang diunggah di media sosial. Konten tersebut menampilkan aktivitas Kipli yang jujur dan apa adanya saat mengambil sayuran di pasar dengan penampilan nyentriknya. Tak disangka, video tersebut menjadi viral dan membuat usaha jual sayurnya mulai dikenal pelanggan.

Banyak pesanan masuk melalui pesan langsung (DM) yang meminta agar sayuran diantarkan. Sebagai pebisnis, Hilman melihat peluang tersebut. Ia segera menyanggupi permintaan pelanggan untuk pengantaran ke rumah. Tak hanya itu, ia juga mulai menawarkan diri sebagai supplier untuk restoran atau tempat makan.

Para pembeli kemudian mengenal usaha Hilman dengan julukan “sayuran punk”. Ide ini kemudian ia jadikan tagline usahanya, “swasembada punk-an”.

“Swasembada pangan itu karena aku sendiri dari awal memang pengen memanfaatkan kekuatanku sendiri,” kata Hilman.

Ia berharap, melalui tenaga dan pikirannya, ia dapat membangun swasembada pangan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Kini, pelanggan “sayuran punk” Hilman semakin menjamur. Dalam sekali kulakan, ia bisa menghabiskan hingga Rp 3 juta untuk bahan pangan. Jika sedang ramai, omzetnya dalam sebulan bisa mencapai Rp 50-60 juta.

Mengubah Stigma Anak Punk

Seiring usahanya yang semakin dikenal, identitas “punk” kini melekat erat dengan bisnis “Depot Sayur Sejahtera” yang dibangun Hilman. Meski begitu, ia mengaku tidak keberatan.

“Selama ini stigma orang soal punk itu bau, terus ngamen di pinggir jalan. Tapi di situ aku mencoba ngebuktiin kalau ada punk ada kok yang mau bekerja, mau mandiri untuk hidupnya sendiri,” katanya.

Bagi Hilman, punk adalah salah satu fase hidup yang telah mengajarkannya banyak hal. Ia tidak merasa terganggu sedikit pun jika mendengar selentingan negatif tentang komunitasnya. Justru, ia menjadikan hal tersebut sebagai pembuktian diri.

“Ya emang kenapa kalau punk jadi tukang sayur?” ungkapnya sambil tertawa.

Advertisement