Regional

Kisah Mardi Jiyono Berangkat Haji Tahun Ini pada Usia 103 Tahun

Advertisement

YOGYAKARTA – Di usianya yang mencapai 103 tahun, Mardi Jiyono Kartosentono bersiap menunaikan ibadah haji tahun ini. Ia menjadi calon jemaah haji tertua dari Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang akan berangkat ke Tanah Suci.

Meskipun harus menggunakan alat bantu jalan akibat keretakan tulang kaki yang dialaminya setelah terjatuh di kamar mandi pada tahun 2022, Mbah Mardi, sapaan akrabnya, menunjukkan antusiasme tinggi. “Seneng, sik penting sehat awak e,” ujarnya dengan senyum saat ditemui di Bantul, Rabu (22/4/2026).

Kondisi fisiknya yang renta tidak mengurangi semangatnya. Daya ingat Mbah Mardi masih terbilang baik, meskipun pendengarannya mulai berkurang seiring bertambahnya usia. Komunikasi dengannya memerlukan bantuan anak keduanya, Warjiyem (64), atau menggunakan alat bantu dengar yang kebetulan tidak terpasang saat ditemui.

Mbah Mardi mengungkapkan rasa syukurnya atas usia panjang yang diberikan Tuhan dan kesempatan untuk menunaikan rukun Islam kelima. Ini akan menjadi kali kedua baginya menginjakkan kaki di Tanah Suci. “Saya itu diberi perpanjangan umur sama Allah, sakit sembuh,” ucapnya.

Kekuatan ingatannya terbukti saat ia mengenang masa kecilnya di era penjajahan Jepang, termasuk pengalaman dipukul karena menebang pohon yang dijadikan pagar. “Saya dipukul,” kenangnya.

Warjiyem menambahkan bahwa ayahnya genap berusia 103 tahun pada Desember 2025. Mbah Mardi telah mendaftar haji sejak tahun 2019 dengan jadwal keberangkatan semula pada 2045. Ia bahkan sempat menunaikan ibadah umrah sebelumnya.

Namun, berkat upaya salah satu cucu, keberangkatan Mbah Mardi dimajukan menjadi tahun 2026. “Bapak saya itu pakai uang sendiri, beliau petani,” kata Warjiyem.

Advertisement

Untuk memastikan ketersediaan kursinya, pada tahun 2019 Mbah Mardi menyetor uang pendaftaran sebesar Rp 10 juta dari tabungannya dan Rp 19 juta dari hasil penjualan dua ekor sapi miliknya. Pelunasan sebesar Rp 26 juta dilakukan pada tahun 2025. “Sudah sejak lama keinginannya naik haji,” tambah Warjiyem.

Mardi Jiyono dikenal sebagai sosok pekerja keras. Semasa muda, ia berdagang sayuran dan buah, kemudian beralih menjadi petani dengan menyewa lahan milik Kalurahan Sitimulyo.

Warjiyem mengaku tidak terlalu khawatir dengan kondisi kesehatan ayahnya, mengingat hasil pemeriksaan medis terbaru menunjukkan semuanya dalam kondisi baik. Mbah Mardi sempat sakit beberapa bulan lalu dan dirawat di RSUD Prambanan. “Bahkan kalau makan tongseng kambing satu porsi habis. Semua makanan mau yang penting enak dan anget,” tuturnya.

Ia juga menceritakan momen kesembuhan ayahnya. “Tahun 2025 pernah sakit, dan dibisiki sembuh besuk mau naik haji. Langsung makan dan sehat kembali,” kata Warjiyem.

Selama di Tanah Suci, Mbah Mardi akan didampingi oleh petugas haji. Pengalaman umrah sebelumnya juga menjadi bekal baginya. “Saat ini Simbah baju sendiri, jalan sendiri untuk latihan pas di Mekkah nanti,” ujar Warjiyem.

Keluarga berharap Mbah Mardi dapat kembali ke Tanah Air dengan predikat Haji Mabrur.

Advertisement