MEDAN, KOMPAS.com – Ambisi Lestari Siahaan untuk mengenakan jas putih sebagai dokter gigi mendorongnya menempuh perjalanan jauh dari kampung halaman ke Medan. Pelajar 18 tahun ini menjadi salah satu dari ribuan peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026 yang diselenggarakan di Universitas Sumatera Utara (USU).
Pagi itu, Selasa (21/4/2026), Lestari terlihat santai berbincang dengan bibinya, Udur Siahaan (46), di Pendopo Pancasila USU. Ia telah tiba sejak pukul sembilan pagi, memanfaatkan waktu luang sebelum ujian dimulai pukul dua belas siang.
“Semalam dikabari jam sembilan tesnya. Rupanya jam dua belas,” ujar Lestari, duduk di sudut pendopo dengan kemeja putih dan rok hitam. Ia sengaja mencari ketenangan untuk mempersiapkan diri menghadapi soal-soal ujian.
Lestari berasal dari Kecamatan Tampahan, Kota Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Ia menempuh perjalanan seorang diri menggunakan jasa travel dan menginap di kediaman bibinya di Perumahan Griya 2 Martubung sejak Kamis (16/4/2026). Keputusan untuk mandiri ini diambil karena kedua orang tuanya masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Ibu kerja sebagai guru, kalau bapak kepala desa,” jelas Lestari, anak sulung dari empat bersaudara ini.
Sejak masih duduk di bangku kelas tiga SMA, Lestari telah membulatkan tekadnya untuk menjadi dokter gigi. Ia bahkan telah mengikuti berbagai kursus persiapan demi memaksimalkan peluangnya lolos di berbagai tes masuk perguruan tinggi.
Bukan hanya SNBT, Lestari juga telah mengikuti seleksi masuk Universitas Pertahanan (UNHAN) dengan memilih jurusan Kedokteran Gigi Militer. Untuk SNBT, ia membidik dua universitas favorit di sekolahnya: Universitas Indonesia untuk jurusan Kedokteran Gigi dan Universitas Gadjah Mada untuk Ilmu Manajemen.
“Cita-cita awal memang mau jadi dokter. Cuma kalau dokter aja lama sekolahnya jadi langsung spesifik ke dokter gigi aja,” ungkapnya mengenai alasannya memfokuskan diri pada spesialisasi ini.
Setelah menyelesaikan tes, Lestari berencana segera kembali ke kampung halamannya sambil menunggu pengumuman hasil ujian. Ia berharap perjuangannya ini membuahkan hasil manis dan menjadi kado terbaik di tahun ini, sekaligus membanggakan kedua orang tuanya.
Kisah Lain di Medan
Sementara itu, Illiyin Syahpitri (17) mengikuti sesi pertama tes SNBT. Ia tiba di USU bersama keluarga besarnya menggunakan mobil dari kediamannya di Pasar 10, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Sejak pukul sembilan pagi, Illiyin sudah memasuki ruangan ujian di Fakultas Ilmu Komunikasi-Teknologi Informasi USU.
Dewi (38), ibu Illiyin, tampak menunggu di kantin bersama kerabatnya. Ia mengungkapkan bahwa putrinya memilih jurusan Kedokteran Gigi di Universitas Andalas dan Universitas Syiah Kuala, Aceh.
“Anak ambil Jurusan Kedokteran Gigi di Universitas Andalas dan Universitas Syiah Kuala Aceh,” ujar Dewi, yang berprofesi sebagai pedagang tabung gas elpiji, sementara suaminya seorang pengembang.
Dewi menambahkan bahwa putrinya merupakan lulusan dari pondok pesantren di Payakumbuh. Ketertarikan Illiyin pada kedokteran gigi berawal saat ia menjalani perawatan behel.
“Jadi waktu dia sedang pasang behel terus dia tertarik jadi dokter gigi. Dicari tahunya lah prospek kerjanya dan itu menjanjikan,” tutur Dewi.
Sebagai ibu dari tiga anak, Dewi sangat berharap Illiyin dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Ia ingin anak-anaknya meraih pendidikan yang lebih tinggi darinya dan Illiyin dapat menjadi inspirasi bagi adik-adiknya.
“Makanya kemarin itu saya bantu juga cari kampusnya. Nah, kalau di USU itu saingannya berat. Itu dilihat dari kuota dan score di website. Jadi ke dua kampus itu lah, karena lebih besar peluang lolosnya,” jelasnya mengenai strategi pemilihan kampus.






