Global

Pernyataan Trump Kerap Diralat Gedung Putih, Gaya Komunikasi Tanpa Konsultasi?

Advertisement

WASHINGTON, KOMPAS.com – Gaya komunikasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang cenderung impulsif kembali menjadi sorotan di tengah ketegangan militer dengan Iran. Sejumlah pernyataan kontradiktif yang dilontarkan Trump dalam waktu singkat memaksa Gedung Putih melakukan koreksi berulang kali, menimbulkan kekhawatiran akan dampak terhadap diplomasi dan keamanan nasional AS.

Trump diketahui kerap memberikan komentar mengenai situasi tersebut secara spontan, bahkan melalui sambungan telepon pribadi dengan para wartawan. Hal ini memicu pertanyaan mengenai efektivitas dan konsistensi komunikasi pemerintahannya.

Dua Kali Koreksi Pernyataan dalam Dua Hari

Dalam beberapa hari terakhir, Gedung Putih terpaksa mengoreksi pernyataan Trump sebanyak dua kali. Salah satu inkonsistensi terbaru terjadi terkait delegasi perundingan Amerika Serikat ke Pakistan. Pada Minggu (19/4/2026), Trump sempat menyatakan kepada ABC bahwa Wakil Presiden JD Vance batal memimpin delegasi tersebut.

Namun, pernyataan itu segera dibantah oleh sumber resmi pemerintah. Keesokan harinya, Trump justru mengklaim bahwa tim negosiator sudah dalam perjalanan menuju Islamabad. Fakta di lapangan menunjukkan hal berbeda, di mana JD Vance masih terlihat menghadiri pertemuan di Washington pada Selasa (21/4/2026) siang.

“Berbagai percakapan dengan wartawan tersebut merusak norma bahwa waktu presiden sangat berharga dan ia seharusnya selalu menggunakan jalur komunikasi yang aman,” ujar Robert Rowland, profesor studi komunikasi dari Universitas Kansas, dikutip dari AFP, Rabu (22/2/2026).

Komunikasi Tanpa Konsultasi

Laporan The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa Trump kerap mengunggah pesan di platform Truth Social tanpa berkonsultasi atau memberi tahu siapa pun sebelumnya. Pesan-pesan tersebut sering kali mencampurkan ancaman serius dengan bahasa yang santai, bahkan terkadang kasar.

Surat kabar tersebut juga melaporkan bahwa lingkaran dalam Trump sempat merahasiakan sebagian informasi darinya selama operasi penyelamatan seorang perwira Angkatan Udara AS di Iran. Kekhawatiran timbul karena sifat Trump yang dinilai tidak sabaran dapat mengganggu kelancaran operasi penting tersebut.

Advertisement

“Sifat impulsif itu juga termanifestasi dalam pelanggaran protokol diplomatik dan upacara militer yang khidmat,” kata Rowland.

Pesan-pesan yang tidak konsisten mengenai Iran semakin terlihat ketika Trump juga kerap menyimpang ke topik favoritnya, yaitu pembangunan dan renovasi gedung. Dalam sebuah wawancara dengan CNBC, ia melontarkan kritik yang detail dan bersemangat mengenai renovasi yang sedang berlangsung di markas besar Federal Reserve, yang ketuanya memang sangat tidak disukainya.

Kontras dengan Presiden Sebelumnya

Gaya komunikasi Trump dinilai sangat kontras dengan presiden-presiden Amerika Serikat sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada tahun 2009, Barack Obama bahkan sempat berselisih dengan Secret Service karena ia enggan menyerahkan perangkat BlackBerry miliknya yang dianggap berisiko dari sisi keamanan.

Sementara presiden-presiden terdahulu cenderung mengadopsi nada bicara yang mempersatukan, terutama di masa-masa genting seperti saat perang, Trump justru melakukan hal sebaliknya.

“Dia membuat semuanya sangat partisan,” tambah Rowland.

Pekan ini, Trump kembali menyerang lawan politiknya dengan melabeli Partai Demokrat sebagai “pengkhianat” yang dituduh berupaya melemahkan operasi militer di Iran. Selain itu, ia juga meluapkan kemarahannya kepada media massa terkait pemberitaan konflik tersebut.

Advertisement