Nasional

MBG: Siapa yang Membayar Harga dari Sebuah Masa Depan?

Advertisement

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah menjanjikan masa depan yang lebih sehat bagi generasi penerus bangsa, namun di balik janji mulia tersebut, terselip pertanyaan krusial mengenai nasib pelaku usaha kecil yang terdampak langsung oleh perubahan pola konsumsi.

Di satu sisi, sekolah kini menjadi tempat anak-anak dapat menikmati santapan bergizi tanpa perlu khawatir soal asupan. Namun di sisi lain, warung-warung kecil di sekitar lingkungan sekolah yang dulunya ramai pembeli kini terancam gulung tikar. Panci yang masih hangat dan minyak yang masih mendesis tak lagi menjamin kelangsungan usaha ketika pelanggan setia mereka, para siswa, beralih ke menu yang disediakan secara terpusat.

Perubahan yang terjadi begitu cepat ini, meninggalkan sebagian pelaku usaha kecil dalam ketidakpastian. MBG, dengan target menjangkau puluhan juta penerima secara bertahap, digadang-gadang sebagai salah satu intervensi sosial terbesar yang bertujuan memperbaiki gizi anak dan memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Sebuah investasi jangka panjang yang sulit ditolak, mengingat harapan akan generasi yang lebih kuat dan cerdas.

Dua Sisi Kebijakan Publik

Namun, setiap kebijakan publik selalu bergerak di dua arah: beban masa kini dan janji masa depan. Di antara keduanya, terdapat jurang yang tidak semua orang mampu melompatinya. Bagi para pedagang kecil, penjual jajanan, hingga pemasok skala mikro, perubahan pola konsumsi akibat program ini bukan sekadar penyesuaian, melainkan sebuah guncangan ekonomi.

Hilangnya pelanggan yang dulunya menjadi sumber penghidupan utama, membuat omzet mereka anjlok. Meskipun mungkin tidak tercatat sebagai angka signifikan dalam laporan resmi, dampaknya terasa begitu nyata bagi mereka yang menggantungkan hidup pada transaksi harian. Istilah “efek samping” atau “masa transisi” yang kerap digunakan dalam ranah kebijakan, terdengar ringan, namun bagi mereka yang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, ini adalah kenyataan pahit yang tak bisa ditunda.

“Ini adalah soal dapur yang harus tetap menyala, biaya sekolah yang harus dibayar, dan kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda. Tidak ada istilah jangka panjang bagi mereka yang hidup dari penghasilan hari ini.”

Ketidakadilan waktu menjadi persoalan mendasar. Pemerintah meminta sebagian masyarakat untuk bersabar demi manfaat di masa depan, namun tidak semua orang memiliki kemewahan waktu untuk menunggu. Mereka yang kehilangan penghasilan hari ini, tidak memiliki ruang untuk menunda kebutuhan hidupnya.

Logika Agregat vs. Realitas Sehari-hari

Kebijakan publik sering kali dibangun atas dasar logika agregat, melihat manfaat dalam skala besar dan proyeksi jangka panjang. Jika jutaan anak mendapatkan gizi yang lebih baik, program dianggap berhasil. Namun, kehidupan nyata bekerja dengan logika yang jauh lebih sederhana: pemasukan hari ini untuk pengeluaran hari ini, serta risiko yang harus dihadapi seketika.

Advertisement

Kapasitas Akses Pelaku Usaha Kecil

Menariknya, pemerintah juga mendorong keterlibatan pelaku usaha kecil dan menengah dalam rantai pasok program MBG, dengan klaim bahwa sebagian besar penyedia bahan pangan berasal dari mereka. Hal ini menunjukkan adanya peluang yang dibuka. Namun, persoalannya bukan sekadar ketersediaan peluang, melainkan siapa yang benar-benar mampu mengaksesnya.

Tidak semua pelaku usaha kecil memiliki kapasitas, jaringan, atau informasi yang memadai untuk masuk ke dalam sistem yang lebih terstruktur. Sementara itu, perubahan di tingkat konsumsi sudah terjadi lebih dulu, membuat sebagian pelaku usaha terperangkap dalam situasi sulit: kehilangan pasar lama tanpa kepastian masuk ke pasar baru.

Menuju Kebijakan yang Adil

Ketika sebagian pihak diuntungkan dan sebagian lain tersisih, yang muncul bukan hanya dampak ekonomi, tetapi juga rasa ketidakadilan yang perlahan mengendap. Keberhasilan program MBG seharusnya tidak hanya diukur dari besarnya manfaat yang dijanjikan, tetapi juga dari bagaimana program tersebut memperlakukan mereka yang terdampak di awal.

Kebijakan tidak cukup hanya berjalan, ia perlu merangkul. Transisi tidak boleh dibiarkan menjadi proses alamiah yang menyaring siapa yang bertahan dan siapa yang tumbang. Perlu ada upaya sadar untuk memastikan pelaku usaha kecil tidak hanya menjadi penonton, melainkan bagian dari ekosistem baru yang dibangun. Ini bisa melalui skema kemitraan, penyederhanaan akses masuk ke rantai pasok, atau bentuk afirmasi lain yang memungkinkan adaptasi tanpa kehilangan pijakan.

Pada akhirnya, kebijakan yang baik adalah kebijakan yang adil dalam prosesnya. Ia tidak hanya menjanjikan masa depan yang lebih baik, tetapi juga memastikan perjalanan menuju ke sana tidak meninggalkan terlalu banyak yang tumbang di jalan. Masa depan memang perlu dibangun, namun setiap masa depan memiliki harga. Pertanyaan yang tak boleh diabaikan adalah: Siapa yang membayar harganya, dan apakah mereka diberi pilihan untuk tidak membayarnya?

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2026/04/20/11220031/mbg–siapa-yang-membayar-harga-dari-sebuah-masa-depan-

Advertisement