Regional

Menunggu di Parkiran Kampus USU, Doa Kartini untuk Anak yang Kejar Mimpi Jadi Dokter

Advertisement

MEDAN, KOMPAS.com – Di tengah teriknya matahari di halaman parkir Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), Kartini Berutu (44) duduk menanti. Tangannya menggenggam kuaci, matanya sesekali melirik ponsel di tangan anak bungsunya, sementara sang putri sulung, Yessiana Anak Ampun (18), tengah berjuang di ruang ujian UTBK-SNBT. Ini adalah potret perjuangan tak hanya sang anak, tetapi juga segenap keluarga yang berharap mimpi besar itu terwujud.

Kartini telah berada di lokasi ujian sejak satu setengah jam lalu. Ia dan anak bungsunya berjalan kaki dari rumah adik suaminya di kawasan Berdikari, tak jauh dari kampus FISIP USU. Sementara itu, Yessiana sudah lebih dulu tiba di lokasi tes, diantar oleh anggota keluarga lainnya menggunakan sepeda motor. Sejak Sabtu sore (18/4/2026), Kartini dan kedua anaknya telah menempuh perjalanan sekitar lima jam menggunakan travel untuk tiba di kediaman kerabatnya di Medan, demi mendampingi Yessiana dalam momen krusial ini.

Perjuangan Meraih Mimpi Dokter

Sejak kecil, Yessiana telah memendam cita-cita mulia untuk menjadi seorang dokter. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMAN 1 Salak, ia sempat mencoba jalur prestasi di Universitas Padjadjaran (Unpad) dengan pilihan jurusan Kedokteran Hewan. “Kemarin dia coba ke Unpad, ambil dokter hewan, cuma gagal,” ungkap Kartini.

Namun, kegagalan itu tak memadamkan semangat Yessiana. Ia tak menyerah dan memutuskan untuk melanjutkan perjuangan melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT). Kali ini, pilihannya jatuh pada jurusan Kedokteran Gigi dan Keperawatan di USU. Demi mewujudkan mimpinya, Yessiana telah mempersiapkan diri dengan serius. Ia mengikuti bimbingan belajar selama setahun di kampung halamannya, sebuah investasi yang memakan biaya sekitar Rp 6 jutaan.

Advertisement

Kecemasan dan Doa Orang Tua

Di balik dukungan yang diberikan, Kartini sempat merasakan kecemasan yang mendalam. Pilihan Yessiana untuk menjadi dokter, dengan segala biaya yang menyertainya, menjadi beban tersendiri. Sebagai seorang petani kopi, dan suaminya yang berstatus guru PPPK, Kartini khawatir pendapatan keluarga tidak akan mencukupi kebutuhan pendidikan sang putri kelak jika ia berhasil lolos.

“Itulah sempat berdebat kami,” ujar Kartini mengenang perdebatan yang terjadi. Namun, tekad kuat Yessiana perlahan meluluhkan keraguan Kartini. Kini, yang bisa ia lakukan hanyalah memanjatkan doa terbaik agar putrinya berhasil meraih cita-cita.

“Ya mau gimana pun itu mimpinya. Apa pun nanti tantangannya, kalau lulus, ya harus dihadapi. Mana tahu juga dapat beasiswa dari Pemda,” tuturnya penuh harap sembari terus menunggu kabar kelulusan Yessiana.

Advertisement