Regional

Harga Minyakita dan Plastik Melonjak, Pedagang Makanan di Magetan Pilih Tak Naikkan Harga

Advertisement

MAGETAN, Kompas.com – Lonjakan harga minyak goreng subsidi MinyaKita dan plastik kemasan dalam dua pekan terakhir memicu dilema bagi para pedagang kecil di Pasar Sayur Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Meskipun biaya produksi membengkak, mayoritas memilih untuk tidak menaikkan harga jual demi menjaga daya beli konsumen.

Suparno, seorang pedagang sembako di Pasar Sayur Magetan, mengungkapkan kekhawatirannya atas kenaikan harga MinyaKita yang terus merangkak naik dari para distributor. Kenaikan ini dinilai memberatkan, terutama bagi pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku tersebut dengan harga terjangkau.

“Sekarang harga MinyaKita sudah Rp 20.000 sampai Rp 22.000 per liter, jauh di atas HET (Harga Eceran Terendah). Dulu satu karton isi 12 liter Rp 195.000, sekarang sudah Rp 230.000. Kami jual eceran Rp 20.000 sampai Rp 21.000 per liter,” ujar Suparno saat ditemui di tokonya pada Selasa (21/4/2026).

Tak hanya minyak goreng subsidi, Suparmo menambahkan, minyak goreng kemasan non-subsidi dan minyak curah pun turut mengalami kenaikan. “Semua naik, meskipun yang curah tidak setinggi kemasan,” katanya.

Plastik Kemasan Ikut Melonjak

Beban pedagang tidak berhenti pada minyak goreng. Harga plastik sebagai bahan kemasan juga mengalami lonjakan signifikan. Santi, seorang pedagang plastik di Pasar Baru Magetan, menyebutkan bahwa harga plastik melonjak tajam, bahkan bisa mencapai 30 hingga 50 persen.

“Plastik bening non-daur ulang sekarang sudah Rp 58.000 per kilogram, padahal dulu Rp 34.000. Sekarang harganya cepat berubah, bisa harian bahkan per jam,” tuturnya.

Advertisement

Strategi Bertahan di Tengah Kenaikan

Menghadapi situasi sulit ini, Sumiati, seorang penjual tahu goreng di Jalan Yos Sudarso, memilih untuk menyiasati kondisi dengan cara yang berbeda. Alih-alih menaikkan harga jual tahu gorengnya, ia memutuskan untuk mengecilkan ukuran produknya.

“Saya belum berani menaikkan harga, khawatir tidak laku melihat kondisi seperti ini. Ukuran tahunya saya kurangi. Bahan baku seperti kedelai juga naik, ditambah minyak goreng mahal. Jadi serba sulit sekarang,” ungkap Sumiati.

Strategi serupa, meski dengan konsekuensi berbeda, terpaksa diambil oleh para pedagang lain. Keputusan untuk tidak menaikkan harga jual menjadi pilihan utama demi menjaga agar dagangan tetap diminati, meskipun margin keuntungan menipis.

Harapan Stabilisasi Harga

Pariyatuin, pedagang kue di Pasar Sayur Magetan, menyuarakan harapan agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok. Ia khawatir jika tren kenaikan biaya produksi terus berlanjut, usaha kecilnya terancam gulung tikar.

“Harapannya semoga pemerintah bisa menstabilkan harga kebutuhan pokok. Kalau naik terus biaya produksi juga naik. Kalau harga tidak dinaikkan kami pasti rugi. Untuk balik modal saja sulit,” pungkasnya.

Advertisement