Tren

Penguin Kaisar Antartika Kini Berstatus Terancam Punah karena Perubahan Iklim, 9 Tahun Populasinya Turun 10 Persen

Advertisement

Penguin kaisar, salah satu ikon Antartika yang ikonik, kini menghadapi ancaman kepunahan yang serius. Sekitar 124 tahun setelah koloni berkembang biak pertamanya ditemukan oleh penjelajah Inggris Robert Falcon Scott, spesies ini secara resmi masuk dalam daftar terancam punah. Anjing laut bulu Antartika juga mengalami nasib serupa, mencerminkan dampak perubahan iklim yang semakin nyata di wilayah kutub.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa perubahan iklim menjadi faktor utama di balik penurunan drastis populasi penguin kaisar. Pemanasan global telah memicu pergeseran habitat krill Antartika ke arah selatan dan menyebabkan penyusutan es laut dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan fundamental ini menciptakan efek berantai yang mengancam kelangsungan hidup berbagai spesies di Samudra Selatan.

Perjalanan dari Penemuan hingga Ancaman Kepunahan

Koloni berkembang biak pertama penguin kaisar pertama kali diidentifikasi pada tahun 1902 di Cape Crozier, Pulau Ross, saat ekspedisi Discovery yang dipimpin oleh Robert Falcon Scott. Selang satu dekade, Scott kembali ke wilayah tersebut melalui ekspedisi Terra Nova, dengan salah satu tujuannya mengumpulkan telur penguin kaisar. Ekspedisi ini kemudian dikenang sebagai momen tragis dan diabadikan dalam karya sastra “The Worst Journey in the World” oleh Apsley Cherry-Garrard.

Ironisnya, kerangka kerja konservasi yang diprakarsai oleh putra Scott, Peter Scott, salah satu pelopor konservasi modern yang mendirikan Daftar Merah milik International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 1960-an, kini digunakan untuk menetapkan status terancam punah bagi penguin kaisar. Perjalanan dari penemuan hingga berada di ambang kepunahan dalam kurun waktu sekitar 124 tahun menjadi bukti nyata betapa cepatnya nasib suatu spesies dapat berubah.

Dalam periode sembilan tahun, antara 2009 hingga 2018, populasi penguin kaisar dilaporkan mengalami penurunan sekitar 10 persen. Prediksi suram menunjukkan bahwa jumlah mereka bisa menyusut hingga setengahnya pada tahun 2073 jika tren ini terus berlanjut.

Advertisement

Tekanan Perubahan Iklim pada Rantai Makanan dan Reproduksi

Penurunan populasi satwa di Samudra Selatan ini berkaitan erat dengan perubahan iklim yang memengaruhi ketersediaan sumber makanan. Peningkatan suhu laut dan penyusutan es laut memaksa krill Antartika, makanan utama anjing laut bulu Antartika, untuk bergerak ke wilayah yang lebih selatan dan perairan yang lebih dalam, sehingga sulit dijangkau oleh predator. Persaingan dengan populasi paus yang terus meningkat juga semakin memperketat akses terhadap sumber makanan ini.

Berbeda dengan anjing laut, penguin kaisar memiliki ketergantungan yang lebih besar pada es laut sebagai habitat berkembang biak. Es laut berfungsi sebagai platform stabil untuk proses kawin, pengeraman telur, hingga membesarkan anak-anak mereka. Namun, ketika es laut semakin menipis dan tidak stabil, keberhasilan reproduksi mereka terancam. Mencairnya es sebelum anak penguin mencapai usia dewasa dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi.

Ancaman Baru: Influenza Unggas

Di tengah tekanan perubahan iklim, ancaman baru muncul dalam bentuk penyebaran influenza unggas atau flu burung yang sangat menular. Wabah ini menambah beban pada satwa liar di kawasan tersebut. Tingginya angka kematian akibat virus ini bahkan telah mendorong perubahan status anjing laut gajah selatan menjadi “rentan”.

Beberapa populasi anjing laut gajah dilaporkan kehilangan lebih dari 90 persen anak-anaknya, disertai penurunan drastis jumlah individu dewasa yang mampu berkembang biak. Kondisi ini telah menyebabkan hilangnya puluhan ribu hewan, sementara banyak anjing laut bulu Antartika juga dilaporkan mati akibat wabah flu burung.

Advertisement