Regional

Profil KH Mutawakkil Alallah, Ketum MUI Jatim yang Mundur karena Alasan Kesehatan

Advertisement

SURABAYA, KOMPAS.com – KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur periode 2025-2030. Keputusan ini diambil atas dasar alasan kesehatan yang dialaminya. Setelah mundur dari posisi puncak, Kiai Mutawakkil kini akan mengemban amanah sebagai anggota Dewan Pertimbangan MUI Jatim.

Posisi Ketua Umum MUI Jatim selanjutnya akan diisi oleh Prof Dr KH Abd Halim Soebahar. Pergantian tampuk kepemimpinan ini telah dikukuhkan melalui Rapat Paripurna MUI Jatim yang diselenggarakan pada Senin (20/4/2026) di Kantor MUI Jatim. Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jatim, Emil Elestianto Dardak.

Keputusan ini memantik perhatian publik terhadap sosok Kiai Mutawakkil. Berikut adalah profil lengkapnya.

Profil KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah

KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah lahir di Genggong, Probolinggo, pada tanggal 22 April 1959. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Hasan Saifourridzall dan Nyai Hj. Himami Hafshawaty. Kiai Mutawakkil adalah anak kedua dari enam bersaudara.

Perjalanan Pendidikan

Sejak usia 11 tahun, Kiai Mutawakkil telah memulai perjalanan pendidikannya di Pondok Pesantren Madrasatul Ilmi Syari’ah Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Di sana, ia menimba ilmu selama sembilan bulan.

Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan agama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’ien Lirboyo, Kediri. Bersamaan dengan itu, ia juga menempuh pendidikan menengah di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Lirboyo.

Selama menempuh pendidikan di Lirboyo, Kiai Mutawakkil menunjukkan minat yang mendalam pada pelajaran Nahwu, Sharaf, Balaghah (ilmu alat), Ilmu Fiqh, Tafsir, dan Hadits.

Antara tahun 1979 hingga 1981, Kiai Mutawakkil memperdalam ilmu agamanya di bawah bimbingan KH. Marzuki dan Romo Kiai Mahrus Ali.

Advertisement

Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Syari’ah Universitas Tribhakti Kediri. Di jenjang perguruan tinggi, ia aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Setelah lulus dari Universitas Tribhakti, Kiai Mutawakkil melanjutkan studi di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Namun, baru satu tahun menempuh pendidikan di sana, ia mendapatkan beasiswa untuk belajar di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir.

Pada tahun 1983, Kiai Mutawakkil juga berkesempatan untuk memperluas wawasan melalui kegiatan studi tur ke sejumlah negara di Eropa, termasuk Jerman, Polandia, Belgia, dan Belanda.

Mengasuh Pondok Pesantren

Pada tahun 1985, Kiai Mutawakkil dijemput oleh ayahnya untuk kembali ke tanah air saat masih menempuh pendidikan. Tak lama setelah kembali, ia mulai mengajar di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong.

Namun, takdir berkata lain. Kedua orang tuanya meninggal dunia tak berselang lama setelah kepulangannya. Amanat untuk memimpin dan mengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong pun diserahkan kepada Kiai Mutawakkil, menggantikan sang ayah, KH. Hasan Saifurrizal.

Kiai Mutawakkil kemudian menikah dengan Nyai Hj. Muhibbatul Lubabah, seorang muslimah asal Jember. Pernikahan mereka dikaruniai enam orang putri.

Rekam Jejak

Sepanjang kariernya, KH. Mutawakkil Alallah telah mengemban berbagai amanah penting di berbagai lembaga, antara lain:

  • Pengasuh dan Ketua Yayasan Pesantren Zainul Hasan Genggong
  • Ketua Yayasan Hafshawaty
  • Ketua (Tanfidziyah) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur
  • Presiden Komisaris TV9 Nusantara
  • Ketua MUI Kabupaten Probolinggo
  • Anggota Dewan Pertimbangan MUI Jatim (2015-2020)
  • Wakil Ketua PWNU Jatim (1992-2008)
  • Ketua PWNU Jatim (2008-2018)
  • Wakil Rais PWNU Jatim (2018-2023)
  • Ketua Umum MUI Jatim (2020-2025)
Advertisement