Dua tentara Israel dijatuhi hukuman penjara 30 hari setelah merusak patung Yesus di Lebanon Selatan menggunakan palu godam. Militer Israel menyatakan penyesalan mendalam atas insiden tersebut dan telah mengganti patung yang rusak dengan yang baru.
Hukuman tersebut dijatuhkan pada Selasa (21/4/2026) setelah penyelidikan cepat yang dilakukan oleh militer Israel. Kedua tentara tersebut ditarik dari tugas tempur sebagai konsekuensi dari tindakan mereka yang dianggap menyimpang dari perintah dan nilai-nilai Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Perusakan di Desa Kristen
Peristiwa tidak terpuji ini terjadi di Debl, sebuah desa Kristen di Lebanon yang berjarak hanya beberapa kilometer dari perbatasan Israel. Salah seorang tentara dilaporkan memukul kepala patung Yesus dengan benda yang menyerupai palu godam, sementara tentara lainnya mengabadikan aksi tersebut melalui kamera.
Insiden ini memicu kemarahan publik setelah foto-foto perusakan muncul secara daring pada Minggu (19/4/2026). Warga Lebanon menuntut hukuman berat bagi para tentara yang terlibat.
Selain dua tentara yang dihukum penjara, enam tentara lainnya yang berada di lokasi kejadian dan membiarkan aksi tersebut terjadi tanpa melaporkannya, akan dikenakan sanksi terpisah. Hal ini diungkapkan oleh BBC pada Selasa (21/4/2026).
Tindakan yang Diklaim Pelanggaran Serius
New York Times melaporkan pada Selasa (21/4/2026) bahwa penegakan hukum militer yang cepat ini merupakan pengakuan tidak langsung atas kerusakan reputasi yang ditimbulkan oleh tentara Israel. Tindakan tersebut dikategorikan sebagai pelanggaran serius.
Dalam sebuah pernyataan resmi, IDF menegaskan, “Penyelidikan atas insiden tersebut telah menentukan bahwa perilaku para tentara sepenuhnya menyimpang dari perintah dan nilai-nilai IDF dan menyatakan penyesalan mendalam atas insiden tersebut.”
Desa Debl sebelumnya berada di bawah kendali militer Israel sebagai zona penyangga, sebelum gencatan senjata dengan Hizbullah berlaku pada akhir pekan lalu.
Para ahli menilai tindakan vandalisme ini mencerminkan ketidaktahuan serta meningkatnya sikap permusuhan terhadap umat Kristen di kalangan sebagian warga Yahudi Israel. Sebagian dari mereka memandang Kekristenan sebagai bentuk penyembahan berhala dan aktivitas penyebaran agama yang dianggap sebagai ancaman.
Permohonan Maaf dari Pejabat Tinggi Israel
Insiden ini juga mendapat respons dari pejabat tinggi Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Gideon Saar menyampaikan permohonan maaf mereka.
Militer Israel, dalam pernyataannya pada Selasa (21/4/2026), menyatakan penyesalan mendalam. Kepala staf mereka, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengecam insiden tersebut sebagai sebuah kegagalan moral.
Militer Israel tidak hanya mengganti patung Yesus yang rusak, tetapi juga telah memasangnya kembali pada Selasa malam. Patung baru yang kini berdiri menampilkan penggambaran Yesus di atas salib, dengan detail tulisan “I.N.R.I.” yang merupakan singkatan Latin untuk “Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi.” Patung sebelumnya yang tampak lebih sederhana kini digantikan dengan patung Yesus berwarna perak dan emas di atas salib cokelat kemerahan.






