Pasar Legi, Solo, menjadi saksi awal perjalanan Hilman Ramadhon (29) merangkai kembali hidupnya. Dua tahun lalu, sekitar pukul 04.00 WIB, pria asal Jakarta ini pertama kali melangkahkan kaki di pasar tradisional terbesar di Kota Solo itu. Mengenakan pakaian rapi, ia tak acuh pada pandangan heran para pedagang. Tujuannya kala itu hanya satu: memulai pekerjaan.
Sudah tiga bulan Hilman menetap di Solo, menumpang di rumah seorang rekan. Usahanya berjualan kopi gerobakan tak kunjung membuahkan hasil yang cukup untuk menafkahi anak dan istrinya. “Kalau kayak gini terus enggak cukup karena kami butuh makan, enggak mencukupi kebutuhan,” kata Hilman saat ditemui Kompas.com di rumahnya di Manahan, Solo, Selasa (21/4/2026).
Di Pasar Legi, ia menemui rekannya yang berprofesi sebagai penjual sayur. Pada hari itu juga, Hilman memulai perannya sebagai kurir sayur.
Titik Balik di Pasar Legi
Langkah pertamanya di Pasar Legi pagi itu menjadi titik balik tak terduga. Perjalanan baru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya pun dimulai.
Hilman lahir dan besar di Jakarta. Lingkungan masa kecilnya sempat membawanya ke dalam kehidupan punk sejak 2009. Sebelum hijrah ke Solo pada pertengahan 2024, ia sempat membuka kedai kopi di Jakarta selama lima tahun.
Keputusan pindah ke Solo diambil setelah melalui pertimbangan matang, apalagi keluarga dan kelima adiknya masih tinggal di Jakarta. “Awalnya pindah ke Solo karena keresahan ya, mau cari kerja bingung, Akhirnya, ya sudahlah, kami coba-coba hal-hal yang benar-benar yang aku enggak pernah kepikiran,” ujarnya.
Pria yang gemar mencoba pengalaman baru ini akhirnya memutuskan pindah ke Solo bersama istri dan anaknya, dengan tujuan utama menemui rekannya.
“Bulan pertama aku datang ke Solo, aku buka kopi gerobakan. Jualan di depan rumah. Jalan sekitar 3 bulan masuk musim hujan dan sepi. Dari situ, wah enggak hidup,” kenangnya.
Mencari pekerjaan lain, Hilman akhirnya menjadi kurir sayur. Sebagai pendatang, ia tidak menyangka ada peluang pekerjaan mengantar sayur dari rumah ke rumah. Selama dua bulan, ia tekuni profesi ini, mengambil sayur dari Pasar Legi dan mengantarkannya ke pelanggan. Pada bulan ketiga, Hilman memutuskan untuk menjadi supplier sayuran bersama temannya dan mendirikan “Depot Sayur Sejahtera”.
“Jadi aku sekarang lebih ke supplier sayuran ke resto, rumah tanggaan, dan katering,” tuturnya.
“Depot Sayur Sejahtera” dan Viralitas Tak Terduga
“Depot Sayur Sejahtera” kini menjadi unit usaha yang menopang hidup keluarga Hilman. Bisnis ini lahir dari pemikiran akan kebutuhan pokok masyarakat. “Kami awalnya kepikiran kalau kebutuhan utama kami apa sih sebenarnya? Oh, kebutuhan pangan, akhirnya kepikiran buat buka ini,” cerita Hilman.
Namun, perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Toko sayurnya sempat sepi pembeli, menyebabkan kerugian karena sayuran tak terjual dan terpaksa dibuang. Hilman sempat dilanda kebingungan, namun tidak menyerah.
Strategi baru pun dijalankan. Hilman mulai fokus mempromosikan dagangannya melalui media sosial. Bersama rekan punk-nya, Hafid (22), yang akrab disapa Kipli, ia membuat video keseharian mereka. Kipli tampil otentik layaknya anak punk, lengkap dengan jaket kulit, celana ketat, sepatu boots, aksesori khas, dan potongan rambut mohawk berwarna merah.
Keunikan konten tersebut sontak membuat video buatan Hilman dan Kipli viral. Perlahan, pelanggan mulai mengenal “Depot Sayur Sejahtera” dan tak sedikit yang memesan langsung melalui pesan pribadi untuk diantar ke rumah.
“Swasembada Punk-an” Mengubah Stigma
Setelah viral, masyarakat lebih mengenal “Depot Sayur Sejahtera” dengan sebutan “sayuran punk“, merujuk pada penampilan Kipli yang selalu khas. “Sekarang banyak yang melabeli sayur punk, ya udahlah kami jalan aja,” ucap Hilman.
Hilman tidak merasa tersinggung dengan label tersebut. Baginya, punk adalah bagian dari perjalanan hidupnya. Ia justru menggunakan istilah punk sebagai tagline usahanya: “swasembada punk-an”.
“Filosofi swasembada pangan itu karena aku sendiri dari awal memang pengen memanfaatkan kekuatanku sendiri, baik tenaga dan pikiran untuk membangun swasembada pangan,” jelasnya.
Melalui tagline ini, Hilman berupaya mengubah stigma masyarakat terhadap anak punk. Ia mengaplikasikan nilai-nilai punk, seperti motto “Do It Yourself” (DIY), ke dalam bisnisnya. Filosofi hidup ini sejalan dengan sikap tanggung jawab atas diri sendiri, yang menjadi fondasi Hilman dalam membangun usaha “swasembada punk-an”.
“Di situ aku mencoba membuktikan kalau anak punk yang selalu dipandang malas, problematic, itu ada kok yang mau bekerja, mau usaha untuk dirinya sendiri,” ungkapnya, menunjuk dirinya dan Kipli sebagai bukti nyata.
Kini, “Depot Sayur Sejahtera” telah menyuplai berbagai restoran, katering, dan kebutuhan rumah tangga. Permintaan yang tinggi menghasilkan omzet yang signifikan. “Kalau kisaran 1 bulan omset itu bisa Rp 50-70 juta lah. Tapi bisa lebih sih, tergantung ramai enggaknya,” kata Hilman.
Penghasilan tersebut tidak hanya cukup untuk menghidupi anak dan istrinya, tetapi juga Kipli, satu-satunya pegawai yang membantunya setiap hari.






