Global

Saling Ancam Jelang Gencatan Senjata, Iran Klaim Punya “Kartu Baru” di Medan Perang

Advertisement

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam menjelang berakhirnya gencatan senjata yang rapuh. Kedua negara saling melontarkan ancaman di tengah upaya diplomasi yang masih belum menunjukkan titik terang.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperkeruh suasana dengan mengkritik Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di media sosial pada Selasa (21/4/2026). Ghalibaf menuduh Trump menerapkan blokade dan melanggar gencatan senjata, serta mencoba mengarahkan perundingan menjadi “meja penyerahan diri” atau pembenaran provokasi perang.

“Dengan memberlakukan blokade dan melanggar gencatan senjata, Trump ingin mengubah meja perundingan menjadi meja penyerahan diri atau membenarkan kembali provokasi perang,” tulis Ghalibaf di X, seperti dikutip Iran International.

Di tengah situasi yang memanas, Iran mengklaim telah menyiapkan strategi baru atau “kartu baru” yang akan digunakan di medan perang jika konfrontasi terbuka dengan Amerika Serikat dan Israel kembali pecah. Langkah ini diambil seiring mendekatnya akhir masa gencatan senjata yang masih diselimuti ketidakpastian.

Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman. “Iran telah bersiap untuk menunjukkan kartu baru di medan perang dalam dua minggu terakhir dan tidak akan menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman,” ujarnya, seperti dilaporkan BBC.

Prospek Negosiasi dan Ketegangan Regional

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah berada di bawah tekanan untuk mencapai kesepakatan. Peluang perpanjangan gencatan senjata selama dua pekan antara AS dan Iran yang akan berakhir pada Rabu (22/4/2026) dinilainya sangat kecil.

Ketegangan di kawasan Teluk masih berlanjut dengan blokade AS di Selat Hormuz, menyusul penyitaan kapal kargo berbendera Iran pada Minggu (19/4/2026). Kedua pihak saling menuduh telah melanggar kesepakatan.

Di tengah kompleksitas ini, putaran kedua perundingan antara Israel dan Lebanon direncanakan berlangsung pada Kamis (23/4/2026), menurut seorang pejabat Amerika Serikat.

Advertisement

Prospek pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran dinilai masih jauh dari menghasilkan kesepakatan final. Kepala eksekutif Meyer Resources, Cornelia Meyer, berpendapat bahwa hasil paling realistis dari perundingan di Islamabad hanyalah kesepakatan awal atau peta jalan diplomatik, bukan perdamaian permanen. Ia membandingkannya dengan proses panjang kesepakatan nuklir Iran yang membutuhkan lebih dari dua tahun negosiasi sebelum mencapai kerangka awal pada 2015.

“Mengharapkan penyelesaian perdamaian yang nyata adalah hal yang terlalu berlebihan,” ujar Meyer.

Sejumlah laporan media menyebutkan Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi ke Pakistan pada Selasa (21/4/2026) untuk melanjutkan pembicaraan, didampingi pejabat dari Dewan Keamanan Nasional, Departemen Luar Negeri, dan Pentagon.

Tantangan di Meja Perundingan

Namun, posisi Amerika Serikat dalam perundingan tersebut diperkirakan tidak sepenuhnya diunggulkan. Mantan diplomat senior AS, Alan Eyre, menilai tim negosiasi Iran memiliki pengalaman dan penguasaan isu yang lebih kuat.

Eyre menggambarkan delegasi Iran sebagai tim profesional yang “menguasai bidangnya”, sementara AS dinilai belum memiliki tingkat keahlian yang setara dalam negosiasi internasional saat ini. Ia menegaskan bahwa tanpa tim ahli yang solid dan dapat dipercaya, posisi AS akan sulit.

Menurut Eyre, hasil paling realistis dari pembicaraan ini adalah kesepakatan prinsip umum serta kemungkinan perpanjangan gencatan senjata, bukan penyelesaian menyeluruh.

Isu material nuklir Iran tetap menjadi titik krusial dalam perundingan. Klaim Trump sebelumnya bahwa Iran telah setuju memindahkan cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke AS langsung dibantah oleh pihak Teheran hanya beberapa jam kemudian.

Advertisement