BANDUNG, KOMPAS.com – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat, Purwanto, menyatakan sebanyak 3.823 tenaga honorer di lingkungan sekolah belum menerima gaji untuk bulan Maret dan April 2026. Para tenaga honorer ini meliputi guru, staf tata usaha (TU), petugas kebersihan, hingga tenaga keamanan.
Purwanto mengungkapkan bahwa keterlambatan pembayaran gaji ini disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah daerah dalam mencairkan anggaran. Situasi ini membuat nasib para tenaga honorer menjadi tidak pasti, meskipun mereka tetap menjalankan tugasnya sehari-hari di sekolah.
“Jumlahnya 3.823, ada guru ada TU, keamanan dan kebersihan,” ujar Purwanto saat ditemui di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, kendala pencairan anggaran ini berakar dari adanya surat edaran dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB). Surat edaran tersebut melarang pengalokasian anggaran untuk tenaga honorer pasca-seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), baik yang berstatus penuh waktu maupun paruh waktu.
“Jadi kita belum bisa membayarkan gajinya karena terbentur edaran Menpan RB,” tegas Purwanto.
Kondisi ini telah berlangsung selama dua bulan terakhir, dan hingga kini belum ada kepastian kapan gaji para tenaga honorer tersebut akan dapat dibayarkan. Meskipun demikian, Disdik Jabar memastikan bahwa upaya pencarian solusi terus dilakukan agar hak-hak para tenaga honorer tetap terpenuhi tanpa melanggar peraturan yang berlaku.
“Solusinya lagi dicari saran nanti seperti apa sarannya. Yang jelas mereka sudah bekerja dan sekolah juga membutuhkan, kita cari skema pembayarannya seperti apa,” tuturnya.
Pemetaan Tenaga Honorer dan Optimalisasi
Di samping itu, Disdik Jabar juga tengah melakukan pemetaan terhadap tenaga honorer untuk meninjau distribusi dan beban kerja di masing-masing sekolah. Hasil pemetaan awal menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga pengajar saat ini telah memiliki jam mengajar yang tinggi.
“Sambil kita lihat yang kekurangan beban kerja, tapi rata-rata sudah di atas 24 jam mengajar,” jelas Purwanto.
Terkait dengan penerimaan tenaga baru, Purwanto menegaskan komitmen Disdik Jabar untuk memprioritaskan optimalisasi tenaga honorer yang sudah ada sebelum membuka rekrutmen baru. Langkah ini diambil untuk memastikan tenaga kerja yang ada dimanfaatkan secara maksimal.
“Rekrutmen baru juga harus memikirkan yang sedang bekerja. Memaksimalkan dulu yang ini, kalau ini bisa dioptimalkan makin bagus,” pungkasnya.






