Global

Trump Klaim AS Tangkap Kapal yang Bawa “Hadiah” dari China untuk Iran

Advertisement

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa pasukan AS telah mencegat sebuah kapal yang membawa “hadiah” dari China untuk Iran. Penangkapan ini terjadi di tengah upaya Teheran untuk mengisi kembali persenjataan militernya selama periode gencatan senjata.

“Kapal itu membawa ‘hadiah’ dari China yang ‘tidak terlalu menyenangkan’,” ujar Trump kepada CNBC pada Selasa (21/4/2026). Ia menambahkan, “Saya sedikit terkejut,” seraya menyebutkan bahwa dirinya mengira telah memiliki kesepahaman dengan Presiden China Xi Jinping.

Trump tidak merinci lokasi penangkapan tersebut. Namun, AS sebelumnya telah menyita kapal Touska di Teluk Oman dan sebuah kapal lain yang terkait dengan Iran di kawasan Asia-Pasifik. Seminggu sebelum pernyataan ini, Trump mengumumkan bahwa Xi Jinping telah meyakinkannya bahwa tidak akan ada lagi pengiriman senjata dari China ke Iran.

Nasib Negosiasi AS-Iran Masih Tanda Tanya

Di sisi lain, nasib negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran hingga kini belum menunjukkan titik terang. Stasiun televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa belum ada delegasi Teheran yang berangkat ke Pakistan pada Selasa (21/4/2026).

Advertisement

“Sejauh ini, belum ada delegasi dari Iran yang berangkat ke Islamabad, Pakistan, baik itu delegasi utama maupun delegasi tambahan, primer maupun sekunder,” demikian laporan stasiun TV pemerintah, membantah pemberitaan yang menyatakan sebaliknya. Mengutip pejabat Iran yang enggan disebutkan namanya, stasiun televisi tersebut menambahkan bahwa kehadiran Iran dalam negosiasi bergantung pada perubahan sikap dan posisi Amerika Serikat.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menerima negosiasi yang dilakukan di bawah bayang-bayang ancaman. Ghalibaf merupakan tokoh berpengaruh di Iran dan pernah memimpin pembicaraan dengan AS dua minggu lalu.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan akan bertolak ke Pakistan apabila Iran menyetujui dimulainya putaran kedua perundingan. Seperti pada negosiasi sebelumnya, Vance akan didampingi oleh utusan khusus Presiden AS, Steve Witkoff, serta menantu presiden, Jared Kushner.

Advertisement